Mine Blast Test, Mengukur Kemampuan Prototipe Ranpur Dalam Menyelamatkan Kru (Bagian 2)

mine blast testkompas.com

ANGKASAREVIEW.COM – Windhu memaparkan, umumnya kru meniggal bukan karena kendaraannya (ranpur) yang rusak karena ledakan, tapi karena kendaraannya terbalik atau hentakan kompartemen disekitarnya. Kasus yang sering terjadi, kru tidak pakai seat belt, tak pakai helm, atau pengikat kendaraan (baut/webbing) belum terpasang dengan baik.

“Juga tertusuk senjata (senapan) yang dipegang. Ancaman modern (bagi ranpur) adalah ranjau. Artinya semua harus mengikuti prosedur agar kita tidak cedera kena ranjau,” sebutnya.

Sebuah pemahaman yang keliru bila tes dilakukan namun menginginkan kendaraan tersebut tetap gagah tanpa adanya perubahan fisik atau tidak rusak. Sekelas MBT Leopard pun menjalani uji dengan prosedur yang sama tetap tidak akan selamat, dalam arti roda rantai pasti putus.

pindadRon

“MBT Leopard sendiri diuji coba emang dia selamat? Enggak ada tank di dunia yang diuji coba pakai 3b dan 4d itu selamat, dalam hal ini track link. Semua track link itu kita kasih ranjau 10 kg (minimum) yang enggak ada proyektilnya, enggak pakai casing, pure TNT, track link sudah pasti putus,” tegasnya

Jadi Sobat AR, asumsi bahwa tank diuji ranjau, kena ledakan lalu masih bisa terus berjalan itu tidak pernah terjadi menurutnya.

Nah, sejatinya pengujian dengan TNT ini untuk mengetahui seberapa baik ruang kabin prototipe medium tank yang dibuat PT Pindad bersama FNSS Turki dalam memberikan keselamatan terhadap kru kabin, khususnya pengemudi. Itulah nilai standar yang ingin dilihat dari pengujian tempo lalu.

Pengujuan ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia, sementara di Turki sudah sering melakukan uji ledak ranjau seperti ini. Ranpur yang menjalani mine blast test itu prototipe kedua medium tank yang sepenuhnya dibuat di PT Pindad.

Baca Juga:

DSA 2018: Ranpur Turki Mencari Pasar Baru di Kawasan Asia Tenggara

Mengenal Komodo Berkulit Baja dari Bandung (Bagian 2; Evolusi Sang Reptil Purba)

Namun kalau sekadar menguji ranjau, ITB atau instansi lainnya sudah pernah melakukan tapi itu lebih ke arah akademis. Maksudnya, mereka melakukan uji hanya terhadap plat baja saja. Sedangkan pengujian dengan wujud kendaraan yang nyata baru kali ini saja dilakukan.

Sedikit menyinggung pelaksanaan mine blast test. Usai pengujian Dirut PT Pindad Abraham Mose mengaku bangga dengan dilangsungkannya uji ledak ranjau tersebut. Menurutnya, hasilnya uji sangat menggembirakan karena tank ini sudah mengalami perbaikan-perbaikan dari uji coba ledak pertama dan kedua di Turki. Setelah mine blast test, prototipe 2 medium tank ini akan melanjutkan dengan uji lintas.

Sementara itu, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagja mengatakan bahwa secara kasat mata uji tersebut dapat dikatakan berhasil. Tujuan tes itu untuk memastikan tidak terjadi kerusakan terhadap struktur ranpur.

Ia menyebutkan, medium tank ini masih akan diteliti untuk mengetahui tingkat cedera terhadap pengemudi dan operator turret pasca diledakkan. “Fatal atau tidak besaran kuantitafnya dapat dilihat beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Ade mengatakan, uji ledak kedua dengan TNT 8 kg yang diletakkan di bawah lambung prototipe kedua medium tank akan dilakukan hari Sabtu (14/7/2018).

Tank kelas menengah besutan PT Pindad dan FNSS ini memiliki bobot tempur 32 ton. Dibekali mesin bertenaga 711 HP, kendaraan ini mampu melesat dengan kecepatan maksimal 70 km/jam. Ranpur lapis baja ini dilengkapi transmisi otomatis dan senjata utama kanon turret kaliber 105 mm. Tank ini diawaki 3 orang kru yang terdiri dari komandan, penembak, dan pengemudi.

(ERY)

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *