Nasib Superjumbo A380 di Tengah Gempuran Pamor A350 dan Boeing 787

singapore airlinesSQ

Masa kejayaan superjumbo Airbus A380 segera berakhir? Belum atau tidak dapat dikatakan seseram itu saat ini. Pertanyaan muncul manakala flag carrier Singapore Airlines (SQ) menarik 9V-SKA (MSN003, A380 pertama yang mereka terima sebagai launch customer 15 Oktober 2007) dari jajaran armada aktifnya beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, maskapai Negeri Singa berencana mengembalikan pesawat double decker yang mulai dioperasikan pada 25 Oktober 2007 itu kepada sang pemilik, perusahaan leasing dari Jerman, Dr. Peters Group. Dalam perjanjian sewa pakai, Singapore Airlines memang menyewa lima superjumbo batch pertama dari Dr Peters Group untuk jangka waktu 10 tahun di mana masa sewa akan berakhir pada Oktober tahun ini hingga Juni tahun depan.

Lalu, bagaimana nasib A380 setelah kembali ke Dr. Peters Group? Belum ada kejelasan pula. Beredar kabar, sang pemilik akan mencari penyewa baru terlebih dahulu atau pesawat itu selanjutnya akan di-scrap untuk dijual sebagai komponen suku cadang. Harga pesawat bekas ini ditaksir 100 juta dolar dari harga awal 280 juta dolar dan saat ini harga terbaru A380 dibanderol 436 juta dolar AS.

Perihal A380, fakta mengatakan pabrik Airbus dalam setahun terakhir telah mengurangi kapasitas produksi A380 dan menjadwalkan hanya memroduksi satu A380 saja per bulan atau 12 unit di tahun 2018. Angka ini turun 15 unit apabila dibandingkan tahun 2015 di mana Airbus masih memroduksi 27 unit A380 selama dua belas bulan. Sementara di tahun 2019, Airbus akan menurunkan lagi kapasitas produksi A380 menjadi hanya delapan unit saja.

Kurang efisien

AIRBUS

Di tengah persaingan dengan pesawat badan lebar jarak jauh bermesin ganda saat ini, A380 yang menggunakan empat mesin tak pelak dianggap lebih boros dan kurang efisien. Itu dari sisi konsumsi bahan bakar. Belum lagi dari sisi perawatan mesin pun akan menjadi dua kali lipat terkait komponen suku cadang yang dibutuhkan.

Ke depan, pesawat A350 XWB dari Airbus dan 787 dari Boeing, tampak lebih punya peluang lebih besar untuk berjaya di kelas penerbangan jarak jauh nonstop, bersanding dengan kesuksesan A330-300 maupun 777-300ER. Terlebih, baik Airbus maupun Boeing saat ini tengah mengembangkan varian unggulan terbaru A350-1000 dan 787-9 dengan kapasitas angkut bertambah, demikian pula kemampuan jarak terbangnya.

Sementara di kelas pesawat badan sempit (narrow body), tren ke depan tampaknya akan dikuasai oleh 737MAX dan A320neo di mana masing-masing akan menjadi primadona pula.

Pesawat-pesawat jet komersial jarak jauh bermesin ganda yang kini jadi “penggembos” jet komersial empat mesin, sebenarnya bukanlah pesaing A380. Kapasitas angkut A380 jelas tidak bisa disandingkan dengan kedua pesawat itu. Tapi kehadiran mereka, memang telah mengunci bahkan mengurangi rencana pesanan terhadap A380. Hal ini pula yang menyebabkan, di sisi yang lain, A380 mulai kurang peminat.

A380 sendiri mulai dirancang secara rahasia di bawah pimpinan insinyur Airbus, Jean Roeder, tahun 1988. Dibutuhkan waktu 17 tahun sehingga rancangan ultra-high-capacity airliner (UHCA) yang selanjutnya diberi kode A3XX dan mewujud menjadi A380 itu dapat melakukan penerbangan perdana pada 27 April 2005. A380 dengan basis rangka A340 yang dikembangkan, ditujukan untuk mengambil alih dominasi jumbo jet B747 “Queen of the Sky” buatan Boeing sejak awal dekade 1970-an dan berjaya dalam kurun 40 tahun.

Sayangnya, ketika 747 si “Ratu Angkasa” mulai tampak sulit meneruskan dinastinya, hal yang sama malah dialami oleh A380 sang pesaing. Dengan kapasitas 600 penumpang, A-380 sebenarnya unggul 150 penumpang lebih bayak dari 747. Akan tetapi, apakah jumlah penumpang sebanyak ini yang dibutuhkan oleh satu pesawat untuk mengangkut dalam satu kali penerbangan? Ide awalnya justru seperti begitu, itu yang diprediksi oleh Airbus.

Boeing sendiri awalnya berpendapat sama. Itulah mengapa Boeing sempat menggadang-gadang varian terbaru 747-8 sebagai rival terbaru A380. Akan tetapi, belakangan pandangan itu direvisi. Boeing telah menyatakan akan menyudahi kelanjutan produksi 747-8 dan menyebut era pesawat superbesar ini telah berakhir.

Airbus yang telah berinvestasi sangat besar membangun A380, secara logika tentu tidak akan merelakan begitu saja si superjumbo berakhir cepat melebihi eranya. Dihitung dari masa pertama pesawat ini digunakan pada 25 Oktober 2007, maka A380 tertua baru digunakan 10 tahun saja

Itu pula mengapa pada penyelenggaraan Paris Air Show, Juni lalu, Airbus memunculkan desain baru A380plus. Tidak lain adalah varian A380 yang dirancang lebih efisien dalam hal konsumsi bahan bakar.

