Fri. May 24th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Update

MIAS dan MORAS, Ranpur Aneh Peninggalan Italia

2 min read
Tank Encyclopedia

ANGKASAREVIEW.COMMotomitragliatrice blindata d’assaulto atau disingkat MIAS adalah kendaraan tempur yang lahir dari pengalaman tempur negara Italia saat Perang Dunia I. Pada masa itu penembak senapan mesin sama sekali tidak mendapat perlindungan yang memadai ketika menembak, sehingga lahirlah MIAS dan MORAS yang menyediakan pelindung dinamis bagi para kru penembak mesin dan mortar.

Pada dasarnya MIAS bukanlah sebuah tank, melainkan kendaraan lapis baja. MIAS diawaki oleh satu orang kru, ditenagai oleh mesin tunggal Frera 250cc berbahan bakar bensin yang mampu mengeluarkan tenaga sebesar 5 Hp dan kecepatan maksimal mencapai 5 km/jam. MIAS mengambil basis mesin dari motor sport Frera. Ranpur ini dibuat oleh pabrikan Ansaldo pada tahun 1935.

Tank Encyclopedia

Sebagai kendaraan tempur lapis baja, MIAS dilengkapi perlindungan yang mampu menahan impak senapan Mauser SMK kaliber 7.92. Mauser sendiri merupakan senapan yang sangat ditakuti pada masa itu karena kemampuannya menembus kulit tank.

MIAS memiliki dudukan (mounting) untuk dua senapa mesin Isotta-Fraschini yang memiliki sudut penembakan 14 derajat serta daya tampung amunisi mencapai 1.000 peluru.

Italia sempat mengembangkan kendaraan tempur mini ini hingga dua jenis prototipe, MIAS dan MORAS. Berbeda dengan MIAS, MORAS (Moto-mortaio blindato d’assaulto) dilengkapi mortar kaliber 45mm dengan kapasitas tampung peluru mencapai lima buah. Mortar ini dikembangkan oleh Tempini pada tahun 1932.

Tank Encyclopedia

Baik MIAS ataupun MORAS merupakan alutsista yang sangat aneh. Ukurannya sangat kecil namun mengakomodir persenjataan berat.

Para awak yang ditugaskan untuk mengoperasikan MIAS maupun MORAS sangatlah tersiksa, karena tidak tersedianya tempat duduk bagi awaknya. Perlindungan pun terhitung tidak memadai untuk laga di medan tempur terbuka. Sehingga, MIAS ataupun MORAS sama sekali tak pernah mencicipi medan laga yang sesungguhnya di Perang Dunia ke II. JULIUS RENDY NUGROHO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *