Membangun Kekuatan Penangkal Guna Mencapai Pertahanan Negara

TNI AU

Pertahanan suatu negara dapat dicapai apabila negara bersangkutan memiliki suatu kekuatan penangkal yang teruji dan dapat digunakan setiap saat.

Filosofi dasar memiliki kekuatan penangkal adalah untuk mencegah timbulnya niatan jahat dari pihak-pihak lain yang ingin mengganggu atau bahkan meruntuhkan kedaulatan negara.

Berbicara tentang pertahanan negara saat ini, tentu saja tidak lepas dari aspek perang modern di mana teknologi memainkan peranan yang sangat besar. Teknologi di sini bersifat hardware dan software yang keduanya saling melengkapi.

Penyerangan terhadap pertahanan musuh dapat dilakukan secara senyap melalui ranah siber atau dikenal dengan cyber warfare. Juga dapat mengerahkan bermacam alutsista mutakhir untuk menghancurkan secara fisik kekuatan musuh.

Di luar kedua model tersebut, tentu saja harus diwaspadai bentuk serangan lain seperti pelemahan ekonomi, pelemahan budaya, pelemahan ideologi, hingga penyebaran pemahaman-pemahaman destruktif dengan mengatasnamakan perjuangan religi (jihad).

Menilik aneka karakteristik model ancaman yang timbul tersebut, maka sudah saatnya bagi kita untuk sepakat memahami bahwa pertahanan negara merupakan tanggung jawab bersama.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi alat negara, garda terdepan dalam mengemban tugas itu. Namun seluruh komponen bangsa tetap harus bergerak menyatukan langkah demi terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan kokoh.

Terintegrasinya ketiga matra TNI dalam menciptakan suatu kekuatan penangkal yang tangguh, mensyaratkan adanya keterpaduan dari ketiga angkatan bersenjata tersebut.

Perlu juga ditekankan di sini bahwa TNI tidak boleh terpecah belah oleh isu apa pun. TNI harus tetap menjunjung tinggi soliditas dan profesionalitasnya. TNI juga harus imun dari iming-iming politis yang datang dari eksternal TNI.

Konflik Modern

Carl Richards

Belajar dari berbagai kasus peperangan besar di muka bumi, dapat ditarik suatu benang merah bahwa kekuatan udara memainkan peranan yang sangat besar sebagai kekuatan pemukul dan pembuka jalan bagi kekuatan lain.

Berdasar pemahaman itu, maka perlu ditinjau lebih jauh apa dan bagaimana kekuatan udara yang dimiliki negeri ini.

Kekuatan udara yang tangguh menghasilkan daya tangkal yang tinggi, baik dalam konteks pertahanan negara maupun dalam konteks pemeliharaan stabilitas keamanan kawasan.

Maka, apabila negara lain hendak berupaya merongrong kedaulatan negeri ini, sangat logis bila yang pertama kali dihitung dan di-olahyudha-kan adalah kekuatan udara negara kita.

Dengan kata lain, suatu pihak dapat mengurungkan niatnya untuk menyerang atau mengganggu pihak lain kalau hasil hitungannya setara atau bahkan di bawah lawannya.

Setelah itu, hitungan berikutnya adalah kekuatan matra lain. Indonesia yang berkarakteristik negara kepulauan, tentu yang akan dihitung lagi kekuatannya adalah kekuatan Angkatan Laut dan setelah itu Angkatan Daratnya.

Dalam kaitan dengan kekuatan udara di negara-negara kawasan, Indonesia tinggal melihat seberapa besar negara-negara lain memperkokoh kekuatan udaranya. Perlu dipahami misalnya, mengapa negara sekecil Singapura merasa perlu memiliki kekuatan udara yang sangat besar, bahkan dinilai melebihi kewajaran?

Kepemilikan pesawat-pesawat radar terbang (airborne early warning), pesawat tempur, tanker udara, kapal selam, maupun kapal perang permukaan, dan alutsista darat, menunjukkan bahwa Negeri Singa amat peduli dengan pertahanan dan keamanan negaranya.

Kemudian di belahan tenggara, Australia membangun kekuatan udara yang demikian besar pula sehingga bila diukur masih sulit untuk bisa kita imbangi. Negeri Kanguru melengkapi kekuatan udaranya dengan beragam jenis pesawat termasuk penempur generasi kelima, tanker, radar terbang, angkut strategis, dan sebagainya.

Di zona maritim pun sama, Australia menerapkan kebijakan menangkal segala bentuk ancaman secara dini. Negeri itu menegakkan hak untuk “mengamankan” dirinya dengan mengidentifikasi hal-hal yang dianggapnya sebagai sasara-sasaran mencurigakan sampai sejauh 1.000 mil laut dengan tidak memedulikan wilayah negara lain menjadi target mereka.

Mengapa Australia menerapkan aturan seperti itu? Karena ia memiliki kekuatan penangkal yang tinggi.

Maka bagi kita, untuk memiliki kemampuan tangkal yang tinggi, diperlukan respons yang relevan pula dari pemerintah dalam hal ini. Respons tersebut diharapkan mengarah pada dimilikinya kekuatan udara yang minimal relatif sama dengan kekuatan di sekeliling, demikian juga dengan kekuatan laut dan daratnya.

Dibutuhkan persamaan persepsi terlebih dahulu dari pihak-pihak terkait dan seluruh komponen bangsa ini. Bila tidak, maka perencanaan yang dibuat tidak akan selaras dengan kebutuhan utama membangun kekuatan daya tangkal untuk mencapai pertahanan negara yang diidamkan.

Mewujudkan kekuatan udara yang besar ditopang dengan kekuatan laut dan darat memang membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun, apabila dibandingkan dengan hasil yang didapat bagi keberlangsungan dan keamanan negara, maka akan sangat besar pula manfaat yang didapat.

Negara yang dikatakan aman dari gangguan musuh dapat menumbuhkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya. Selama pemahaman ini belum tercapai, sulit pula untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama. (RONI SONTANI | ANGKASAREVIEW.COM)

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

306 views