Sun. May 19th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Update

Kepentingan Ekonomi dan Militer Lebih Besar, Arab Saudi ‘Aman’ dari Sanksi AS

2 min read
Amerika SerikatUSAF

ANGKASAREVIEW.COM – Kasus hilangnya wartawan Washington Post, Jamal Khashogi yang diduga dibunuh di Turki oleh “tim pembunuh” dari Arab Saudi, diperkirakan akan berpengaruh besar terkait hubungan militer  AS dan Arab Saudi. Padahal, butuh sejarah panjang bagi Arab Saudi dan AS untuk membangun kerja sama ekonomi dan militer terutama untuk mengeksplorasi ladang-ladang minyak Arab Saudi yang dimulai sejak 1933.

Tidak hanya membangun hubungan ekonomi, AS dan Arab Saudi juga merupakan mitra yang secara gigih melawan ideologi komunis di era Perang Dingin. Ketika 1991 Irak  secara tiba-tiba menyerbu Kuwait, peperangan selain menaikkan harga minyak dunia juga membuat Arab Saudi panik karena Irak diam-diam ingin menginvasi Arab Saudi.

Arab Saudi segera meminta bantuan militer AS yang dalam waktu singkat berhasil mengusir pasukan Irak dari Kuwait sekaligus menjadi bodyguard bagi Arab Saudi.

Dalam perkembangan berikutnya, militer AS bahkan diizinkan untuk membangun pangkalan militer di Arab Saudi. Hingga konflik di Kawasan Teluk berkembang menjadi perang melawan terorisme internasional (2003) yang ditandai invasi militer AS ke Aghanistan dan Irak, pangkalan militer AS di Arab Saudi pun makin bertambah jumlahnya. Hingga kini sedikitnya terdapat lima pangkalan militer AS di Arab Saudi.

Arab Saudi memang membutuhkan kehadiran militer AS untuk bisa membangun perekonomian sekaligus menciptakan stabilitas keamanan. Tidak hanya itu, Arab Saudi juga memborong persenjataan AS yang pada 2017 nilai kontraknya mencapai 110 miliar dolar AS.

Baca: Makin Gahar, Alsalam Arab Saudi Segera ‘Upgrade’ F-15S Jadi F-15SA

Dibandingkan kepemimpinan di era Presiden George Bush dan Barack Obama, nilai penjualan senjata ke Arab Saudi dalam jumlah tertinggi memang terjadi di era Presiden Donlad Trump sekarang ini. Arab Saudi membutuhkan banyak senjata canggih seperti pesawat tempur dan rudal demi menghadapi perang melawan Iran dan pemberontak Houti dukungan Iran di Yaman.

Permusuhan antara Arab Saudi dan Iran sebenarnya sangat menguntungkan AS,  karena membuat militer AS tidak harus berhadapan dengan pasukan Iran secara langsung. Permusuhan Arab Saudi dan Iran bahkan membuat negara kaya minyak ini terus memborong beragam persenjataan canggih dari AS.

Dengan latar belakang hubungan ekonomi dan militer yang begitu lengket itu, AS sebenarnya kebingungan untuk menjatuhkan sanksi militer ke Arab Saudi, misalnya memberlakukan embargo senjata. Pasalnya, jika Arab Saudi sampai membalas dengan cara menutup semua pangkalan militer AS, balasan Arab Saudi jelas tidak sebanding dengan hilangnya nyawa seorang Jamal Khashoggi.  

Oleh karena itu jika Presiden Trump hingga saat ini belum bisa menjatuhkan sanksi, dapat diduga ia sedang menyusun langkah yang menguntungkan bagi pertemanan kedua negara. AS bahkan kemungkinan tidak akan menjatuhkan sanksi apapun kepada Arab Saudi mengingat kepentingan ekonomi dan militernya  yang demikian besar.

A Winardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *