Skadron Udara 4, Walet Sang Pengintai

Ron | Angkasa Review

Selain sebagai skadron pengintai ringan, Skadron Udara 4 TNI AU melaksanakan tugas pemotretan udara, modifikasi cuaca, perncarian dan pertolongan (SAR), ambulans udara jarak pendek, serta mendukung sekolah navigator. Julukan skadron pengintai, erat kaitannya dengan awal pembentukan skadron ini tahun 1951 sebagai Squadron IV/Pengintai.

Keputusan KSAU nomor 2811/KS/51 tanggal 21 Maret 1951 menyatakan pembentukan suatu grup operasional, terdiri dari Squadron I (Pembom) dengan pesawat B-25 Mitchell, Squadron II (Pemburu) dengan pesawat P-51D Mustang, Squadron IV (Pengintai) dengan pesawat Auster Mk IV dan Piper L-4J, serta Squadron V (Pengangkut Personil) dengan pesawat C-47 Dakota.

Satu bulan kemudian, 23 April 1951, susunan tersebut diubah melalui penetapan KSAU nonor 28A/11/KS/1951 menjadi Squadron I/Pembom, Squadron II/Pengangkut, Squadron III/Pemburu, Skadron IV/Pengintai, dan Squadron V/Intai Laut.

Setahun kemudian, 1 April 1952, melalui penetapan KSAU nomor 32/21/pen2/KS/52 keluar lagi susunan skadron di tubuh AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) berikut nama-nama komandannya yang ditunjuk. Yaitu, Skadron I/Pembom dengan korandan Letnan Udara I Suharsono Hadinoto, Skadron II/Pengangkut Operasionil dengan komandan Kapten Udara Sudarjono, Skadron Udara III/Pemburu dengan korandan Letnan Udara I Hadisantoso Sapandi, Skadron IV/Pengintai Darat dengan komandan Kapten Udara Suhodo, Skadron V/Pengintai Laut dengan komandan akan ditentukan kemudian, serta Skadron Pengangkut Cadangan (DAUM – Dinas Angkatan Udara Militer) di Pangkalan Udara Andir dengan komandan Letnan Udara I Budiarto.

Capung Pemandu Artileri

TNI AU

Dari sekilas kisah pembentukan skadron-skadron di AURI tersebut, tampak bahwa jejak perjalanan Skadron Udara 4 dimulai sebagai skadron pengintai. Merujuk pada buku Jejak Sang Pengintai, Lintasan Sejarah Skadron Udara 4 (R. Ismet Ismaya Saleh, 2003), arti pengintai di sini adalah sebagai skadron bantuan bagi pasukan darat untuk pengintaian dan penuntun penembakan senjata artileri.

Penambahan nama menjadi “Pengintai Darat” karena kemudian AURI membentuk Skadron V/Pengintai Laut.

Pesawat yang diterima Squadron IV merupakan peninggalan Belanda. Semua pilot yang menerbangkan Auster Mark IV juga adalah orang Nederlandse Militaire Luchtvaart. Sehingga, ketika Belanda hengkang maka AURI praktis hanya punya teknisi dan dua penerbang, yakni Suhodo dan Suharnoko Harbani.

Setelah itu ke Skadron IV masuk penerbang-penerbang lulusan Sekolah Penerbang Lanjutan (SPL) Kalijati. Antara lain SMU Kasmoeri, SU Soempil Basuki, SU Soedarman, SU Slamet Sutopo, SU Soetardjo, SU Soegianto, SU Walujo, SU Koesnidar, SU Maemoen Saleh, SU Abu Bakar, SU Moechtar, dan SU Iskandar.

Dengan memakai tanda kesatuan berupa sebuah perisai berwarna hijau berlukiskan seekor capung, Skadron IV/Pengintai Darat melaksanakan pengintaian taktis, hubungan kepada garis depan, dan lainnya. Tidak salah bila Auster Mk IV yang mereka gunakan pun terkenal dengan nama “Capung”.

Dalam usia yang masih muda itu, Skadron IV dikenal sebagai skadron “Artilleri Vuurleding” atau skadron pemandu pasukan artileri di medan perang.

Operasi-operasi sukses yang pernah dilaksanakan antara lain, membantu pasukan Angkatan Darat di daerah Jawa Barat seperti di Tasikmalaya, Indramayu, Garut, maupun Cirebon dalam rangka penumpasan gerombolan DI/TII pimpinan SM Kartosuwiryo.

Lalu pada November 1951, Skadron IV berhasil menemukan tempat pusat gerombolan berjumlah kurang lebih seribu orang di Gunung Klotok dan di lereng Gunung Malabar. Hasil temuan ini kemudian ditindaklanjuti oleh Skadron I/Pembom.

Selain itu, tugas penyebaran pamflet, pencarian dan pertolongan (SAR), penerbangan khusus, maupun mendukung tugas pemotretan udara juga dilaksanakan oleh Skadron IV/Pengintai Darat.

Meski demikian, tidak berarti kalau setiap pelaksanaan tugas selalu berjalan dengan lancar. Beberapa kejadian tak pelak menimpa skadron ini. Misalnya, Januari 1951 terjadi penembakan pesawat Auster R-64 yang dipiloti Letnan Udara I Koesoemo Soejanto. Pesawat diberondong oleh gerombolan di Gunung Galunggung dari bawah. Beruntung dalam peristiwa tersebut pilot selamat.

Maret 1951, di tempat yang sama, SU Moechtar dengan Piper Cup R-364 mendapat kecelakaan. Angin besar menekan pesawat ke bawah sehingga menabrak pepohonan. Beruntung pilot dan satu penumpang hanya luka ringan.

Mei 1951, SU Walujo dengan PC R-367 mendarat darurat di jalan raya Tarogong, Garut karena terkena angin besar. Pesawat terangkat, terpelanting, dan terbalik. Penerbang dan seluruh penumpang selamat.

Pada 1 Agustus 1951, SMU Kasmoeri dengan Auster R-69 jatuh di Tjiampea, Bogor saat menyebarkan pamflet. Pilot luka-luka, montir Marsali tewas.

Tanggal 19 Desember 1951, SU Iskandar dan juru intai Letnan Muda A.D Roekmana menggunakan Auster R-73 gugur di Gunung Manglayang, Bandung. Saat itu cuaca buruk, pesawat menabrak puncak gunung.

Dengan banyaknya kecelakaan yang dialami, kemampuan Skadron IV pun menurun. Pesawat yang bisa digunakan semakin berkurang.

Skadron IV/Pengintai Darat bertahan selama 12 tahun hingga 1963. Tercatat enam perwira penerbang pernah memimpin skadron ini. Mereka adalah Letnan Udara I Suharnoko Harbani (1950-1951), Kapten Udara M Suhodo (1951-1953), Letnan Udara Makki Perdanakusuma (1953-1954), Kapten Udara Bill Sukamto (1954-1956), Kapten Udara Suyitno Sukirno (1956-1957), dan Letkol Udara Suwoto Sukendar (1958).

Pada 11 April 1963 Menteri/Panglima Angkatan Udara memutuskan bahwa Squadron IV/Pengintai Darat diubah tugas dan fungsinya menjadi Skadron VIP/VVIP berkedudukan di Hanggar III Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Armada pesawat yang digunakan kala itu meliputi C-140 Jetstar, C-47 Dakota, Avia-14, DHC-3 Twin Otter, Cessna C-180, SC-7 Skyvan, C-212, dan Cessna 401/402.

Baru empat bulan berjalan, Skep Men/Pangau dicabut. Skadron IV dilikuidasi dan diubah kembali namanya menjadi Skadron No.17/Linud Khusus. Dengan begitu, tamat sudah riwayat Skadron IV/Pengintai Darat.

Bangkitnya Sang Pengintai

Sindo

Tahun 1985, Skadron Udara 17/Linud Khusus mendapat tambahan kekuatan beberapa pesawat seperti B707, F-28, F-27, C-130, dan helikopter Super Puma.

Menumpuknya pesawat di Skadron Udara 17/Linud Khusus yang namanya kemudian menjadi Skadron Udara 17 VIP, menyebabkan pimpinan TNI AU mengambil langkah untuk memindahkan sebagian pesawatnya ke Skadron Udara 2. Dan, pada saat itu pula muncul gagasan untuk kembali menghidupkan Skadron IV/Pengintai Darat menjadi Skadron Udara 4 di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

Sejak tahun itu pula Skadron Udara 4 berdiri sebagai skadron angkut ringan dengan kekuatan 10 pesawat C212-100/200 Aviocar, enam Cessna 401/402, empat C-47, dan satu SC-7.

Reborn-nya Skadron Udara 4 dikukuhkan melalui Skep KSAU Noor Skep/02/I/1985 yang menyatakan Squadron IV/Pengintai Darat dioperasikan kembali dengan nama baru Skadron Udara 4 Angkut Ringan.

Perubahan menjadi skadron angkut ringan secara otomatis menyebabkan beberapa perubahan fungsi tugas. Yakni melakukan pengangkutan udara ringan yang digolongkan sebagai angkutan udara taktis. Di samping itu terdapat juga tugas tambahan melaksanakan pemotretan udara termasuk pengintaian terhadap sasaran-sasaran di medan perang, modifikasi cuaca atau hujan buatan, SAR, pemetaan, ambulans udara jarak pendek, dan mendukung sekolah navigator.

Pemindahan armada pesawat dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta ke Lanud Abdulrachman Saleh di Malang dilaksanakan pada 5-8 April 1985. Sebanyak 20 pesawat berhasil dipindahkan, kecuali SC-7 yang keadaannya unserviceable hingga akhirnya batal bergabung.

Pada 9 April 1985, KSAU Marsekal Sukardi secara resmi memimpin upacara pengaktifan kembali Skadron Udara 4 dengan komandan Mayor Pnb Suharso.

Di bawah pimpinan Suharso, Skadron Udara 4 berhasil melaksanakan tugas antara lain, untuk pesawat C212 melaksanakan VIP, PAUM, Operasi Malirja, Pemotretan Udara, dan Hujan Buatan. Untuk pesawat Cessna melaksanakan Operasi Seroja, Operasi Halau, dan Operasi Rencong. Sementara untuk pesawat C-47 Dakota melaksanakan Operasi Penerjunan dan Pemotretan Udara.

Setelah Suharso, nama-nama komandan berikutnya adalah Letkol Pnb Bambang Risharyanto, Letkol Pnb Tumiyo, Letkol Pnb Yushan Sayuti, Letkol Pnb Tonny Susanto, Letkol Pnb Sudipo Handoyo, Letkol Pnb Bambang Suwarto, Letkol Pnb Gatot Purwanto, Letkol Pnb Ismet Ismaya Saleh, Letkol Pnb Yudi Hartanto, Letkol Pnb Elianto Susetyo Letkol Pnb Novyanto Widadi, Letkol Pnb Zulfahmi, Letkol Pnb Meka Yudanto, Letkol Pnb Tiopan Hutapea, Letkol Pnb Yose Ridha, Letkol Pnb Agus Mulyadi, dan Letkol Pnb Agung Perwira (saat ini).

Skadron Udara 4 juga telah tercatat melahirkan seorang pucuk pimpinan TNI AU tertinggi, yakni Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang dilantik menjadi KSAU ke-21 oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara pada 18 Januari 2017.

Hadi Tjahjanto memang tidak menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 4 saat itu karena mendapat penugasan dari pimpinan untuk memimpin Satuan Udara Pertanian di Lanud Suryadarma (dulu Lanud Kalijati), Subang.

Nama Walet

TNI AU

Tentang sebutan “Walet” untuk Skadron Udara 4, ada kisah yang disampaikan mantan Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsda (Pur) Chaerudin Ray. Ia mengatakan, sejak dihidupkan kembali tahun 1985 dengan kekuatan 20 pesawat, hampir semua penerbang Skadron Udara 4 tidak pernah berada di home base. Jumlah penerbang sedikit, sementara misi operasi sangat banyak. Para penerbang dan kru pesawat selalu berpindah-pindah tempat.

Suatu ketika, saat melaksanakan Operasi Halau di Natuna menggunakan Cessna 402, Kapten Pnb Chaerudin Ray beraam kopilot Lettu Pnb Sudipo Handoyo (Marsda Pur) duduk-duduk di belakang mess TNI AU memandang ke arah laut. Sudah sebulan mereka bertugas di sana.

Di antara kerinduan mendalam terhadap keluarga, Chaerudin melihat seekor burung walet terbang lincah di sekitar mereka. Dari situlah muncul inspirasi untuk mengusulkan nama “Walet” sebagai callsign penerbang Skadron Udara 4. Setelah dikaji hingga tingkat lanud, nama tersebut disetujui.

Keluarga besar Walet menjungjung tinggi nilai-nilai kehormatan sebagai Anak Walet. Yaitu, iman dan taqwa, disiplin, loyalitas, trengginas, pantang menyerah, tabu mengeluh, dan setia sampai akhir.

Letkol Pnb Yushan Sayuti (Marsda Pur) semasa menjabat Komandan Skadron Udara 4 (1992-1995) memelopori penggantian lambang Skadron Udara 4 dari logo bergambar Capung manjadi Walet. Tim pun dibentuk, Antara lain terdiri dari Kapten Pnb Ilyanus Sanusi, Kapetn Pnb Djamhari, Kapten Pnb Bambang Suwarto, dan Letda Pnb Pengkuh.

Bambang Suwarto dibantu Lettu Pnb Eko Dono kemudian berkonsultasi dengan seorang dosen bahasa di IKIP Malang. Dari situ, tercetuslah semboyan “Apnute Kriya Hayu Uliha” dari Bahasa Sansekerta yang artinya laksanakan tugas dengan baik, kembali ke kesatuan dengan selamat, serta bersiap melaksanakan tugas berikutnya.

Bersamaan dengan diresmikannya logo skadron yang baru, semboyan ini pun dijadikan tunggul Skadron Udara 4 pada tahun 1996 oleh KSAU saat itu Marsekal TNI Rilo Pambudi. (RONI SONTANI | ANGKASAREVIEW.COM)

 

Bagikan ini :

One Response to Skadron Udara 4, Walet Sang Pengintai

  1. dhany yogaswara berkata:

    Luar biasa detail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

761 views