Wed. May 22nd, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Update

Brimob, Satuan Taktis Polri Berkemampuan Khusus

3 min read
IG korpsbrimobpolri

ANGKASAREVIEW.COM – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memiliki satuan terlatih Korps Brigade Mobil atau biasa disingkat Brimob. Personel-personel satuan ini dikenal militan dan bahkan dalam sejarahnya menjadi “pasukan tempur” Polri yang kenyang makan asam garam penugasan.

Menjadi bagian kelompok besar pasukan elite di lingkungan Polri (Brimob melahirkan pasukan khusus seperti Gegana dan Densus), menjadikan Brimob selalu hadir di hampir seluruh wilayah terdampak konflik di Indonesia.

Korps Brimob tidak mengenal istilah mundur. Di lingkungan mereka ada sebuah doktrin tempur: Tiada Hari Tanpa Latihan, Sekali Melangkah Pantang Menyerah, Sekali Tampil Harus Berhasil.

Karena itu, tidak heran dalam setiap pelaksanaan tugas operasinya, personel Brimob selalu berupaya keras dengan berbagai cara dan akal merampungkan tugas-tugas secara aman dan tentunya sukses.

Brimob telah hadir di seluruh wilayah konflik yang terjadi di Tanah Air. Baik ketika masih bersama ABRI (sekarang TNI) maupun saat ini ketika Polri sudah dipisahkan dari TNI dan berada langsung di bawah Presiden RI.

Dari Aceh hingga Papua, Brimob dikirim atau ditempatkan untuk menanggulangi konflik berintensitas tinggi yang diprediksi bisa menimbulkan dampak luar biasa.

Di dalam struktrur organisasi Polri, Korps Brimob berada langsung di bawah Kapolri dan dipimpin oleh Komandan Korps Brimob, Perwira Tinggi Polri berpangkat Inspektur Jenderal (bintang dua).

Pasukan pamungkas Polri yang didirikan pada 14 November 1946 ini, merupakan unsur pelaksana utama pusat yang mempunyai spesifikasi tugas berbeda dengan polisi umum.

Perbedaan itu sesungguhnya sudah terlihat dari tampilan Brimob yang lebih mencirikan unit paramiliter. Mulai dari tampilan fisik, seragam, dan kelengkapannya.

BrimobIG korpsbrimobpolri

Namun demikian, meski dibekali senjata berat dan dilatih seperti tentara, toh Korps Brimob tidak melupakan esensi dasarnya sebagai polisi.

Karena itu, dalam setiap tindakan di lapangan Brimob selalu mengedepankan nilai-nilai kepolisian sebelum mengambil tindakan tegas.

Lantaran sesungguhnya, tugas pokok Polri meliputi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), penegakan hukum, serta pemberian perlindungan, pengayoman dan pelayanan sesuai dengan harapan dan tuntutan masyarakat.

Aksi satuan kepolisian ini bisa kita lihat ketika Brimob diturunkan untuk merebut kembali lapangan terbang perintis di Kapeso, Papua yang diduduki kelompok bersenjata.

BrimobIG korpsbrimobpolri

Begitu juga ketika Brimob (Gegana dan Pelopor) bersama Detasemen Khusus 88 menggerebek rumah teroris di sejumlah wilayah di Tanah Air, tindakan persuasif selalu dikedepankan. Biasanya beberapa himbauan melalui pengeras suara dan pemberian ultimatum disampaikan kepada kelompok teroris yang tengah dikepung.

Karena sifatnya kepolisian itulah, Brimob tidak dikerahkan untuk membunuh melainkan melumpuhkan sasaran untuk kemudian ditangkap dan diajukan ke meja persidangan lengkap dengan barang buktinya.

Hingga saat ini Korps Brimob Polri membawahi 34 Satuan Brimob Daerah yang ditempatkan di seluruh wilayah Nusantara. Penempatannya organik di bawah komando Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) dengan pembinaan tetap di bawah Mako Brimob.

IG korpsbrimobpolri

Sejak Polri terpisah dari TNI, Brimob pun telah mengalami sejumlah pembenahan dan perubahan. Sebagai polisi namun bercirikan paramiliter, itulah persoalan yang dari semula mengusik banyak pihak dengan mengatakan bahwa Brimob adalah tentara.

Bahkan, sampai ada nada sumbang yang mengatakan bahwa Brimob merupakan batu sandungan dalam reformasi Polri.

Namun, perubahan harus dilaksanakan meski di awal proses perubahan memberikan beban psikologis di tubuh Brimob.

Pasalnya, keberadaan Brimob sejak dibentuk telah difokuskan pada penegakan hukum terhadap gangguan keamanan berintensitas tinggi yang tidak bisa dilakukan polisi biasa.

BrimobKorpsbrimob

Sehingga, pengadopsian warna militeristiknya juga menjadi suatu kesadaran tersendiri ketika berintergrasi secara formal ke dalam tubuh Polri.

Identitas unik inilah yang kemudian menjadi persoalan ketika Brimob ‘dipaksa’ meninggalkan atribut dan jargon kemiliteran yang telah melekat sejak awal pembentukannya.

Namun proses itu telah berlalu. Kesadaran penuh sebagai polisi telah benar-benar menyatu di tubuh setiap personel Brimob. Seperti motto Brimob terbaru, yaitu: Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan.

A Winardi

 

editor: ron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *