Thu. Jul 11th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Misteri RTB dan Jatuhnya Pesawat Boeing 737 MAX 8 Penerbangan JT 610 Lion Air

3 min read
Lion AirIstimewa

ANGKASAREVIEW.COM Return to Base (RTB) atau kembali ke pangkalan, permintaan ini lazim diminta oleh pilot kepada petugas pengatur lalu lintas udara (ATC) apabila pesawat yang diterbangkannya mengalami suatu masalah dan pilot berkeputusan harus segera kembali ke bandara awal untuk mendarat secepatnya.

Ini pula yang terjadi pada pesawat Boeing 737 MAX 8 Penerbagan JT 610 Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta ) – Pangkal Pinang (Bandara Depati Amir), Senin (29/20/2018). Pilot Bhvye Suneja asal India yang telah membukukan 6.000 jam terbang didampingi kopilot Harvino dengan pengalaman 5.000 jam terbang, meminta untuk RTB kepada ATC Soekarno-Hatta beberapa menit setelah PK-LQP yang mereka awaki mengudara dari Soekarno-Hatta (CGK).

PK-LQP terbang meninggalkan CGK pada pukul 06.20 WIB. Sebanyak 189 orang termasuk awak pesawat dan penumpang berada di dalam pesawat brand new yang baru dioperasikan Lion Air selama dua bulan itu. MAX 8 merupakan seri terbaru B737 yang dibuat oleh pabrik Boeing, Amerika Serikat. Pesawat ini merupakan pesawat unggulan Boeing di kelas badan sempit (narrow body).

Pukul 06.33 WIB atau 13 menit setelah mengudara, tiba-tiba JT 610 yang meminta RTB kepada ATC hilang kontak pada koordinat 05 48.934 South 107 07.384 East. Sejak saat itu, informasi hilangnya kontak ini menyebar.

Pukul 10.00 WIB Kepala BNPP (Basarnas) Marsdya TNI M. Syaugi melakukan konferensi pers di kantornya, Kemayoran, Jakarta Pusat dan menyatakan bahwa pesawat Lion Air JT 610 dinyatakan jatuh.

Dijelaskan, tim Basarnas telah menemukan posisi jatuhnya pesawat dan menemukan sejumlah puing dan barang-barang yang diduga kuat berasal dari pesawat tersebut.

Jatuhnya PK-LQP juga sempat diketahui oleh Kantor SAR Tanjung Priok melalui info dari VTS pukul 07.05 bahwa kapal Tug Boat AS Jaya 11 pada posisi koordinat 05 49.727 S -107 07.460 E dengan Heading 40 derajat timur laut, Tanjung Karawang.

Sementara itu, Manager Humas AirNav Indonesia Yohanes Sirait mengatakan, JT 610 jatuh beberapa menit setelah lepas landas. Kontak terakhir, kata dia, berada di posisi 12 mil di atas wilayah Jakarta.

Hingga sore ini, Basarnas dan tim SAR lainnya belum menemukan bangkai pesawat yang diperkirakan tenggelam di dasar perairan dengan kedalaman 35-40 meter. Baru puing-puing saja yang berhasil ditemukan.

Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantono dalam keterangan tertulis kepada media menyatakan, PK-LQP JT 610 membawa 178 penumpang dewasa, satu penumpang anak-anak, dan dua bayi.

Di dalam penerbangan ini terdapat tiga pramugari Lion Air yang sedang melaksanakan pelatihan serta satu teknisi. Sementara enam awak kabin yang bertugas adalah Shinta Melina, Citra Noivita Anggelia, Alviani Hidayatul Solikha, Damayanti Simarmata, Mery Yulianda, dan Deny Maula.

CEO Lion Air Edward Sirait menjelaskan, Lion Air telah mengoperasikan 11 pesawat Boeing 737 MAX 8, termasuk PK-LQP yang diketahui jatuh di Tanjung Karawang.

Menurut Edward, selama ini operasional B737 MAX 8 tidak pernah ada masalah. Pesawat seri ini bahkan sering digunakan oleh Lion Air untuk penerbangan ke Timur Tengah dengan waktu tempuh 8-9 jam sekali penerbangan.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan PK-LQP JT 610? Tidak seorang pun tahu hingga saat ini. Harapan diketahuinya penyebab jatuhnya pesawat ini adalah dengan menemukan kotak hitam dan kemudian membaca plus mendengarkan data-data yang direkamnya.

Diizinkannya JT 610 untuk RTB sesaat setelah mengudara, tentu melalui percakapan antara pilot dengan petugas ATC. Pilot pastinya menyebutkan alasan mengapa ia minta RTB.

Setelah menerima permintaan untuk RTB, petugas ATC akan mengatur ulang lalu lintas udara dan memberikan prioritas bagi mendaratnya pesawat yang tengah menghadapi masalah. Terlebih di pagi hari termasuk jam sibuk penerbangan di Soekarno-Hatta.

Di lain pihak, pesawat yang baru lepas landas dengan bobot maksimalnya saat itu, tentu tidak bisa langsung mendarat karena batasan aman bobot lepas landas dan mendarat berbeda. Pesawat akan diminta untuk membuang bahan bakarnya terlebih dahulu guna mengurangi bobotnya. Baru setelah itu diizinkan mendarat.

Pada kondisi yang sangat darurat sekali, pilot akan mengambil keputusan terbaik dengan memperhitungkan segala kemungkinannya. Percakapan antara pilot dan ATC bisa membantu menjelaskan mengapa pilot minta RTB. Selebihnya, kita tidak tahu apa yang terjadi. Dan karenanya, menemukan kotak hitam adalah hal utama selain berupaya menyelamatkan jiwa para penumpang dan awak pesawat bila hal itu masih dimungkinkan.

Turut berbela sungkawa yang mendalam atas musibah ini dan kita semua tentu berharap semoga tidak terjadi lagi kejadian yang sama. Aamiin…

(RON)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *