Perempuan Indonesia Ini Taklukkan Mount Everest dengan Cara Terjun Payung

Mount EverestDok. Naila

ANGKASAREVIEW.COM – Mount Everest adalah gunung tertinggi di dunia. Gunung yang terletak di negara Nepal ini menjulang hingga ketinggian 8.848 meter. Tidak sedikit para pendaki profesional berusaha menaklukkan Gunung Everest. Bahkan, beberapa rekor dunia pun dipecahkan di atas gunung ini.

Sir Edmund Hillary dan Tenzig Norgay behasil menjadi manusia pertama yang mencapai puncak Gunung Everest tahun 1953. Setelah itu, pendaki-pendaki lain mulai berlomba-lomba untuk mencapai puncak Everest.

Tidak ketinggalan, para pendaki dari Indonesia pun melakukan hal yang sama. Clara Sumarwati adalah pendaki perempuan pertama Indonesia yang berhasil mendaki Everest tahun 1996. Kemudian disusul oleh tim Kopassus pada 1997.

Alam yang keras dan cuaca yang mudah berubah membuat Everest tercatat sebagai lingkungan paling ekstrem di dunia. Tak sedikit pendaki yang tewas sebelum mencapai puncak. Meski begitu, semakin banyak orang merasa tertantang untuk memecahkan rekor baru dalam pendakian Everest.

Terjun PayungDok Naila

Reinhold Messner, tercatat sebagai manusia pertama yang berhasil mendaki Everest tanpa bantuan tabung oksigen. Kilian Jornet, pendaki asal Spanyol juga berhasil memecahkan rekor sebagai pendaki Everest tercepat di dunia. Ia berhasil mendaki Everest dalam waktu 26 jam.

Tidak hanya mendaki, terjun payung rupanya menjadi salah satu cara untuk memecahkan rekor dari Puncak Everest. Valery Rozov, penerjun asal Rusia menjadi orang pertama yang berhasil mendaki dan melakukan terjun payung dari sisi utara Everest.

Keberhasilan Valery itu, kemudian menginspirasi Naila Novaranti perempuan penerjun asal Indonesia untuk melakukan hal yang sama. Naila pun tercatat sebagai penerjun Indonesia pertama yang terjun dari atas Mount Everest.

Mount EverestDok. Naila

Rekor yang membanggakan ini berhasil diraih Naila pada 16 November 2018 di Nepal. Penerjunan dari atas Gunung Everest sangatlah berbahaya. Angin yang kencang dan cuaca yang sangat mudah berubah menjadi tantangan Naila selama penerjunan.

Naila menceritakan, penerjunan terbagi atas dua sorti. Pada penerjunan pertama Naila membawa dan mengibarkan bendera Indonesia pada ketinggian 8.000 meter. Pada ketinggian tersebut, oksigen sangatlah tipis sehingga dibutuhkan masker oksigen agar penerjun tidak kehilangan kesadaran.

Dibutuhkan pelatihan khusus sebelum melaksanakan terjun dari Everest. Di antaranya adalah teknik pengendalian parasut yang baik mengingat wilayah pendaratan di sekitar Gunung Everst sangat sempit.

Terjun PayungDok. Naila

“Tantangan utama buat saya, adalah mengatasi rasa dingin. Karena ini penerjunan yang sangat tinggi dan berbeda cuacanya dengan di Indonesia,” ujar Naila yang tercatat sebagai pelatih terjun Kopassus ini kepada Angkasa Review.

Selain itu, lanjutnya, terdapat perbedaan jenis parasut yang digunakan saat melaksanakan terjun dari Everest.

“Parasut yang saya gunakan memiliki ukuran yang lebih besar agar stabil saat dikendalikan,” ujar Naila.

Setelah sukses melakukan penerjunan dari atas Mount Everest, Naila pun kini langsung mempersiapkan  diri untuk pemecahan rekor baru sebagai penerjun pertama di Kutub Utara.

(RND)

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!