Sun. Jun 16th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

F-5E/F Tiger II, Macan Besi Penjaga NKRI (Bagian 6)

4 min read
Rangga Baswara Sawiyya

ANGKASAREVIEW.COM – Menjadi penerbang tempur itu merupakan kebanggaan tersendiri. Terlebih bisa terpilih untuk menerbangkan pesawat tempur baru dengan tingkat kecanggihan lebih tinggi dari pesawat pendahulunya. Mereka yang terpilih akan dikirim untuk menjalani pendidikan konversi dan bahkan hingga tahap pendidikan instruktur.

Demikian pula yang dialami tiga penerbang tempur Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi, Madiun. Ketiga penerbang F-86 Avon Sabre itu diberangkatkan ke Amerika Serikat guna belajar menerbangkan pesawat F-5E/F Tiger II yang dibeli pemerintah Indonesia menggantikan armada lama F-86 Avon Sabre hibah dari Australia.

Tiga personel yang ditunjuk untuk melaksanakan konversi pertama F-5E/F di Williams Air Force Base, Amerika Serikat tersebut adalah Mayor Pnb Holki Basah Kartadibrata (Komandan Skadron Udara 14), Mayor Pnb Budihardjo Surono, dan Kapten Pnb Zeky Ambadar.

Setelah menjalani pendidikan selama 85 hari, pada akhir Mei 1980 ketiga penerbang dinyatakan lulus dan meninggalkan Williams AFB untuk kembali ke Indonesia. Mereka menjadi penerbang dan instruktur angkatan pertama Konversi F-5.

Para penerbang yang telah berhasil menerbangkan F-5, selanjutnya mendapat sebutan Eagle. Eagle 00 digunakan oleh Komandan Skadron Udara 14 yang sedang menjabat, sehingga sebutan ini bisa digunakan bergantian sesuai siapa yang menjabat. Sedangkan nomor Eagle 01, 02, dan seterusnya disandang berdasarkan urutan dan kesepakatan lalu ditetapkan.

Dalam hal ini Letkol Pnb Holki Basah Kartadibrata menyandang sebutan Eagle 01 selain Eagle 00 (saat menjabat komandan skadron), kemudian Mayor Pnb Budihardjo Surono (Eagle 02), dan Kapten Pnb Zeky Ambadar (Eagle 03). Urutan ini terus berlanjut seiring bertambahnya lagi ‘Eagle-eagle’ baru di Skadron Udara 14.

Kehidupan di Skadron Udara 14 dilalui dengan suka cita. Termasuk di dalamnya adalah pendidikan penerbang-penerbang baru F-5 di dalam negeri. Tak terasa lima bulan berlalu hingga sampai pada tanggal 30 Oktober 1980.

Sobat AR, ada apa di tanggal itu? Pagi hari itu di Markas Wing 300 Kohanudnas, Madiun terlihat ada kesibukan. Rupanya pagi itu Wing 300 akan mendapatkan inspeksi dari Panglima Kohanudnas. Usai acara inspeksi, agenda berikutnya adalah Komandan Wing 300 Kolonel Pnb Rudi Taran akan terbang menggunakan F-5F bersama dengan Mayor Pnb Bdihardjo Surono. Hal ini telah disusun sehari sebalumnya dalam agenda kegiatan hari itu oleh perwira operasi Skadron Udara 14.

Dalam tulisan terdahulu disebutkan, Rudi “Tarantula” Taran (Eagle 08) merupakan penerbang F-5E/F hasil didikan di dalam negeri dari Konversi IV F-5E/F bersama dengan Djoko “Beetle” Suyanto (Eagle 10), Toto “Ibex” Riyanto (Eagle 09), dan Ida Bagus “Agip” Sanubari (Eagle 11).

Dok. TNI AU

Tentang Rudi Taran, pria kelahiran Piru, Pulau Seram, Maluku, 6 Juni 1937 ini merupakan siswa Konversi F-5E/F tertua karena usianya saat itu sudah 44 tahun. Saat ia menjadi siswa konversi, Rudi Taran sebenarnya sudah menjabat sebagai Komandan Wing 300 Kohanudnas yang membawahi langsung Skadron Udara 14.

Rupanya, ia punya semangat yang besar, tidak mau kalah dengan para penerbang muda di Skadron Udara 14. Penerbang MiG-21F dan pelaku Operasi Dwikora ini pun ikut Konversi F-5 dan lulus serta menyandang sebutan kabanggaan Eagle 08.

Itulah sedikit latar belakang mengenai Kolonel Pnb Rudi Taran yang hendak terbang menggunakan F-5F bersama Eagle 02, Mayor Pnb Budihardjo Surono. Perlu dicatat pula, Kolonel Rudi Taran yang kemudian hari pensiun dengan pangkat Marsekal Muda (bintang dua) ini adalah penerbang tempur TNI AU pertama dari warga keturunan Tionghoa.

Sobat setia AR, kembali ke rencana penerbangan F-5 yang akan dilakukan Komandan Wing 300 bersama Eagle 02, ternyata hal itu batal dan bahkan tidak pernah terlaksana selamanya. Bukan karena apa, namun karena penerbang yang ditunggu-tunggu tidak pernah mendarat lagi di Lanud Iswahjudi. Di pagi itu Mayor Pnb Budihardjo Surono yang terbang menggunakan pesawat F-86 Avon Sabre gugur bersamaan dengan pesawat F-86 yang diterbangkannya jatuh di daerah perbatasan Wonogiri-Ponorogo.

F-86 Avon Sabre walapun sudah dinyatakan grounded, pesawat ini masih diterbangkan untuk latihan-latihan tertentu. Seperti pagi itu, ketika Skadron Udara 14 akan melaksanakan latihan pertempuran udara dengan dua jenis pesawat berbeda atau Dissimilar Basic fighter Maneuver (DBFM) antara F-86 melawan F-5. Maka, Avon Sabre pun dites terlebih dahulu performanya oleh Mayor Budihardjo “Bison” Surono, lulusan terbaik AAU 1968.

Dok. TNI AU

Penerbangan yang dilakukan oleh “Bison” terbilang sangat berbahaya, apalagi kondisi pesawat Avon Sabre yang sudah tua. Mayor Pnb Budihardjo Surono ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa dengan parasut mengembang di punggungya.

Kepingan-kepingan pesawat F-86 dengan nomor registrasi TS-8620 itu ditemukan dalam keadaan berserakan di tempat berjauhan. Dapat dipastikan, pesawat mengalami disintegrasi atau pecah di udara. (The Golden Moment of Tiger 25 Tahun Mengawal Bangsa – Djoko Suyanto, 2005)

Temuan tim investigasi mengindikasikan, TS-8620 yang tengah diuji performanya itu pecah di udara karena mengalami tekanan yang sangat besar akibat manuver dengan gaya gravitasi yang besar dan dalam kecepatan tinggi.

Kemungkinan besar, almarhum sedang menguji pesawat itu pada kecepatan tinggi, namun karena struktur pesawat sudah tidak memungkinkan lagi, pesawat pun mengalami patah pada bagian sayap. Dalam kecepatan laju tinggi tersebut, pesawat tidak terkontrol dan penerbang malakukan eject. Penerbang tidak mulus keluar dari pesawat dan beberapa bagian badannya membentur bagian pesawat. (Tentara Langit Pahlawan Hati – Yuyu Sutisna, 2002)

Sebelum menjadi penerbang tempur, almarhum Budihardjo Surono sempat tercatat sebagai mahasiswa Intsitut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Fisika tahun 1962 sampai 1965. Keputusannya meninggalkan bangku kuliah karena dunia militer khususnya TNI Angkatan Udara, menjadi panggilan jiwanya sejak kecil.

Setelah mengikuti seleksi, ia pun diterima di AAU tahun 1965 dan mendapatkan pendidikan penerbang di Rusia. Sekembalinya ke Tanah Air tahun 1968, ia menjadi perwira penerbang dengan pangkat Letnan Dua dan ditempatkan di Lanud Iswahjudi, Madiun. Selamat jalan “Bison”!

RONI SONTANI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *