Wed. May 15th, 2019

Mendua, Butuh India Tapi Amerika Lakukan Ancaman Terkait Pembelian S-400

3 min read
F-16VUSAF

ANGKASAREVIEW.COM – India merupakan salah satu pasar potensial bagi produk sistem persenjataan Amerika Serikat (AS). Paman Sam melakukan penawaran dan lobi-lobi terhadap Negeri Bollywood agar produknya dibeli New Delhi lebih banyak.

Dibandingkan dengan produk dari negara lain seperti produk Rusia, AS masih kalah jauh menanamkan pengaruh di India.

Angkatan Udara India (IAF) misalnya, selama ini tidak mengoperasikan jet tempur buatan AS dan lebih banyak membeli produk Rusia. India membeli Su-30MKI dalam jumlah ratusan hingga mendapat lisensi untuk memproduksinya di dalam negeri.

Tautan: India Sepakat Borong S-400 Triumf

Jet tempur lainnya yang memperkuat IAF saat ini adalah MiG-21 Bison, MiG-29UPG, Mirage 2000H/I, dan Tejas I. Ditambah pesawat serang SEPECAT Jaguar dan MiG-27.

Di luar jenis pesawat tempur/serang, AS berhasil melobi New Delhi untuk membeli pesawat angkut C-17 Globemaster III untuk Angkatan Udara (sudah diterima 10 unit dan memesan tambahan satu unit) dan P-8I Poseidon untuk Angkatan Laut India (sudah diterima 8 dan membeli tambahan 4).

C-17IAF

Ada pula satu unit pesawat intai B707 dan tiga unit pesawat angkut B737VIP. Sebelumnya, pada 2013 India juga membeli 12 C-130J. Saat ini IAF mengoperasikan 11 unit karena satu unit jatuh.

Meneruskan tawaran tahun lalu yang tertunda, AS melalui Lockheed Martin gencar mempromosikan F-16 Viper untuk Angkatan Udara India.

Tautan: Lockheed Martin Setuju F-16 Dibuat di India

Bahkan rumor berkembang, agar penamaan kode F-16 tidak sama dengan negeri seteru Pakistan, khusus F-16 Viper untuk India kodenya kemudian diubah menjadi F-21. Penamaan ini diumumkan dalam gelaran Aero India di Bangalore pada 20 Februari lalu.

Untuk berjuang di India, AS menghadapi lawan-lawan kuat yang sudah lama bercokol di India dan menjadi sobat India. Utamanya adalah Rusia. Selain Rusia, masih ada Perancis, Israel, maupun Inggris.

ChinookYoutube

Merujuk kebijakan “Make in India”, negara penjual sistem persenjataan harus patuh pada aturan untuk memberikan transfer teknologi, mendirikan fasilitas dukungan di India, mempekerjakan tenaga lokal, hingga penggunaan material yang diproduksi di India.

India sejatinya membuka pintu lebar-lebar kepada AS dalam hal pemasaran produk militer. Yang terbaru misalnya, Angkatan Darat India membeli 15 CH-47F(I) dan sudah menerima empat unit Chinook terbaru buatan Boeing ini.

Tautan: Terima Unit Pertama, Helikopter Chinook Kini Lengkapi Jajaran Kekuatan AU India

Kemudian, masih dari Boeing, kelompok pertama dari 22 AH-64E Apache Guardian yang dibeli New Delhi untuk Angkatan Darat India akan mulai diserahterimakan pada Juli nanti.

Kembali ke F-21, Lockheed Martin jelas punya peluang jet tempur ini untuk dibeli India. F-16 merupakan produk yang sudah sangat terpercaya dengan jumlah produksi terbanyak sepanjang sejarah di era modern, lebih 4.500 unit. Sementara F-16V saat ini adalah produk unggulan termutakhir dari klan F-16.

AH-64E IndiaBoeing

Namun di balik itu semua, AS seperti tak pernah lepas dari dua sisi. Menjual produknya, namun juga memberikan batasan-batasan bagi produk yang dijualnya dan juga kepada negara penggunanya. Terlebih saat ini, AS juga memberlakukan sanksi kepada negara yang membeli produk dari Rusia.

Ini pula yang kini jadi masalah. AS menawarkan produk F-21, namun di sisi yang lain memberikan ancaman kepada India apabila membeli sistem pertahanan udara S-400 Triumf dari Rusia. AS menerapkan kebijakan hukum federal Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

Tautan: Beli Apache dan Chinook, Langkah India Tarik Boeing Bangun Pabrik di Hyderabad

Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Masalah Keamanan Indo Pasifik Randall Schriver dikutip sejumlah media menyatakan, AS ingin memberikan alternatif penjualan sistem pertahanan udara Theater High Altitude Area Defense (THAAD) untuk menggantikan pembelian S-400 oleh India dari Rusia.

Seperti diketahui, India telah menandatangani pembelian lima resimen sishanud S-400 dari Rusia senilai 5,5 miliar dolar AS pada Oktober tahun lalu.

S-400Sergei Bobylev/TASS

Menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan India akan mengabaikan peringatan dari AS mengenai sanksi yang akan diterapkan, Schriver mengatakan bahwa hal itu kurang menguntungkan.

“Hal itu akan menjadi keputusan yang tidak menguntungkan jika New Delhi tetap membeli S-400 dari Rusia,” ujarnya seperti dikutip The EurAsianTimes.

Tautan lain: China Bahagia Bisa Dapatkan Sishanud S-400 Triumf dari Rusia

“Tentu saja kami memiliki undang-undang (CAATSA) terkait hal itu,” lanjut Schriver menghubungkan pada hukuman yang memberlakukan sanksi pada negara-negara yang membeli peralatan militer besar dari Rusia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa sejatinya CAATSA tidak dirancang untuk menjadi penghalang bagi kemitraan strategis yang sedang dibangun oleh AS dan India.

“Ini dirancang untuk membebankan biaya pada Rusia, konsekuensi ke Rusia. Kami ingin mengatasinya karena India adalah kemitraan baru bagi kami,”kata pejabat tinggi Pentagon itu.

Tarik ulur AS ini memberi kesan bahwa AS butuh India, tapi juga tidak mau membiarkan India membeli persenjataan mutakhir dari Rusia. AS memberikan alternatif bagi pengganti S-400, yaitu THAAD buatan Lockheed Martin.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *