Mengenal Sistem Kerja Pelatuk Pistol (Bagian 2 – DAO dan DAK)

US DoD

ANGKASAREVIEW.COM – Sobat AR, di luar Single Action/Double Actiontrigger action lain yang juga tak kalah populer (kendati secara kuantitas masih kalah) adalah Double Action Only (DAO). Pada pistol dengan trigger action ini proses kokangan harus selalu dilakukan pada setiap trigger pull. Dengan demikian, pistol DAO hanya memiliki satu macam beban tarikan pelatuk.

Konsistensi trigger pull ini merupakan keuntungan bagi penembak yang tak terbiasa dengan beban tarikan pelatuk berbeda, sehingga meski beban tarikan pelatuk DAO lebih berat dan panjang namun ada penembak yang justru merasa ‘sreg’ karena beban tarikan pelatuknya ya segitu-gitu saja.

Yang menarik, ada salah satu merek pistol yaitu SIG Sauer yang merilis varian alternatif DAO, yaitu yang dikenal dengan DAK (Double Action Kellerman).

Sesuai namanya, mekanisme trigger action ini dirancang oleh Harald Kellerman, salah seorang insinyur pabrikan SIG di Eckernforde, Jerman. Pada pistol keluaran SIG Sauer dengan  trigger action DAK terdapat “intermediate reset point yang posisinya kira-kira ada di tengah jarak tarikan pelatuk (trigger pull length).

Sesudah tembakan pertama, jemari pada pelatuk dikendurkan sehingga pelatuk bergerak mengayun lagi ke depan. Kala terasa (atau terdengar) klik (cukup lemah tapi pasti terasa oleh penembak), maka itu menandakan posisi tersebut sudah tercapai.

Saat itulah jemari penarik pelatuk menahan pelatuk itu lalu menariknya kembali. Pistol pun memasuki proses tembakan berikut, hanya saja dengan beban tarikan pelatuk atau trigger pull yang berbeda.

Kalau pelatuk dibiarkan mengayun terus hingga posisi “full reset” atau “rest position” (mengayun penuh ke depan ke posisi semula) dan selanjutnya pelatuk kembali ditarik, maka beban trigger pull jadi seperti semula selayaknya DAO.

Istimewa

Pada pistol SIG Sauer P226 DAK, trigger pull dari kondisi rest position adalah sekira 6,5 pon. Sedangkan yang dari posisi intermediate reset point adalah sekitar 8 pon. Sengaja trigger pull dari “posisi setengah tarikan pelatuk” itu dibuat lebih berat daripada tarikan pertama alias first trigger pull dengan alasan keamanan.

Boleh dikata, DAK adalah trigger action yang kompromistis dan ditawarkan SIG pada penembak yang mengeluhkan DAO terlalu “makan waktu” untuk tembakan cepat atau beruntun yang diperlukan saat situasi genting, namun kurang “sreg” dengan mekanisme DA/SA yang dipandang rentan tembakan tak sengaja (lantaran beban trigger pull selanjutnya yang lebih ringan).

Sobat setia AR, DAK yang juga disebut “double strike capability” ini bukannya tanpa kritikan. Tak sedikit yang mengeluhkan butuh latihan ekstra untuk membiasakan diri dengan mekanisme DAK di mana beban trigger pull-nya berkebalikan dengan DA/SA. Pada DA/SA tarikan pelatuknya berat dulu baru ringan, sementara pada DAK ringan dulu baru berat.

USMC

Beberapa pakar bahkan berani berargumen bahwa dalam situasi kepepet di mana mungkin saja penembak merasa gugup, DAK malah berpotensi membahayakan penembaknya sendiri kalau yang bersangkutan sudah telanjur lebih sering menembakkan pistol bermekanisme DA/SA.

Tapi dari semua argumen yang ada, saran resmi dari pabrikan SIG justru bisa membuat bingung bagi yang belum memahami filosofisnya. SIG menganjurkan pengguna pistol bermekanisme DAK buatannya agar pistol-pistol tersebut sebaiknya dioperasikan secara DAO.

Selidik punya selidik, fitur DAK dipandang amat berguna bagi penembak yang dulu sudah telanjur terbiasa menembakkan revolver, atau dengan kata lain penembak yang telanjur terbiasa dengan tembakan “short stroke”. Bagi penembak macam ini, mekanisme DAK seolah menjadi fitur “pengaman” lebih.

Antonius Karyanto K

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *