Ini Alasan NU-200 Sikumbang Dipindahkan dari PTDI ke Muspusdirla

Rendy Nugroho

ANGKASAREVIEW.COM – Pesawat tempur pertama hasil rancang bangun putra-putri bangsa Indonesia yang menjadi ikon PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, NU-200 Sikumbang, telah dipindahkan ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta. Pemindahan pesawat Sikumbang ke Mupusdirla merupakan keinginan TNI AU demi pembelajaran dan menginspirasi generasi muda bangsa ini.

NU-200 Sikumbang merupakan pesawat produksi anak bangsa yang pertama kali dibuat. Pesawat ini merupakan rancang bangun Laksamana Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo yang dibantu 25 orang teknisi pada tahun 1953 dan berhasil terbang perdana selama 15 menit pada 1 Agustus 1954 di Lanud Andir (sekarang Husein Sastranegara) Bandung.

KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto punya alasan tersendiri mengapa Sikumbang dipindahkan ke Yogyakarta. “Karena kunjungan wisata di Muspusdirla ini sangat luar biasa, mulai dari anak-anak TK, SD, SMP, SMA, Mahasiswa, bahkan para pecinta dirgantara,” ungkap KSAU dalam sambutannya di acara serah-terima pesawat Nu-200 antara TNI AU dengan PTDI di Muspusdirla, 17 Oktober lalu.

Dengan pemindahan tersebut, menurutnya, generasi muda Indonesia bisa melihat secara langsung pesawat buatan anak bangsa yang benar-benar murni tanpa bantuan orang asing. Ia pun menilai bahwa pemindahan Sikumbang merupakan langkah yang tepat.

Dengan ditempatkannya pesawat NU-200 di Muspusdirla, KSAU berharap dapat menggugah inspirasi bagi generasi muda agar bisa mengembangkan ilmu kedirgantaraan.

“Yang jelas ini adalah ini pesawat pertama produksi anak bangsa. Yang kedua, pesawat ini adalah pesawat tempur karena pesawat ini dipersenjatai. Sembilan tahun Indonesia merdeka, Angkatan Udara sudah bisa membuat pesawat, buatan anak bangsa, dan pesawat itu adalah pesawat untuk COIN (Counter Insurgency), pesawat tempur serang darat,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Umum dan SDM PTDI Sukatwikanto berterima kasih kepada Depohar (Depo Pemeliharaan) 10 TNI AU yang telah bekerja sama dengan pihaknya untuk memulihkan kondisi NU-200 dan sekaligus memindahkan pesawat ini ke Muspusdirla.

“Semoga Sikumbang dapat menjadi wahana pembelajaran masyarakat untuk lebih mengenal sejaran industri kedirgantaraan di Indonesia. Semoga sinergitas antara TNI AU dengan PTDI dapat terus ditingkatkan untuk mewujudkan pesawat-pesawat penumpang maupun pesawat tempur untuk dihasilkan oleh putra-putri bangsa Indonesia di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Pesawat Sikumbang merupakan pesawat pertama buatan anak bangsa melalui LIPNUR (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio) dengan De Havilland Gipsy VI (200hp) sebagai mesin yang digunakan.

Sukses dengan Nu-200, berikutnya Nurtanio mengembangkan pesawat sejenis Sikumbang dengan kode NU-225, karena mesinnya diambil dari Continental O-470-A berkekuatan 225hp.

Dari total 2.000 koleksi yang ada, di Muspusdirla saat ini telah ada 50 pesawat yang pernah digunakan oleh TNI AU. Seperti yang diungkapkan KSAU, dalam waktu dekat Kadisaero akan menambah 11 koleksi pesawat lagi, sehingga ke depan totalnya menjadi 61 koleksi pesawat. Setidaknya saat ini pesawat C-130 Hercules dengan nomor ekor 1301 juga sudah masuk menjadi koleksi Muspusdirla setelah Sikumbang. FERY SETIAWAN

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!