Wed. Jul 17th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Kejutan di Paris Air Show 2019, IAG Berniat Beli 200 B737 MAX

2 min read
B737 MAX 8Mike Kane/Bloomberg

AIRSPACE REVIEW (AngkasaReview.com) – Pameran kedirgantaraan Paris Air Show (PAS) 2019 ibarat medan mendung yang melingkupi Boeing akibat masalah krusial yang menimpa pesawat andalan terbaru B737 MAX 8.

Boeing dapat dikatakan datang ke pameran bergengsi dua tahunan di negeri Airbus ini dengan perasaan lesu dan jadi pokok sorotan.

Namun, kenyataan memang kadang tak seperti yang dibayangkan. Di hari kedua PAS 2019 Boeing malah mendapat pesanan dari grup penerbangan asal Eropa, International Aviation Group (IAG).

Tak tanggung-tanggung, IAG menyatakan niatnya melalui Letter of Intent (LoI) untuk membeli 200 jet komersial badan sempit MAX pesaing keluarga A320neo dari Airbus ini. Ke 200 pesawat yang akan dibeli IAG terdiri dari seri MAX 8 dan MAX 10.

“Saya sangat percaya kepada Boeing dan begitu pun pada produk MAX. Pesawat ini akan memperkuat armada kami,” ujar CEO IAG Willie Walsh seperti dikutip FlightGlobal (18/6).

Ditambahkan, keputusan tersebut melalui pertimbangan (negosiasi) yang alot. Dia berharap, kesepakatan yang dicapai dengan Boeing akan memberikan hasil yang baik pula bagi kedua belah pihak.

Walsh mengakui, sebelum menetapkan pilihan dirinya tercemaskan oleh dua kecelakaan yang menimpa MAX 8.

Reuters

“Tapi saya katakan, lihatlah masa depan. Pesawat ini adalah pesawat yang bagus.”

B737 MAX ditenagai dua mesin CFM International Leap-1B. Pesanan 200 jet MAX dari IAG akan dipenuhi oleh Boeing pada periode 2023-2027.

Walsh menjelaskan, pesawat ini nantinya akan digunakan oleh sejumlah maskapai termasuk Vueling, Level, dan British Airwyas dari Bandara Gatwick, London ke beberapa tujuan.

Chief Executive Beoing Commercial Airplanes Kevin McAllister menyambut gembira niat IAG untuk membeli 200 armada MAX.

“Ini hari yang sangat spesial. Saya tidak dapat berterima kasih yang cukup atas keputsan Anda memesan keluarga pesawat 737 MAX dan keyakinan terhadap kami,” ujar McAllister kepada Walsh.

Untuk diketahui, sejak musibah B737 MAX 8 kedua yang dialami maskapai Ethiopian Airlines pada Maret lalu, Boeing tidak lagi menerima pesanan terhadap pesawat tersebut. Kecelakaan pertama dialami B737 MAX 8 milik Lion Air pada Oktober 2018.

Jonathan Druion

Pesawat MAX 8 kemudian ramai-ramai di-grounded di sejumlah negara pengguna dan bahkan dilarang terbang oleh pihak regulator.

Investigator kecelakaan menyatakan, dua kecelakaan MAX 8 yang menewaskan 346 orang terindikasi kuat terjadi akibat anomali pada perangkat lunak MCAS (Manoeuvring Characteristics Augmentation System).

Kekacauan pada sistem itu menyebabkan hidung pesawat cenderung menukik dalam penerbangannya, yang apabila tidak dapat teratasi dapat menyebabkan pesawat stall.

Boeing menyatakan telah memperbaiki perangkat lunak MCAS untuk menghilangkan masalah pada pesawat ini. Pihaknya kini sedang menunggu regulator untuk mengizinkan B737 MAX-8 kembali mengudara.

Sebanyak 387 unit keluarga Boeing 737 MAX telah diserahkan Boeing kepada para pemesan dari 5.008 daftar pesanan sebelum kecelakaan kedua MAX 8 terjadi.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *