Sat. Jun 15th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

F-5E/F Tiger II TNI AU, Macan Besi Penjaga NKRI (Bagian I)

3 min read
Rangga Baswara Sawiyya

ANGKASAREVIEW.COM – Skadron Udara 14, Wing Udara 3, Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur ibarat sedang terlelap tidur. Saat ini skadron udara yang dibentuk pada 1 juli 1962 itu berstatus tak memiliki pesawat tempur karena pesawat buru sergap F-5E/F Tiger II yang digunakan Skadron Udara 14 sejak 1980 telah dipensiunkan dua tahun lalu.

Pada 28 April 2016, armada F-5 TNI AU resmi melaksanakan penerbangan terakhir di Bumi Pertiwi melalui misi Simulated Surface Attack dengan sandi Phoenix Flight. Dua pesawat digunakan dalam kegiatan tersebut, yaitu TS-0216 yang diterbangkan Phoenix 1 Letkol Pnb Abdul Haris dan Phoenix 2 Mayor Pnb I Kadek Suta Arimbawa dengan TS-0516.

Indonesia membeli 16 F-5E/F Tiger II buatan Northrop Co. dari Amerika Serikat, terdiri dari 12 F-5E (kursi tunggal) dan 4 F-5F (kursi tandem/depan-belakang) yang sekaligus berfungsi sebagai pesawat untuk melatih siswa.

Hadirnya F-5E/F Tiger II di Indonesia pada 21 April 1980 disambut langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) saat itu Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi di Lanud Iswahjudi didampingi para pejabat Markas Besar Angkatan Udara (Mabesau).

F-5E/F diangkut menggunakan pesawat C-5A Galaxy milik Komando Angkut Udara Militer (Military Airlift Command) Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF). Satu per satu pesawat yang dibungkus plastik bening itu diturunkan dari perut Galaxy dalam keadaan sayap diurai terpisah dengan badannya. (The Golden Moment of Tiger 25 Tahun Mengawal Bangsa, Djoko Suyanto, 2005).

Mimpi besar TNI AU untuk memiliki pesawat buru sergap modern pada zamannya terwujud melalui kedatangan kawanan Sang Macan Besi. Sejak berakhirnya era MiG-21F (NATO: Fishbed) di Skadron Udara 14 pada awal era 1970-an, praktis TNI AU tidak memiliki lagi jet tepur supersonik sampai kedatangan F-5 yang berkecepatan maksimum 1,6 kali kecepatan suara ini.

Kehadiran armada F-5 juga membawa angin segar bagi para penerbang tempur TNI AU khususnya Skadron Udara 14. Karena, dengan pesawat yang dibeli dalam proyek bersandi Operasi Komodo sejak 1978 ini, mereka kembali bisa mengasah kemampuan taktik tempur udara (air-to-air tactics).

Dok TNI AU

F-5E/F Tiger II merupakan pesawat tempur modern yang telah dilengkapi rudal udara ke udara terbaik saat itu, AIM-9P Sidewinder. Rudal ini selanjutnya menjadi basis pengembangan rudal-rudal berpemandu inframerah yang lebih modern.

Sebelumnya, F-86 Avon Sabre produksi tahun 1950-an yang menjadi pengganti MiG-21F tidak dapat digunakan untuk latihan tersebut dikarenakan tidak dilengkapi dengan sistem senjata yang memadai. Bersamaan dengan kedatangan F-5, maka penggunaan F-86 TNI AU pun dipensiunkan melalui surat keputusan KSAU.

Delapan F-5E/F berjejer rapi di tepi landasan untuk kemudian ditarik ke hanggar teknik. Proses perakitan dilaksanakan oleh para teknisi F-5 dari Northrop dibantu teknisi TNI AU yang telah disekolahkan ke Amerika Serikat dalam program ini. Proses alih teknologi terjadi melalui perakitan pesawat buru sergap ini.

Hanya berselang satu minggu sejak kedatangannya, F-5 pertama milik TNI AU pun terbang perdana di langit Indonesia pada 28 April 1980 pukul 14.35 WIB. Pesawat kursi ganda dengan nomor ekor TL-0514 itu diterbangkan oleh pilot uji Northrop Kapten Bill Edward dan Kapten Tom Danielson.

Dok TNI AU

Penomoran TL (Tempur Latih) untuk pesawat F-5F berbeda dengan kode penomoran untuk pesawat F-5E yang menggunakan kode huruf TS (Tempur Sergap). Namun, kode TL sendiri hanya bertahan hingga tahun 2000, karena setelah itu kodenya diseragamkan menjadi TS.

Sobat Angkasa Review, kesuksesan perakitan dan penerbangan uji F-5E/F ini selanjutnya dilengkapi dengan kedatangan delapan pesawat F-5E/F berikutnya pada 5 Juli 1980. Genap sudah 16 pesawat F-5E/F Tiger II yang dibeli Pemerintah Indonesia hadir di Tanah Air.

Puncaknya, pada 5 Mei 1980 armada F-5E/F Tiger II TNI AU diresmikan kedinasannya sebagai pesawat buru sergap di Skadron Udara 14 oleh Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Yusuf. Berbeda dengan saat ini, kala itu Skadron Udara 14 berada di bawah naungan Wing 300 Kohanudnas.

RONI SONTANI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *