AIM-9 Sidewinder, King of Legend

US Navy

Tanpa perlu susah payah menjelaskan, menyebut nama Sidewinder di kalangan pecinta penerbangan militer, maka langsung dipahami bahwa yang dimaksud adalah rudal udara ke udara jarak pendek AIM-9.

Dapat dimaklumi, telah lebih setengah abad rudal ini berkiprah dan hingga kini masih terus digunakan berikut kemunculan varian-varian termutakhirnya.

AIM-9 Sidewinder dirancang oleh William Burdette McLean than 1946. Rudal ini dibangun di Naval Ordnance Test Station (NOTS), China Lake, California sebagai salah satu proyek alutsista Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS).

Di awal proyek, tahun 1950, AL AS mengucurkan dana 3,5 juta dolar AS untuk riset dan pembuatannya. Tak lama berselang, di tahun itu pula, rudal yang dinantikan pun secara bertahap mulai bisa diuji coba.

Pertama kali, Sidewinder diuji menggunakan pesawat AD-4 Skyrider. Tiga tahun kemudian, 11 September 1953, AIM-9 berhasil menghancurkan sasaran uji di udara berupa drone atau pesawat tak berawak.

Sidewinder mulai diproduksi tahun 1955. Dua kontraktor dipilih AL AS sebagai pembuat massal rudal ini. Yakni Philco yang bertindak selaku kontraktor utama serta General Electric sebagai kontraktor kedua.

Evaluasi produk dilakukan menggunakan tiga pesawat tempur Grumman F-9F-8 Cougar dan satu North American F-100A Super Sabre. Tercatat, sedikitnya 38 unit Sidewinder ditembakkan dari kedua penempur itu.

Setahun berikutnya, 1956, giliaran AL AS yang melakukan uji tahap operasi dan evaluasi (Opeval). Rudal diuji oleh para penerbang tempur yang berpangkalan di kapal induk USS Hancock (CVA 19). Hasilnya, probability of kill (pK) rudal infra merah ini mencapai 86%. Angka yang cukup memuaskan, tapi tidak di mata McLean sang perancang. Bahkan, McLean sempat melakukan “protes” terhadap hasil uji tersebut yang dinilainya terlalu rendah.

Meski begitu, Sidewinder tetap dipilih oleh AL AS menjadi senjata udara jarak dekat andalan. Rudal ini selanjutnya melengkapi penempur F-9F-8 Cougar (Skadron VA-46) dan FJ-3M Fury (Squadron VF-22). Ratusan rib unit rudal Sidewinder telah diproduksi hingga saat ini, dimana 110.000 di antaranya digunakan oleh militer AS.

Generasi awal

Generasi pertama Sidewinder dimulai dengan varian I, IA, dan IB. Ketiga rudal memiliki jarak jangkau tak lebih dari 1,5 mil pada ketinggian sea level. Sidewinder generasi awal ini dilengkapi dengan alat kemudi rolleron sehingga kurang gesit dalam hal manuver. Rudal yang dijual dengan harga 3.000 dolar AS per unit ini juga tidak efektif saat ditembakkan di ketinggian lebih dari 45.000 kaki.

Selain diproduksi oleh AS, Sidewinder generasi pertama juga diproduksi di Jerman melalui lisensi oleh GmbH (BGT). Rudal dengan kode AIM-9B FGW Mod 2 itu digunakan secara luas oleh negara-negara NATO.

Di lingkungan AL AS dan Korps Marinir AS, rudal generasi pertama ini juga digunakan oleh Douglas F-4D Skyray, Vought F8U Crusader, dan Grumman F-11F Tiger. Sementara di AU AS, yang juga turut menggunakan Sidewinder generasi pertama ini adalah Lockheed F-104 Starfighter.

Generasi kedua Sidewinder dimulai dengan varian IC Mod 29 yang kemudian menjadi AIM-9D. Rudal ini dilengkapi sister penjejak yang lebih kuat dan manuver yang lebih bak dari generasi pertama.

Demikian halnya dengan roket pendorong, bila pada generasi pertama menggunakan Thiokol Mk.17, maka pada generasi cedua sudah menggunakan roket Hercules Mk.36. Sekira 1.850 unit generasi kedua rudal ini berhasil dibuat dan termasuk senjata yang digunakan dalam Perang Vietnam.

