Thu. May 16th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Update

Menyusul Wulung, PUNA Alap-Alap Rancangan BPPT Sudah Siap Diproduksi

2 min read
PUNAAlap-alap/Rangga BS

ANGKASAREVIEW.COM – Lembaga riset Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi (BPPT) kembali menorehkan keberhasilan dalam mendapatkan sertifikasi bagi Pesawat Udara nir Awak (PUNA) buatannya. Dari rilis resmi yang diungkapkan melalui situs bppt.go.id, PUNA atau drone Alap-Alap telah mendapatkan Sertifikat Tipe (TC) dan Sertifikat Kelaikan Udara Militer (COA) dari Puslaik Baranahan Kementerian Pertahanan pada 3 Januari 2019 lalu.

Sobat AR, sebelum mengajukan proses sertifikasi yang memakan waktu hingga tiga bulan tersebut, BPTT telah menjalankan rangkaian uji terbang (termasuk terbang jelajah feri) Alap-Alap seri PA-06D rancangannya. Pesawat yang sama juga telah berhasil beberapa kali melakukan misi pemotretan lewat udara.

Misi pemetaan via udara pertama dilakukan pada Juli 2017, yaitu dengan mengabadikan jalur kereta api jurusan Cirebon-Brebes sejauh 61 km.

Atas permintaan Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB), pada Agustus 2018 BPPT kembali menerbangkan Alap-Alap untuk memantau wilayah terdampak bencana di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Dalam menjalankan misi pemetaan udara, Alap-Alap dapat melakukan pemetaan seluas 1.700 hektar per jamnya. Artinya, dalam setiap misi terbang dengan durasi rata-rata selama 5 jam, maka dapat dipetakan lahan seluas 8.500 hektar oleh PUNA BPPT ini. Misi pemotretan dilakukan pada ketinggian terbang 3.650 m dengan kecepatan terbang antara 100-120 km/jam.

Sebagai kelangkapan operasi, Alap-Alap dilengkapi bola kamera gimbal di bawah perutnya. Kamera khusus untuk pemetaan ini memiliki kemampuan menghasilkan gambar yang jernih (bisa zooming). Gambar video atau foto bisa dikirimkan ke stasiun kendali darat (GCS) secara langsung.

PUNABPPT

Alap-Alap memiliki konfigurasi sayap tinggi dan dilengkapi tiang ekor ganda dengan sirip ekor model V terbalik. PUNA ini digerakkan menggunakan mesin piston model pusher berbahan bakar pertamax. Untuk lepas landas, Alap-alap membutuhkan dataran sepanjang 150-200 km baik berupa aspal, beton, atau tanah keras.

Sobat AR, dengan diperolehnya TC ini berarti Alap-Alap bisa menyusul sang kakak Wulung untuk masuk jalur produksi yang pabrikasinya dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung. Wulung sendiri sebanyak tiga unit telah diakuisisi oleh TNI AU.

Nah, yang mungkin jadi pertanyaan adalah apa perbedaan utama antara Alap-Alap dengan Wulung? BPPT mulai menjalankan program PUNA Alap-Alap tahun 2007 (tiga tahun setelah PUNA Wulung). Wahana ini dirancang sebagai drone jarak dekat, sedangkan Wulung berkemampuan hampir dua kali lipatnya.

PUNAWulung/Rangga BS

Alap-Alap memiliki dimensi rentang sayap 3,2 m dengan MTOW 31 kg. Sedangkan Wulung rentang sayapnya 6,3 m dengan MTOW mencapai 130 kg.

Untuk kemampuan terbang jelajah, Alap-Alap dapat dikendalikan secara manual atau autopilot dengan jangkauan operasi 90-100 km. Sementara Wulung bisa mencapai 200 km.

Seperti halnya Wulung, Alap-Alap dirancang dapat menjalankan misi pengintaian dan pengawasan. Selain ditawarkan untuk kebutuhan militer, Alap-Alap dapat digunakan untuk keperluan sipil. PUNA ini bisa dioperasikan sebagai wahana pemetaan wilayah, pemantauan wilayah akibat bencana alam maupun pengawasan jalur perbatasan.

Rangga Baswara Sawiyya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *