Kecil Kemungkinan Amerika Berikan Teknologi Kunci F-16 kepada India

TAF

Pabrik pesawat tempur F-16 asal Amerika Serikat, Lockheed Martin, telah menyetujui pembuatan jet tempur F-16 di India apabila New Delhi membeli pesawat dimaksud. Tentu saja berapa jumlah yang dibeli akan menentukan seberapa banyak kapasitas yang diizinkan AS terhadap India untuk memroduksi F-16 melalui kampanye “Make in India”.

Lockheed Martin mencapai kesepakatan itu setelah melakukan pembicaraan dengan industri Tata Advanced Systems Limited (TASL) asal India dan mengumumkannya pada pelaksanaan pameran dirgantara Paris Air Show, Juni lalu di Perancis.

Tidak tanggung-tanggung, F-16 yang akan diproduksi bersama itu adalah varian terbaru F-16 Block 70 yang diberi nama Viper. Lockheed Martin menilai, F-16 Viper adalah pesawat tempur yang paling cocok digunakan untuk menjaga kedaulatan udara Negeri Bollywood.

Lockheed Martin dalam laman resminya yang dimuat pada 19 Juni menerangkan, produksi bersama Viper oleh AS dan India akan membuka lapangan pekerjaan yang banyak bagi kedua negara. Selain dapat memroduksi, AS memberikan keleluasaan kepada India untuk menggunakan pesawat tempur tersebut dan mengekspornya ke negara lain.

F-16 Block 70 dilengkapi perlengkapan elektronik versi tercanggih sebagai perwujudan terkini dari kedigdayaan F-16 yang telah berhasil dibuat sebanyak lebih 4.500 unit sejak tahun 1976 dan digunakan di 26 negara.

“Kesepakatan produksi bersama ini menunjukan hubungan yang baik antara Lockheed Martin dan Tata,” ujar N. Chandrasekaran, Pemimpin Tata Sons kala itu.

Sementara Wakil Presiden Eksekutif Lockheed Martin Orlando Carvalho menyatakan kebanggaannya bisa bekerja sama dengan Tata. Disebutkan, kerjasama tersebut merupakan suatu kehormatan bagi Lockheed Martin.

“Merupakan suatu kehormatan bagi kami bisa bermitra dengan industri pertahanan dan kedirgantaraan TASL dari India. Kerja sama ini secara signifikan memperkuat penawaran F-16 ‘Make in India’,” ujarnya.

Militer India menggunakan sejumlah pesawat angkut/peran khusus produksi AS seperti Boeing B707, Boeing C-17 Globemaster III, Boeing P-8I Poseidon, Lockheed Martin C-130J Super Hercules, dan lainnya. Sementara untuk pesawat tempur, India lebih banyak menggunakan produksi Rusia, Perancis, dan Inggris.

India juga memroduksi pesawat tempur sendiri HAL Tejas berikut mesin Kaveri, jet latih HAL Kiran, dan helikopter HAL Dhruv. Masuknya F-16 Viper ke India dan apabila diproduksi di India, tentu saja akan makin meningkatkan kemampuan di Asia Selatan dalam hal produksi/penguasaan teknologi dirgantara.

Teknologi kunci F-16

Lockheed Martin

Akan tetapi, dari semua yang ditawarkan tersebut, ada satu hal krusial yang belum dijelaskan. Tidak lain apakah Amerika Serikat akan dengan begitu mudah memberikan teknologi-teknologi kunci penempur F-16 kepada India? Terlebih ini adalah versi upgrade yang akan menjadi varian tercanggih dari keluaga F-16.

Laman flightglobal (11/8) menulis, walaupun Lockheed Martin dan Tata ASL telah bersepakat untuk membuat F-16 di India, tetapi hal itu pun akan sangat tergantung pada beberapa hal. Pertama, tentu saja India harus menandatangani kontrak pembelian F-16 terlebih dahulu, yang artinya F-16 dipilih menjadi pemenang (kompetisi) untuk dibeli oleh India.

Kedua, semua ini sifatnya masih dalam tahap perkembangan pembicaraan lebih lanjut, karena tentu saja semua hal yang akan ditindaklanjuti oleh kedua pihak harus mendapatkan persetujuan dari Kongres AS terlebih dahulu.

Sedikitnya ada empat teknologi kunci yang ada di F-16V yang menjadi incaran negara-negara lain. Keempatnya adalah radar AESA, IRST, electro-optical targeting pod, dan radio frequency jammer.

Perlu diketahui, bahwa pada 2015 Amerika Serikat pun secara telak telah menolak permintaan Korea Selatan untuk alih teknologi keempat teknologi di atas bagi pengembangan pesawat tempur dalam negeri KF-X.

Padahal kita tahu, Korea Selatan merupakan pengguna 170 KF-16C/D Block 50/52 sejak tahun 1986 dan negeri itu juga adalah sekutu AS. Paman Sam memiliki banyak kepentingan dengan Korea Selatan dalam berbagai hal, termasuk penempatan pasukan dan kekuatan militernya di Negeri Ginseng.

November tahun lalu, Lockheed Martin juga mendapatkan kontrak 1,2 miliar dolar AS dari Pemerintah Korea Selatan untuk meng-upgrade armada KF-16 milik AU Korea Selatan. Proses pengerjaan akan dilaksanakan di Fort Worth, Texas dan dijadwalkan selesai pada 2025.

Lockheed Martin

Kerja sama pabrikan pesawat Lockheed Martin dengan Korea Aerospace Industries (KAI) telah menghasilkan jet latih/tempur T-50 berbagai varian termasuk T-50A yang saat ini dimajukan dalam kompetisi pesawat latih Angkatan Udara AS (USAF). Jadi, wajar kita taksir apabila AS memberikan transfer teknologi kepada kolega dekatnya, namun faktanya ternyata tidak demikian.

Di laman diskusi militer pertahanan India, para warganet (yang tampaknya orang-orang India) sudah sejak lama membahas ketidakmungkinan Amerika Serikat memberikan teknologi-teknologi kunci F-16 kepada India. Yang dimungkinkan, kata salah satu warganet, adalah memberikan kesempatan kepada industri pesawat India untuk “menjahit” F-16 di dalam negeri. “Tidak lebih sebagai penjahit saja,” ungkapnya.

Para warganet di forum tersebut malah lebih setuju apabila anggaran untuk pembelian 200 F-16 (katakan demikian) dialihkan pada pengembangan pesawat tempur dalam negeri mereka HAL Tejas. Hal yang telah membuat penempur kebanggaan Tejas yang bermesin tunggal, kini telah mempersiapkan desain Tejas dengan dua mesin.

Sementara pembuatan pesawat seperti F-16 bisa dilakukan di negara-negara lain, itu adalah hal lumrah dan sudah berjalan sejak dekade 1970-an. Untuk mengisi kebutuhan empat negara NATO misalnya, Lockheed Martin membuat F-16 di tiga fasilitas produksi perakitan di Belgia, Belanda, dan di Amerika sendiri (Fort Worth, Texas). Demikian juga dengan Turki dan Korea Selatan, masing-masing diberi kesempatan untuk memroduksi F-16 secara lisensi untuk pembelian F-16 yang akan digunakan masing-masing angkatan udaranya.

Kalau Lockheed Martin telah menyetujui pembuatan F-16 di India bagi kebutuhan AU India maupun ekspor ke negara lain, bisa jadi itu tidak mencakup transfer teknologi untuk teknologi-teknologi kunci yang ada di F-16. Dapat dikatakan, kecil sekali kemungkinan AS mau membagi teknologi-teknogi kunci tersebut kepada India, sama seperti dilakukan AS terhadap negara-negara lain.

Teknologi-teknologi strategis yang menjadi kunci keunggulan suatu pesawat tempur atau produk teknologi lainnya tentu tidak akan dibagikan begitu saja kepada pihak-pihak lain, karena itu menjadi kunci untuk meraih sebuah supremasi. Terlebih Amerika Serikat yang memiliki segudang kepentingan politis di dunia.  Kecuali, apabila dengan segala perhitungan hal itu dinilai tidak akan merugikan atau melemahkan pihak pemberi. (RONI SONTANI | ANGKASAREVIEW.COM)

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

467 views