Generasi ketiga Sidewinder lahir dimulai dengan varian AIM-9L. Penyempurnaan generasi kedua dengan panjang 2,89 meter, bentang sayap 0,64 meter, dan bobot 86 kg ini resmi masuk jajaran dinas militer AS tanin 1976. Pabrik Raytheon dan Ford turut memroduksi rudal ini sebanyak 5.500 unit untuk versi ekspor.

Masih di generasi ketiga namun dengan kemampuan yang lebih, AIM-9M lahir tahun 1982. Dibandingkan rudal-rudal sebelumnya, rudal ini mengeluarkan asap yang lebih sedikit. Rudal juga dilengkapi dengan counter measure yang lebih baik serta kemampuan akselerasi lebih tinggi.

Tahun 1990 AIM-9M ditingkatkan lagi menjadi AIM-9M(R). Dalam generasi ketiga ini muncul juga varian AIM-9M-6/7 dan AIM-9-8/9.

Generasi mutahkhir

US Navy

Kemunculan generasi keempat rudal Sidewinder dipicu oleh banyak hal. Satu di antaranya adalah munculnya rudal sekelas yang menjadi rival Utama dari Uni Soviet, yakni R-73 (AA-11 Archer) di tahun 1986.

Pengembangan AIM-9X selajutnya dimulai tahun 1996 atau satu dekade setelah Archer makin menjadi perbincangan. AIM-9X didanai bareng oleh AL AS dan AU AS dan diharapkan menjadi yang tercanggih di kelas rudal udara ke udara jarak dekat.

AS mengklaim, AIM-9X memiliki kemampuan first-shoot dan first-kill yang lebih responsif dibanding rural-rudal kompetitor. Pengembangan rudal baru ini dikerjakan kontraktor utama Hughes yang saat ini telah melebur ke Raytheon.

AIM-9X dilengkapi thrust vectoring yang terhubung pada guidance-fins rudal sehingga mampu mengejar target yang berbelok sekalipun.

Radius putar AIM-9X mencapai 120 m. Dengan kemampuan ini, saat penembakan, pesawat peluncur tidak lagi harus melakukan manuver untuk menyesuaikan dengan target. Fire and forget, rudal akan mengejar sendiri targetnya.

AIM-9X mulai digunakan di jajaran militer AS sejak 2003. Dalam pengoperasiannya, rudal diintegrasikan dengan Joint Mounted Helmet Mounted Cuing System (JHMCS) buatan Boeing.

Rudal terbaru keluarga Sidewinder pun digunakan melengkapi jajaran pesawat tempur mutakhir, mulai dari F/A-18E/F Super Hornet, F-15E Strike Eagle, F-16 Block 52/60/70 Fighting Falcon/Viper, F-22 Raptor, dan F-35 Lightning II.

Generasi terbaru AIM-9X Block II dalam 14 tahun masa produksinya hingga saat ini, telah digunakan di 40 negara.

Tahun 2015, giliran AD AS yang sukses melakukan uji coba peluncuran AIM-9X Block II. Kali ini bukan dari pesawat, melainkan dari peluncur rudal berbasis truk Multi-Mission Launcher (MML). Sebanyak 15 rudal Sidewinder Block II dapat diluncurkan dari kontainer peluncurnya.

MML merupakan program AD AS, Indirect Fire Protection Capability Increment 2-Intercept (IFPC Inc.2) untuk melindungi pasukan darat dari serangan ruda jelajah maupun ancaman serangan pesawat kombatan tanpa awak. MML akan menjadi pelengkap sistem pertahanan udara AN/TWQ-1 Avenger yang direncanakan akan mulai digunakan tahun 2019.

Ibarat raja sang legenda, AIM-9 Sidewinder mampu membuktikan dirinya melampaui masa yang tidak singkat dan digunakan di berbagai medan pertempuran. Dan, rudal ini masih akan digunakan hingga beberapa puluh tahun ke depan.

Pengembangan AIM-9X Block III kini sedang dilakukan dan akan rampung pada 2022. Rudal ini secara khusus akan melengkapi F-35 Lightning II. (RONI SONTANI | ANGKASAREVIEW.COM)

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

488 views