Thu. Jul 11th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Pesawat Masih Baru, Mengapa Jatuh?

3 min read
Lion AirIstimewa

ANGKASAREVIEW.COM – Ketika pesawat yang sudah tua dan populasinya sudah semakin jarang lalu jatuh dalam suatu penerbangannya, ada “alasan” bagi sebagian besar orang untuk mengatakan pesawat tersebut sudah tidak layak terbang.

Lalu bagaimana dengan pesawat yang masih baru, yang telah dijamin kelayakan terbangnya oleh pihak pabrikan dan telah melalui serangkaian uji yang kemudian dinyatakan laik terbang oleh regulator, namun juga jatuh dalam penerbangannya? Kita tentu bertanya-tanya.

Mencari penyebab jatuhnya suatu pesawat dalam penerbangan, sejatinya tidak bisa dilakukan dengan cara menduga-duga dan menyimpulkan secara terburu-buru. Banyak prediksi para pengamat yang melenceng jauh dalam menduga penyebab jatuhnya pesawat. Karena ternyata, seringkali apa yang terjadi di pesawat benar-benar di luar semua dugaan-dugaan.

Jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor pada Mei 2012 lalu adalah contohnya. Penyebab jatuhnya pesawat ini benar-benar baru dapat diketahui setelah tim investigasi membaca dan mendengarkan dua kotak hitam, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Dan itu semua di luar dugaan banyak orang.

Mungkin tidak perlu dibeberkan terlalu jauh di sini apa penyebabnya, karena pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pun telah menyampaikan semua hasil investigasi dari musibah tersebut yang bisa kita telusuri ulang di internet.

Meski demikian, perlu digarisbawahi bahwa tidak ada penyebab tunggal dalam suatu kecelakaan pesawat. Banyak faktor berkontribusi. Oleh karena itu, dalam istilah penerbangan dikenal istilah the most probable cause, atau penyebab paling mungkin dari suatu kecelakaan pesawat.

Hasil tim investigasi dari suatu kecelakaan pesawat, itulah yang kemudian dijadikan sebagai suatu landasan dan rekomendasi bagi keselamatan penerbangan selanjutnya. Tujuannya, agar kecelakaan serupa tidak terjadi lagi. Faktor-faktor yang diketahui sebagai penyebab dari suatu kecelakaan pesawat ini, kemudian dijadikan suatu rumusan yang harus dibenahi dan selanjutnya dipedomani regulasi-regulasi baru yang dikeluarkan oleh pihak regulator.

Tentang pesawat Boeing 737 MAX 8 nomor penerbangan JT 610 milik Lion Air yang jatuh di perairan Tanjung Karawang dengan 189 orang di dalamnya pada Senin (29/10/2018) pukul 06.33 WIB, juga yang harus didapatkan tim investigasi adalah dua kotak hitam pesawat ini, CVR dan FDR.

Bahwa adanya permintaan pilot dengan pengalaman 6.000 jam terbang kepada petugas air traffic control (ATC) untuk return to base(RTB) ke bandara tempat lepas landas pesawat ini yaitu Bandara Internasional Soekarno-Hatta sesaat sebelum jatuh, merupakan petunjuk awal telah terjadi sesuatu di pesawat sehingga pilot merasa tidak bisa melanjutkan penerbangannya atas dasar pertimbangan keselamatan.

Dalam kondisi darurat harus menghadapi situasi yang tidak normal dalam penerbangannya, pilot akan berkoordinasi secara cepat dengan kopilot dan kemudian mengambil suatu keputusan yang cepat pula. Keputusan-keputusan itulah, yang otomatis terekam dalam FDR dan CVR.

Sebagaimana diberitakan, B737 MAX 8 dengan registrasi PK-LQP adalah pesawat baru buatan Boeing, Amerika Serikat. Pesawat yang sekaligus menjadi andalan Boeing di kelas pesawat komersial badan sempit ini baru dioperasikan Lion Air sejak 15 Agustus 2018. Artinya baru 2,5 bulan dioperasikan. Kembali ke pertanyaan semua, mengapa pesawat baru bisa jatuh?

Banyak pesawat-pesawat baru, yang justru jatuh di awal-awal masa pengoperasiannya. Entah itu dalam masa uji coba, maupun setelah masuk layanan dinas. Hal ini terjadi di penerbangan sipil maupun penerbangan militer. Produk pesawat militer, tak terkecuali. Bahkan yang terbaru, jet tempur F-35 yang dikatakan sangat canggih pun jatuh.

Yang ingin disampaikan di sini, sekali lagi adalah, bukan lantaran pesawat sudah tua atau masih baru sebagai penyebab jatuhnya pesawat dalam penerbangan. Melainkan, seperti dikatakan di awal, banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Faktor-faktor itu sangat luas. Dahulu kita mengenal istilah man, media, machine, maintenance, management, atau m lainnya yang kini dikembangkan pada lingkup yang lebih baru seperti masalah human factor maupun safety management systems.

Fakta-fakta dari log book pesawat, baik dalam pengoperasian maupun pemeliharaannya, menjadi sangat penting untuk diketahui. Dari sini kita bisa menelusuri rekam jejak pesawat tersebut. Semua dari kita, terutama pihak-pihak terkait, tentu dituntut harus jujur. Karena kalau tidak, dengan menutup-nutupi fakta sebenarnya, musibah serupa tidak mustahil bisa terjadi lagi dan itu sangat tidak kita harapkan bersama.

Sekarang, kita tidak perlu mencari “kambing hitam”, karena tanggung jawab terhadap keselamatan penerbangan sebagai moda transportasi yang sangat cepat dan sangat dibutuhkan ini, merupakan tanggung jawab kita bersama.

Pihak pabrikan, Boeing, sebagai pembuat seri 737 MAX 8, pastinya ikut berkepentingan juga untuk mengetahui penyebab-penyebab jatuhnya PK-LQP yang merupakan pertama kali produk 737 MAX 8 jatuh dalam pengoperasian oleh operator pengguna pertamanya (launch customer). Mereka pun tentunya akan mengirim tim investigasinya ke Indonesia.

(RON)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *