Wed. Jul 17th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Yang Lain Generasi ke-5, Perancis – Jerman – Spanyol Usung Jet Tempur Generasi ke-6

3 min read
NGFAP

AP

AIRSPACE REVIEW (AngkasaReview.com) – Generasi jet tempur diklasifikasikan oleh Amerika Serikat berdasarkan kapabilitas dan karakteristik pesawat sesuai dengan zamannya.

Bila Paman Sam saat ini baru sampai pada jet tempur generasi kelima dengan produk F-22 dan F-35-nya, maka Perancis, Jerman, dan Spanyol mulai mengusung konsep jet tempur setingkat lebih tinggi, Generasi ke-6.

Bila ditilik dari kepemilikan pesawat tempur di masing-masing angkatan udaranya, Perancis, Jerman, dan Spanyol adalah tiga negara Eropa yang hingga saat ini tidak membeli F-35 buatan Lockheed-Martin dari Amerika Serikat (AS). Masing-masing negara masih mengandalkan jet tempur generasi ke-4 plus, yakni Dassault Rafale dan Eurofighter Typhoon.

Akan tetapi, tanpa mengikuti perkembangan zaman, sudah pasti ketiga negara tersebut bakal tertinggal dan terpinggirkan. Bahkan, di kalangan NATO pun para pilot yang tidak menggunakan F-35 seperti dapat cap penempur lapis kedua.

Jet tempur siluman memiliki keunggulan untuk pertempuran jarak jauh. Ilustrasinya, sebelum kita dapat melihat pesawat musuh, pesawat musuh malah sudah bisa melihat pesawat kita.

Pertempuran melawan “armada hantu” menjadi lebih sulit karena kita tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka, sedangkan mereka secara leluasa dapat melihat gerak-gerik kita.

Berawal dari situlah maka Dassault dan Airbus SE dari Jerman mengajukan proposal gabungan kepada pemerintah masing-masing negara untuk mewujudkan sistem pertempuran udara masa depan, Future Combat Air System (FCAS).

Rancangan wujud dari jet tempur ini yang disebut NGF (Next Generation Fighter) dibuat oleh Dassault sebagai sebuah clean sheet fighter design sejak 40 tahun terakhir saat Dassault merancang Rafale pada awal 1980-an.

NGF
EPA

Tidak tanggung-tanggung, rancangan ini diklaim sebagai desain jet tempur generasi ke-6. Dijadwalkan prototipe pertama akan mengudara pada 2026.

Sebagai tuan rumah pelaksana Paris Air Show 2019, Perancis menempatkan mock-up NGF di tengah-tengah arena pameran statik.

Kain selubung jet siluman ini dibuka pada acara pembukaan PAS 2019 dengan disaksikan oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron, Menteri Angkatan Bersenjata Perancis Florence Parly, Menteri Pertahanan Federal Jerman Ursula Von Der Leyen, Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles, Chairman & CEO Dassault Aviation Eric Trappier, dan CEO Airbus Defence and Space Dirk Hoke.

Spanyol belakangan memang ikut serta mendukung proyek FCAS selain juga sebagai negara di mana Airbus Defence and Space berada. Selain di Jerman dan Spanyol, Airbus juga punya markas di Perancis. Sehingga, kehadiran ketiga perempuan penting ini juga sangat relevan.

Dijadwalkan, fase pengembangan teknologi pesawat demonstrator NGF akan dilaksanakan dalam periode 2019-2021.

Bicara mengenai FCAS sendiri, konsep ini mencakup tiga unsur yakni NGF, Remote Carriers (RC), dan Air Combat Cloud (ACC).

Dua hal terakhir merupakan sistem dari pertempuran modern yang terus dikembangkan oleh Eropa maupun Amerika Serikat. Intinya, armada NGF akan didukung oleh armada pesawat-pesawat tanpa awak (RC) dan sistem kolektif jaringan darat berbasis satelit.

Dalam FCAS, sejumlah pesawat lain seperti pesawat angkut, tanker, AWACS, maupun penempur generasi ke-4 terintegrasi dalam sebuah sistem pertempuran udara. Adapun RC, merupakan pesawat-pesawat semi robotik yang dapat dikendalikan dari NGF dan menjadi pesawat “wingman” yang setia. Kita mengenal bahwa Amerika Serikat pun telah mengembangkan konsep bernama Loyal Wingman.

FCAS juga mengintegrasikan semua jaringan data dan komando dengan unsur tempur darat dan laut.

Tim Dassault dan Airbus akan menyertakan perusahaan lain seperti MBDA Systems, Thales, Safran, MTU dan lainnya dalam mewujudkan pesawat demonstrator NGF. Pararel dengan perancangan pesawat, mesin baru pun sekaligus disiapkan.

Konsep gabungan atas proyek ini sebenarnya telah dimulai pada Januari 2019. Dassault Aviation ditunjuk menjadi pemimpin proyek dalam pembuatan NGF, sedangkan Airbus sebagai pemimpin proyek RC dan ACC.

Dilihat dari sisi tampilan, NGF mengusung kanopi bentuk gelembung dan berkursi tunggal. Pesawat ditenagai dua mesin dan memiliki desain air intake menyerupai F-35. NGF mengusung desain sayap bentuk layang-layang menyerupai X-47B UAV.

IHS Jane’s

Desain lainnya, NGF memiliki satu set sayap penyetabil dengan sudut yang rendah dan terpisah antara penyetabil horizontal dan vertikal. Hal ini dapat membuat pesawat memiliki karakter lebih siluman dari pesawat siluman yang ada.

Dari sisi ukuran, disebut-sebut jet yang mengusung senjata di rak internal ini ini lebih besar sedikit dari Rafale.

NGF menjadi proyek Dassault Aviation yang dikerjakan dengan perusahaan lain seperti Airbus. Kita tahu sebelumnya, tradisi kuat Dassault adalah merancang dan membuat pesawat sendiri. Hal ini terjadi pada Rafale di mana Dassault keluar dari konsorsium Eurofighter saat membuat Eurofighter EF 2000, cikal bakal Eurofighter Typhoon.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *