Sat. Jun 15th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Ketua STPI Curug: Pencegahan Kecelakaan Penerbangan Dilakukan dengan Budaya “Building Trust”

2 min read
ATKP MakassarSTPI

ANGKASAREVIEW.COM – Mencegah terjadinya kecelakaan penerbangan dengan belajar dari musibah-musibah yang terjadi, lebih baik dibandingkan dengan menghukum orang yang berbuat kesalahan. Hal ini terjadi karena kecelakaan dalam dunia penerbangan tidak disebabkan akibat faktor tunggal, melainkan karena kontribusi sebuah sistem.

Ketua Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Capt. Novyanto Widadi, S.AP, MM mengatakan hal itu saat menyampaikan kuliah umum tentang Keselamatan Penerbangan yaitu mengenai Basic Safety Culture di Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Kamis (13/12/2018).

Kuliah umum dengan tema “Establishing Foundation for Harmonizing All Transport Levels” ini diikuti oleh seluruh Taruna-taruni ATKP Makassar dan jajaran civitas academica ATKP Makassar. Kegiatan dibuka oleh Direktur ATKP Makassar Agus Susanto, S.H, M.H.

Novyanto menjelaskan, bicara air transport levels terdiri dari berbagai instansi penerbangan mulai dari maskapai, bandara, pusat pemeliharaan pesawat, pabrik pesawat, dan termasuk juga pihak ketiga seperti ground handling. Semua ini, katanya, harus mengimplementasikan Safety Management Systems (SMS) yang diawasi oleh regulator.

Tujuan utama dilaksanakannya SMS berikut implementasinya, adalah agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan panduan pada dokumen dan annexes terkait.

Bicara soal keselamatan, kata Novyanto Widadi, maka bicara mengenai konsep-konsep dasar dari safety. Bahwa traveler atau para pelaku perjalanan/penumpang harus mengetahui kalau safety itu berada di tingkat paling tinggi.

ATKP MakassarSTPI

“Sehingga, di sini perlu ada sosialisasi mengenai keselamatan itu sendiri. Sehingga pandangan masyarakat umum terhadap masalah safety menjadi tidak asing lagi,” ujarnya.

Kemudian, untuk mencapai safety harus bebas dari hazards (bahaya). Aspek perilaku penting dalam hal ini. “Misalnya, di kampus para taruna atau pegawai harus melaksanakan tindakan yang mengarah pada terciptanya safety. Yaitu, dengan cara menghindari kesalahan dan patuh terhadap aturan,” tambah Widadi.

Memang, lanjutnya lagi, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Pasti akan ada celah kelemahan. “Namun kita harus tetap berupaya mengeliminasi dari terjadinya semua kecelakaan, baik itu insiden (incident), insiden serius (serious incident), maupun eksiden (accident). Dengan cara apa? Yaitu dengan mengontrol risiko,” tekannya.

ATKP MakassarSTPI

Safety itu sendiri, ujar Widadi, adalah keadaan dimana risiko terhadap orang atau kerusakan properti dapat dikurangi dan dipertahankan di tingkat paling bawah melalui proses identifikasi bahaya dan manajemen risiko yang berkelanjutan.

Mengurangi kecelakaan dengan belajar dari insiden maupun eksiden yang dilaporkan secara terbuka (Increasing Reporting), lanjut Ketua STPI, lebih baik daripada menghukum orang yang berbuat kesalahan dengan tujuan menghentikan mereka dari melakukan kesalahan di masa depan (Building Trust).

Prinsip mencegah kejadian yang sama terulang kembali dengan menerapkan budaya “No Blame” sejatinya adalah guna mencari akar permasalahan untuk kemudian diketahui penyebabnya. “Bukan mencari siapa yang salah,” pungkasnya.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *