Jet Hitam di Atas Bagdad

F-117A | USAF

Perang Teluk 1991 (2 Agustus 1990 – 28 Februari 1991) menjadi neraka bagi Irak yang bertubi-tubi mendapat pukulan telak berupa serangan udara pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat. Salah satu pemukul hebat dari udara yang membuat jantung pertahanan Bagdad copot, tidak lain adalah jet hitam F-117A Nighthawk hasil kreasi Divisi “Skunk Work” Lockheed Martin, AS.

Saat dikerahkan dari basis rahasianya di Tonopah Test Range, Nevada pada 19 Agustus 1990, sebanyak 22 elang malam siluman terbang menuju Pangkalan Khamis Mushait di Arab Saudi. Mereka beristirahat semalam di Langley AFB, Virginia.

Kawanan jet hitam yang untuk pertama kali dikerahkan ke Perang Teluk tersebut berasal dari Skadron Tempur Taktis ke-415, Wing Tempur Taktis ke-37 pimpinan Letkol Ralph W. Getchell. Penerbangan 22 F-117A disertai oleh 12 tanker KC-135Q dari Beale AFB.

Keesokan harinya, tanker KC-10A dari March AFB turut bergabung memberikan dukungan. Dari 22 F-117A yang dikerahkan, nyatanya hanya 18 unit yang terbang ke Khamis Mushait. Sementara empat unit F-117A lainnya kembali ke markas.

Penerbangan menuju Khamis Mushait dari Langley AFB ditempuh selama hampir 15 jam nonstop. Hal ini secara tidak langsung membuktikan bahwa jet F-117A memiliki kemampuan tinggi untuk ditempatkan di berbagai penjuru dunia (global deployment capability).

Tanggal 2 Desember, Angkatan Udara AS kembali mengirimkan F-117A disusul 18 unit lagi keesokan harinya.

Tugas yang diemban oleh jet hitam F-117A dalam Perang Teluk adalah menghancurkan sistem pertahanan udara Irak, pusat komando, berikut pusat sistem komunikasinya.

Dalam penerbangan dari Khamis Mushait menuju Bagdad sejauh 650 mil laut, F-117A menjatuhkan bom pertamanya sekaligus sebagai pembuka Perang Teluk pada 17 Januari 1991 pukul 2:51. Dalam pengeboman itu, F-117A berhasil melumpuhkan jembatan, pusat senjata kimia, nuklir, dan bilogi.

1.271 sorti

F-117A | USAF

Dalam kiprahnya di Perang Teluk I, F-117A total melaksanakan 1.271 sorti penerbangan. Penerbangan dari Khamis Mushait menuju Bagdad merupakan penerbangan terberat, mengingat ibu kota Irak tersebut dijaga oleh 3.000 pucuk senjata artileri dan 20 situs rudal darat ke udara jarak menengah (SAM).

Lebih dari 2.000 bom berpemandu laser GBU-27 Paveway III berbobot 2.000 pon berhasil dimuntahkan dari perut F-117A dalam Operasi Badai Gurun tersebut. Bom standar F-117A itu digenapi dengan bom MK 84 HE atau BLU-109 penetrator warhead maupun bom GBU penetrator warhead. Alternatif lainnya adalah bom GBU-10 dan Paveway II seeker head.

Masing-masing pilot F-117A melaksanakan misi operasi rata-rata 21 kali bahkan ada yang hingga 42 kali. Angka ini memang rendah dibandingkan misi yang dilaksanakan pesawat-pesawat lain. Akan tetapi, misi F-117A memakan waktu yang panjang hingga 5,5 jam dan dilakukan pada malam hari.

Saat melakukan penyerangan terhadap Bagdad, F-117A hanya mengudara 30 menit saja. Bila dilanjutkan ke Tikrit dan Mosul, maka rata-rata penerbangan di atas Irak menjadi 45 menit.

Perangkat navigasi internal (INS) di F-117A memiliki akurasi yang tinggi sekali. Pilot juga menggunakan perangkat FLIR (forward-looking infra-red) untuk menandai target, lalu menjejak, dan melepaskan bom. Setelah itu pilot  menggunakan downward-looking infra-red/laser turret.

Dalam kancah Perang Teluk I, tidak dilaporkan adanya F-117A yang terdeteksi serius sistem pertahanan udara Irak. Sistem pelacak infra merah Irak mungkin saja mendeteksi kehadiran sang elang malam, namun lapisan keramik “platypus” telah mengurangi banyak tingkat panas dari semburan mesi pesawat itu dibanding pesawat konvensional.

Selain itu, warna hitam yang digunakan pesawat pun sangat menyulitkan musuh untuk mengenalinya. Apalagi, F-117A dioperasikan malam hari. Sampai-sampai pesawat tanker pun kesulitan melihatnya.

Melaksanakan misi berat di Irak, bagi komandan Getchell ada tiga hal yang penting. Pertama, efektivitas teknologi F-117A, kedua skil yang baik dalam pasukan koalisi, dan ketiga adalah semangat bangsa Amerika.

“Kami berharap bisa melaksanakan misi lainnya di belahan dunia lain,” ujar Getchell dalam perjalanan pulang menuju markasnya di Tonopah.

Jet hitam yang total dibuat hanya 64 unit itu, pada 22 April 2008 resmi dipensiunkan setelah mengabdi selama 25 tahun di jajaran Angkatan Udara AS (USAF). (RONI SONTANI | ANGKASAREVIEW.COM)

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

335 views