Fri. Jun 21st, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Proyek Drone Kargo Multiguna ARES Resmi Dibatalkan DARPA, Simak Sosok dan Kemampuannya

3 min read
ARESLockheed Martin

AIRSPACE REVIEW (angkasareview.com) – Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan (DARPA) Pentagon resmi membatalkan program penelitian pengembangan drone kargo multiguna ARES pada awal Mei lalu. Mengutip Flight Global, penghentian disebabkan karena faktor pembengkakan biaya pengembangan serta molornya jadwal dari target yang ditetapkan.

Pengembangan proyek ARES dikerjakan oleh Lockheed Martin sebagai kontraktor utama yang bermitra dengan Piasecki Aircraf. Proyek ini bertujuan mengembangkan pesawat lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL) untuk mengangkut kargo militer di medan perang.

ARES yang merupakan singkatan dari Aerial Reconfigurable Embedded System, memiliki kemampuan untuk mengirim dan mengambil modul muatan yang dapat dilepas (ditinggalkan). Termasuk di antaranya adalah boks kargo, tabung untuk mengevakuasi tentara yang terluka (CASEVAC), juga sensor intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR).

Proyek ARES sendiri diminati oleh Korps Marinir AS (USMC) yang turut mensponsori dana pengembangannya. Wahana akan digunakan untuk mendukung perang ekspedisi. Secara khusus, USMC tertarik pada kargo kendaraan udara tak berawak (UAV) untuk memasok pasukan menggantikan peran konvoi truk yang rentan terhadap penyergapan dan bahaya jebakan ranjau/IED.

ARES
Lockheed Martin

Wahana ARES ditargetkan dapat membawa beban muatan hingga 1.400 kg. Drone juga harus dapat mendarat di lokasi yang tidak dipersiapkan sebelumnya dan bisa dioperasikan dari kapal perang milik USMC. Untuk itu demensi ARES hanya setengah dari heli angkut berawak sekelas UH-60 Black Hawk.

Sistem drone ARES sendiri berupa sayap terbang yang ditenagai sepasang mesin model ducted fan. Pengerjaan digarap oleh Piasecki Aircraf yang memang berpengalaman dalam pengembangan wahana terbang bermesin ducted fan. Mesin dapat diputar miring (tilting) dan posisi horizontal untuk proses tinggal landas/mendarat serta arah vertikal untuk terbang jelajah.

Modul penerbangan akan memiliki sistem daya, bahan bakar, kontrol penerbangan digital dan perintah antarmuka dan kontrol jarak jauh yang dapat terbang secara otonom. Sistem ARES dapat dikontrol menggunakan aplikasi mobile seperti telepon pintar atau komputer jinjing.

Modul ARES memiliki lebar 2,6 m, dengan panel sayap panjang terlipat 9,1 m dan terbentang 13 m. Wahana dengan bobot MTOW 3.200 kg ini ditenagai oleh dua mesin propelar HTS900 buatan Honeywell. Setiap mesinnya dapat menghasilkan daya sebesar 989 hp. Kecepatan jelajahnya di kisaran 310 km/jam, terbang pada ketinggian maksimum 6.100 m, dan radius misi sejauh 282 km.

ARES
Lockheed Martin

Hingga tahap terakhir sebelum dibekukan, Lockheed Martin dan Piasecki Aircraf telah berhasil membangun sebuah purwarupa yang siap terbang. Semula wahana ini direncanakan mengudara perdana pada Juni 2016, namun belum terlaksana. Selanjutnya pada 16 Oktober 2018 penerbangan kembali disiapkan, namun tak ada kabar lanjutan terkait proses ini.

Sejarah pengembangan ARES sendiri berasal dari program Transformer (TX) DARPA yang dimulai tahun 2009. Tujuannya, menghasilkan kendaraan terbang taktis (perkawinan silang mobil dan pesawat) di mana kendaraan dapat terpisah dengan unit pembawanya terbang (drone). Drone bisa pulang kembali ke pangkalan setelah mengantarkan kendaraan taktis ringan berawak empat orang prajurit.

Dalam program TX tersebut proposal desain Lockheed Martin dan perusahaan AAI ditetapkan menjadi finalis pada 2011. Setahun kemudian Lockheed Martin terpilih untuk masuk Fase III pembuatan purwarupa. Namun pada 2013 DARPA mengubah program TX menjadi ARES dengan menghilangkan pengembangan kendaraan taktis dan hanya fokus terhadap drone sebagai pembawa muatan.

Transformer T-X (awal dari ARES). Lockheed Martin

Pembatalan ARES juga dikaitkan dengan beberapa proyek drone kargo yang juga dijalani oleh USMC. Termasuk di antaranya adalah proyek penelitian Joint Tactical Autonomous Aerial Resupply System (JTAARS) dengan Angkatan Darat AS menggunakan dua unit helikopter Kaman K-Max yang dijadikan drone angkut tanpa pilot.  

Di luar itu USMC juga sedang terlibat pengembangan drone multiperan untuk memenuhi persyaratan Gugus Tugas Udara Darat Laut (MAGTF) dalam proyek​​Unmanned Aerial System Experimental (MUX). Salah satu proposal hadir dari Bell Helicopter yang menawarkan drone V-427 Vigilant yang mengadopsi teknologi tilt rotor turunan dari proyek heli angkut masa depan militer AS V-280 Valor.

Rangga Baswara Sawiyya

editor: ron raider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *