Belum Ada Kontrak Pembelian C-130J, Lockheed Martin Tunggu Keputusan Indonesia

Super HerculesUSAF

ANGKASAREVIEW.COM – Pabrik pesawat Lockheed Martin yang memproduksi pesawat angkut militer C-130J Super Hercules, menunggu keputusan Indonesia apakah jadi membeli pesawat ini atau tidak. Lockheed Martin akan menyesuaikan dengan spesifikasi yang diinginkan oleh Indonesia bila Indonesia berkeinginan kuat untuk memiliki pesawat terbaru dari seri C-130 ini.

Ditanya mengenai progres dari rencana program akuisisi pesawat angkut militer C-130J untuk TNI Angkatan Udara sebagaimana santer diberitakan media beberapa waktu belakangan, Direktur Pengembangan Bisnis Internasional Air Mobility & Maritime Missions Richard Johnston mengatakan bahwa kontrak untuk pembelian C-130J oleh Indonesia belum ada.

“Ya, sampai sekarang belum ada kontrak ditandatangani,” ujarnya dalam acara media briefing yang diikuti Angkasa Review di pameran Indo Defence 2018 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (7/11/2018).

Pertanyaan lanjutan dari media, seandainya kontrak ditandatangani hari ini, berapa lama Lockheed Martin sanggup menyerahkan pesawat pertama kepada pihak pembeli? “Antara 32-36 bulan atau kurang lebih tiga tahun,” jawab Johnston.

Super HerculesRoni Sontani

Mario E. Magaña dari bagian Pengembangan Bisnis Internasional Lockheed Martin menambahkan, saat ini kapasitas produksi C-130J di Lockheed Martin adalah 24 unit per tahun. Lockheed Martin melakukan pekerjaan untuk menyelesaikan pesanan-pesanan yang sudah ada. “Jadi, ya kurang lebih tiga tahun kami butuhkan waktu untuk membuat C-130J bila Indonesia memesan hari ini,” ujarnya.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna dalam jumpa pers menjelang peringatan HUT TNI AU ke-72 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta pada 7 April lalu, menyatakan tentang rencana penambahan pesawat untuk TNI AU. Salah satunya adalah program penambahan pesawat angkut berat. Dari beberapa pesawat yang dikaji oleh TNI AU, C-130J Super Hercules buatan Lockheed Martin punya peluang yang lebih besar untuk dipilih. “Arahnya kemungkinan besar ke situ,” ujar Yuyu.

Salah satu alasannya, kata KSAU, karena TNI AU sudah tidak asing lagi dengan pesawat C-130 Hercules dan telah menggunakannya sejak tahun 1960-an. Selain itu, apabila memilih pesawat jenis yang baru lagi (pesawat lain) maka dibutuhkan alat peralatan dan sarana yang baru pula.

Beli lima unit C-130J

Super HerculesAntara

Sementara itu, Meteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada 9 September lalu mengatakan, Kementerian Pertahanan berniat membeli pesawat angkut C-130 Hercules sebanyak lima unit dan helikopter Chinook dari Amerika Serikat.

Pembelian pesawat Hercules, kata Ryamizard, karena pesawat Hercules yang dimiliki TNI AU saat ini sebagian sudah tua.

Menhan menambahkan, pembelian pesawat angkut berat adalah untuk mendukung arsitektur pengembangan pertahanan. Terlebih Presiden Joko Widodo mengharapkan adanya regenerasi pesawat angkut berat terbaru.

“Pesawat Hercules yang ada sejak tahun 1960-an. Pak Jokowi juga bilang, pesawatnya sudah tua,” kata Menhan sebagaimana dikutip Gatra.

Menhan Ryamizard telah bertemu dengan Menhan AS James Mattis di Washington beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu berbagai hal dibahas termasuk salah satunya rencana pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan akan membeli pesawat angkut jenis C-130J Super Hercules dari Lockheed Martin dan helikopter angkut Chinook dari Amerika Serikat.

Super HerculesDispenau

Pada kesempatan sebelumnya, 26 April 2018, KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna didampingi Atase Pertahanan RI di Washington D.C Marsma TNI A. Joko Takarianto mengunjungi pabrik Lockheed Martin dan melihat langsung pembuatan pesawat C-130J Super Hercules.

KSAU juga mencoba terbang menggunakan Simulator C-130J pada kunjungannya ke fasilitas Lockheed Martin di Atlanta, Georgia, AS. Kunjungannya tersebut diterima oleh Vice President and General Manager of Air Mobility and Maritime Missions George Shulz.

Dikutip dari siaran pers Dispenau, pada kesempatan itu KSAU mengatakan, sesuai rencana setrategis pembangunan TNI AU Tahun 2015-2019, TNI AU akan melanjutkan pengadaan pesawat angkut untuk kebutuhan operasi. Dan menurutnya, C-130J Super Hercules sangat cocok dengan kondisi Indonesia dan sesuai pula dengan kebutuhan TNI AU.

Super HerculesRoni Sontani

Oleh karena itu, untuk menambah keyakinan kepada kedua negara bahwa TNI AU sangat serius menggunakan alutsista dari Amerika, KSAU yang juga didampingi Asrena KSAU, Dankoharmatau, dan Kadisaeroau melihat langsung pembuatan pesawat C-130J tersebut di pabriknya.

Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) KSAU Marsda TNI Fahru Zaini Isnanto saat dimintai komentarnya oleh Angkasa Review di pameran Indo Defence hari ini, tidak menampik kalau TNI AU menginginkan C-130J.

Permasalahannya, kata dia, anggaran untuk pembelian pesawat ini belum ada. Jadi, ia belum bisa memastikan kapan pembelian akan dilaksanakan. “Ya, kalau pesawatnya cocok. Tapi kan menunggu anggarannya,” ujarnya sambil tersenyum.

Super HerculesRoni Sontani

Dibandingkan dengan C-130H seperti yang dimiliki TNI AU saat ini, C-130J memiliki kapastias angkut lebih besar. Sebagai contoh, bila C-130H hanya mampu mengangkut enam palet kargo, maka C-130J mampu membawa delapan palet.

Untuk angkut pasukan tempur, dari 92 personel pada Hercules bertambah menjadi 128 personel di Super Hercules. Sementara untuk mengangkut pasukan lintas udara (paratroops) meningkat dari 64 personel menjadi 92 personel.

Super Hercules lebih efisien dan lebih mudah dalam perawatannya,” jelas Johnston.

Selain itu, lanjut Johnston, awak kokpit C-130J Super Hercules berjumlah setengah dari kru kokpit C-130 Hercules. “C-130J mengonsumsi bahan bakar lebih irit, terbang lebih cepat, dan terbang lebih tinggi,” pungkasnya.

Roni Sontani

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!