Desain sayap pada A380 lama diperbaiki, termasuk perubahan pada winglet setinggi 4,7 meter dan penyempurnaan komponen sayap lainnya. Demikian juga dengan program optimasi perawatan serta pemanfaatan ruang kabin. Airbus menaksir, A380plus akan memiliki 13% pengurangan biaya kursi per mil dibanding A380 saat ini.

Winglet yang baru, memiliki panjang 3,5 meter ke bagian atas dan 1,2 meer ke bagian bawah. Menurut Airbus, rancangan baru ini berkontribusi pada penghematan penggunaan bahan bakar sebanyak 4%. Bila dikonversi, sama dengan penambahan 80 penumpang atau penambahan jarak jelajah sejauh 300 mil laut.

Akan tetapi, pesawat yang ditawarkan ini adalah pesawat baru. Bukan program modifikasi dari A380 lama menjadi A380plus.

Setelah SQ siapa?

Ron | Angkasa Review

Singapore Airlines menjadi maskapai pertama yang mengistirahatkan A380. Dalam beberapa masa ke depan, diprediksi sejumlah operator lain juga akan melakukan hal yang sama. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa hingga saat ini belum ada rencana pengurangan armada A380 oleh SQ. Singapore Airlines masih tetap berencana mengoperasikan 19 A380 di mana sebanyak lima unit pengganti batch pertama akan datang berikutnya.

Emirates sebagai salah satu pengguna terbanyak A380, dapat dipastikan akan segera mengistirahatkan sejumlah A380 atas pertimbangan beberapa hal. Faktor utama, jelas karena maskapai Timur Tengah ini memang tidak pernah menggunakan pesawat secara berlama-lama. Sama halnya ketika mereka menyetop penggunaan B777 saat pesawat itu belum genap digunakan 12 tahun dan menggantinya dengan generasi terbaru.

Lalu, saat A380plus mendapatkan pasarnya nanti, bagaimana dengan nasib A380? Apakah maskapai low cost yang akan mengambil alih dan memanfaatkan superjumbo untuk mengangkut 850 penumpang khusus kelas ekonomi sekali terbang? Atau A380 akan berakhir lebih awal sebagai pesawat ikonik di eranya? Airbus sendiri pernah mengajukan penawaran untuk memodifikasi A380 menjadi pesawat VVIP sebagaimana pesawat Air Force One. Namun hingga saat ini belum ada pelanggan yang tertarik membelinya.

Dilihat dari jumlah pesanan dan produksi, per Juli 2017, Airbus telah membukukan 317 pesanan A380 dengan 214 di antaranya telah dikirimkan kepada pembeli. Emirates yang mulai menggunakan pesawat ini tahun 2008 menjadi pemesan terbanyak yakni 142 unit dan 96 di antaranya telah diterima.

Berikutnya, di tahun yang sama, maskapai Qantas dari Australia menjadi pengguna ketiga A380 dengan pesanan 20 A380, namun hingga saat ini The Flying Kangaroo hanya mengguakan 12 A380. Qantas masih menunda pembelian delapan unit berikutnya.

Dalam penyelenggaraan Paris Air Show, Juni lalu, pihak Boeing sebenarnya lebih “berlapang dada” menyatakan bahwa pasar pesawat terbesar (largest aircraft) telah berakhir dan tren itu bergeser pada penggunaan wide body di kelas 250-350 penumpang.

“Kami tidak melihat permintaan yang banyak terhadap pesawat berukuran besar,” ujar Wakil Presiden Boeing Bidang Pemasaran Randy Tinseth. “Kami yakin, sekalipun Airbus akan kesulitan untuk mengirimkan sisa pesanan A380 yang telah masuk buku pesanan,” tambahnya kepada para wartawan.

EMIRATES

Sedikit berbeda dengan prediksi Boeing, Airbus tetap memandang masih ada peluang bagi superjumbo mereka untuk berjaya di pasaran. Pabrik pesawat yang bermarkas di Toulouse, Perancis itu melihat bahwa pesawat superbesar tetap masih dibutuhkan, utamanya bagi hub-hub besar di Asia dan Timur Tengah. Tahun 2030 di mana penumpang sangat begitu banyak memadati bandara-bandara besar, maka di saat itu pula dibutuhkan pesawat berkapasitas besar untuk mengangkutnya dalam satu penerbangan.

Airbus memperkirakan, masih terbuka peluang bagi penjualan 1.400 unit pesawat bagi largest commercial aircraft sampai tahun 2037 dengan nilai mencapai 545 miliar dolar AS.

Presiden Direktur Emirates, Tim Clark, merasa keberatan dengan rencana Airbus memodifikasi A380 menghilangkan tangga utama di bagian depan pesawat (forward staircase) demi menambah kapasitas 23 kursi penumpang. Menurutnya, tangga di bagian depan itu adalah bagian dari ikoniknya A380. “Kalau dihilangkan, maka itu akan memudarkan pamor A380,” ujar Clark.

Clark mengatakan, perubahan yang dilakukan oleh Airbus pada A380plus akan sangat memengaruhi masa depan pesawat tersebut dan impaknya terhadap bisnis yang dijalani.

Ia menyatakan lebih setuju apabila Airbus lebih memokuskan perubahan A380 menjadi A380neo, yakni mengganti mesin lama dengan mesin Rolls-Royce terbaru semacam pengembangan dari mesin Trent XWB yang saat ini digunakan oleh A350. Dengan mesin baru diharapkan efisiensi dapat tercapai.

Clark sebagaimana dikutip AviationWeek juga menyatakan, Emirates dalam 5-10 tahun ke depan kemungkinan besar akan menambah armada pesawat badan lebar. Entah itu A350 atau Boeing 787. Lalu bagaimana dengan nasib A380? Kita tunggu saja. (RONI SONTANI | ANGKASAREVIEW.COM)

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!