Wed. Jul 10th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Pesawat Angkut Militer Kawasaki C-2 Cari Peruntungan di Paris Air Show 2019

3 min read
Kawasaki C-2Aussiepomm

AIRSPACE REVIEW (AngkasaReview.com) – Kawasaki C-2 mulai digunakan oleh Angkatan Udara Jepang (JASDF) melalui masa uji operasi pada 2016. Pesawat angkut militer generasi kedua Negeri Matahari Terbit ini merupakan penerus Kawasaki C-1 yang telah mengabdi sejak tahun 1970-an. C-2 juga diproyeksikan untuk menggantikan pesawat C-130 Hercules.

Pesawat yang dalam awal pengembangannya menggunakan kode XC-2 dan C-X ini merupakan salah satu wujud keseriusan Jepang mengembangkan pesawat buatan dalam negeri.

Pengembangan C-2 telah dirintis jauh-jauh hari yaitu pada 1995. Saat itu JASDF mengusulkan kepada Badan Pertahanan Jepang (JDA) untuk membiayai pengembangan pesawat angkut militer C-X.

Sejumlah dasar pertimbangan dikemukakan. Antara lain JASDF tidak menemukan pesawat buatan luar negeri yang cocok untuk menggantikan peran C-1. Pertimbangan lainnya, tentu saja untuk mendorong industri dirgantara dalam negeri tumbuh.

Usulan JASDF selanjutnya mendapat dukungan JDA dengan membentuk tim perumus di tahun 2000. Sejumlah parameter pesawat sesuai kebutuhan JASDF dipetakan. Antara lain, pesawat penerus C-1 harus memiliki kapasitas angkut dua kali lipat dari kapasitas angkut C-130 dan mampu terbang menjangkau wilayah Hawaii dari daratan Jepang.

Istimewa

Upaya mewujudkan pesawat baru sesuai kebutuhan JASDF pun terlaksana saat prototipe C-2 berhasil terbang perdana 10 tahun kemudian yaitu pada 26 Januari 2010.

Tidak langsung berjalan mulus, tujuh tahun dibutuhkan oleh Kawasaki Aerospace Company sebelum pesawat ini dinyatakan resmi beroperasi di jajaran JASDF. Sejak Maret 2017, tiga unit C-2 telah dioperasikan oleh Skadron Angkut Udara Taktis ke403 di bawah naungan Wing Udara Taktis ke-3.

JASDF kini mengoperasikan sedikitnya enam unit C-2 dan memproyeksikan memiliki sedikitnya 40 C-2 apabila anggaran pertahanan mengizinkan.

Selain untuk mengisi kebutuhan di dalam negeri, Jepang juga membuka peluang bagi pesawat  yang ditenagai dua mesin General Electric CF6-80C2K1F ini untuk mengisi pasar internasional.

Promosi pun mulai dilakukan dengan diikutsertakannya C-2 dalam pameran Dubai Airshow pada November 2017. Setahun kemudian, C-2 juga ikut dalam pelaksanaan Royal International Air Tatto pada Juli 2018.

Kawasaki C-2
AIN

Awal tahun ini yaitu pada Februari 2019, C-2 juga tampil debut dalam pameran Australian International Airshow. Sasaran yang dituju di antaranya adalah menawarkan pesawat ini kepada Angkatan Udara Selandia Baru (RNZAF) sebagai pengganti armada C-130H.

Namun rupanya, C-2 masih harus berjuang lebih keras lagi karena Selandia Baru menjatuhkan pilihan kepada C-130J-30 Super Hercules buatan Lockheed Martin.

Kehadiran C-2 nomor pesawat 209 atau pesawat seri produksi ke-7 (dua lainnya adalah prototipe) di Paris Air Show (PAS) 2019 pada 17-23 Juni, selain untuk mencari calon pengguna, juga untuk menunjukkan kemajuan industri dirgantara Jepang.

Ke PAS 2019, Jepang mengirim dua pesawat produksinya. Terdiri dari C-2 dan pesawat patroli maritim Kawasaki P-1 yang ditenagai empat mesin turbofan buatan dalam negeri IHI Corporation F-7. Kedua pesawat dengan cat yang sama berdiri berdampingan. P-1 dioperasikan oleh Angkatan Laut Jepang (JMSDF).

Max Kingsley-Jones/Flightglobal

Sebagai pesawat baru, C-2 terbilang sudah merambah banyak tempat di dunia. Pesawat ini telah ditugaskan JASDF ke Pangkalan Udara Jepang di Djibouti, Afrika pada November 2017.

Tidak hanya memproduksi C-2 sebagai platform pesawat angkut, C-2 juga sedang dalam pengujian untuk menjadi pesawat pengumpul informasi intelijen elektronik. Kawasaki menggunakan pesawat prototipe C-2 nomor dua untuk proyek RC-2 di Gifu Air Base.

Melihat tampilannya, Kawasaki C-2 yang menggunakan desain sayap tinggi dan model ekor T (T-Tail) ini mirip dengan desain pesawat angkut lain seperti Airbus A400M, Antonov An-70, maupun Embraer KC-390.

Dari sisi kapasitas muatan, C-2 memiliki daya angkut 36 ton. Terpaut tipis dengan A400M yang 37 ton. Sementara kapasitas KC-390 berada di bawahnya yaitu 23 ton dan An-70 di atasnya yaitu 47 ton.

RC-2
MASA

C-2 diawaki tiga kru, terdiri dari dua pilot dan satu juru muat (load master). Pesawat dengan panjang 43,9 m, tinggi 14,2 m, dan rentang sayap 44,4 m ini memiliki bobot terbang maksimum (MTOW) 141.400 kg.

Pesawat mampu terbang dengan kecepatan jelajah 0,8 Mach (890 km/jam) dan menjangkau jarak sejauh 7.600 km dengan muatan 20 ton.

Jarak terbang feri yang dapat dicapai adalah sejauh 9.800 km. Sementara ketinggian terbang maksimum hingga 12.200 km (40.000 kaki).

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *