Chunmoo II, Sistem Peluncur Roket Multikaliber Terbaru Besutan Hanwha

Army Recognition

ANGKASAREVIEW.COM – Perusahaan pertahanan asal Korea Selatan, Hanwha Defense Systems menampilkan produk terbarunya berupa wahana peluncur roket multikaliber Chunmoo II dalam pameran pertahanan internasional DX Korea 2018 yang berlangsung di Seoul pada 12 – 16 September.

Sobat Angkasa Review, yang membedakan dengan generasi sebelumnya, Chunmoo II dapat meluncurkan roket balistik jarak pendek generasi baru KTSSM (Korea Tactical Surface-to-Surface Missile) yang sedang dikembangkan oleh Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan (ADD).

KTSSM mulai tampil perdana di hadapan publik saat berlangsungnya pameran ADEX 2017 di Seoul. Misil balistik yang dilengkapi sistem pemandu GPS dan INS (Inertial Navigation System) ini berjangkauan tembak maksimum 120 km. Sistem Chunmoo II sendiri mampu meluncurkan empat misil balistik sekaligus.

Misil berdaya ledak ganas ini awalnya dikembangkan untuk dapat menghancurkan sistema artileri jarak jauh milik Korea Utara bila terjadi perang. Selain itu KTSSM juga digunakan untuk membinasakan sistem rudal balistik bergerak atau yang tertanam dalam silo serta untuk membongkar bunker milik Korea Utara yang tersebar di sepanjang perbatasan kedua negara serumpun tersebut.

Pengembangan Chumoo II oleh Hanwha tak terlepas dari rencana Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan untuk membuat brigade artileri baru di bawah Komando Operasi Pasukan Darat yang akan diresmikan pada Oktober 2018 mendatang. Unit militer baru ini akan diperkuat sistem balistik jarak pendek KTSSM.

Army Recognition

Meski sistem wahana peluncur Chummo II telah siap, dikabarkan pengembangan KTSSM justru mengalami kendala karena Amerika Serikat belum menyetujui pembelian lebih dari 300 komponen terkait termasuk GPS militer. Masalah ini menyebabkan target pengembangan akhir KTSSM molor dari tahun 2019 ke 2023.

Seperti halnya generasi sebelumnya Sobat AR, Chumoo II juga mampu merilis tiga jenis roket dengan kaliber berbeda, yakni roket tanpa pemandu kaliber 130 mm sebanyak 40 tabung berjangkauan 36 km. Kemudian kaliber 277 mm tak berpemandu sebanyak 12 tabung berjangkauan 80 km dan roket kaliber 239 mm berpemandu sebanyak 12 tabung dengan jarak jangkau terjauh mencapai 160 km.

Semua roket dapat dilengkapi hulu ledak berupa HE-FRAG (High-Explosive Fragmentation), pembakar, asap, iluminasi, hulu ledak muatan dengan sub munisi untuk antitank atau fragmen antipersonel. Untuk peluncuran roketnya dapat dilakukan di dalam kabin atau dari jarak jauh dalam waktu yang singkat.

Army Recognition

Sebagai kendaraan pengusung roket, digunakan truk berpenggerak 8X8 yang dikembangkan oleh Hanwha. Kendaraan ini menggunakan mesin diesel berdaya 400 ps dan mampu melaju maksimum 90 km/jam dengan jangkauan operasi sejauh 800 km. Dapat mengatasi tanjakan 60 derajat dan kemiringan 30 derajat serta bisa menyeberangi parit 1,4 m dan genangan air sedalam 1,2 m.

Awak kendaraan terdiri dari tiga orang, yakni pengemudi, komandan, dan operator peluncur rudal yang duduk dalam kabin antipeluru hingga kaliber 7,62 mm dan serpihan munisi artileri. Kabinnya juga terlindung dari ancaman radiasi atau kontaminasi senjata nubika (nuklir, biologi, kimia).

Sobat AR, bicara sang pendahulu, sistem MLRS K239 Chunmoo I sendiri mulai dikembangkan Hanwha tahun 2009 dan memasuki produksi massal sejak tahun 2014. Chunmoo I saat ini telah digunakan oleh Angkatan Darat dan Korps Marinir Korea Selatan. Lebih dari 100 unit sistem ini dipesan untuk menggantikan MLRS K136 Kooryoong yang mulai digunakan tahun 1986.

Rangga Baswara Sawiyya

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *