Mengenal Sistem Kerja Pelatuk Pistol (Bagian 1 – Single Action dan Double Action)

Able Ammo

ANGKASAREVIEW.COM – Dalam dunia senjata genggam (handgun) khususnya pistol, istilah pelatuk (trigger) sudah pasti merupakan terminologi yang sangat umum. Pada dasarnya pelatuk adalah pemicu sebuah mekanisme penembakan yang melibatkan beberapa bagian pistol secara simultan dan saling berhubungan satu sama lain.

Ada beberapa sistem kerja pelatuk yang umumnya dibedakan berdasarkan mekanisme tersebut atau yang lebih dikenal dengan “trigger action”.

Dari sekian banyak tipe senjata genggam, trigger action yang diaplikasikan mengerucut menjadi beberapa jenis, yaitu Single Action (sering disingkat sebagai “SA”), DA/SA (Double Action/Single Action), dan DAO (Double Action Only). Dari ketiganya, sebenarnya masing-masing memiliki sejumlah sub mekanisme tersendiri, dengan perbedaan yang lebih didasarkan pada rancangan pabrikan (sementara secara umum mekanismenya sama).

Mekanisme pelatuk (trigger action) yang paling simpel adalah SA. Pada SA ini,  tindakan mengokang (cocked) diperlukan sebelum tarikan pertama pelatuk (first trigger pull) pistol yang bersangkutan. Barulah setelah dilakukan kokangan, tarikan pelatuk bisa melepas hammer dan proses penembakan pun dimulai. Setelah peluru pertama ditembakkan, hentak balik (recoil) dari slide secara otomatis akan mengokang hammer untuk proses tembakan berikutnya.

Sobat AR, kini sebagian besar pistol bermekanisme SA tak melulu mengandalkan kokangan manual untuk tindakan mengokang ini. Proses pemasukan magasin (inserting the magazine) berisi peluru disertai pengoperasian slide untuk memasukkan peluru teratas pada magasin ke dalam kamar peluru (chamber), sudah secara otomatis merupakan kokangan awal yang diperlukan.

Kelemahan SA adalah prosesnya yang dianggap terlalu makan waktu. Bagi penembak terlatih, proses ini memang sudah menjadi refleks dan bisa dilakukan dengan cepat. Namun, tetap saja dibandingkan mekanisme pelatuk yang kini populer yaitu DA/SA (Double Action/Single Action), maka SA dianggap lebih lambat dan “kuno” kendati tetap saja ada yang fanatik dengan trigger action SA.

DA/SA

Abble Ammo

Bisa dibilang DA/SA merupakan trigger action yang paling banyak diadopsi pabrikan pistol semi otomatis dunia saat ini. Pada mekanisme pelatuk DA/SA, tarikan pelatuk (trigger pull) pistol yang bersangkutan berbeda antara tarikan pertama alias penembakan pertama (first round fired) dengan tarikan pelatuk untuk tembakan berikutnya (subsequent round).

Pada pistol-pistol dengan trigger action DA/SA, bagian trigger itu terkoneksi langsung dengan hammer, sehingga untuk melakukan proses tembakan pertama tak diperlukan kokangan terpisah.

Tarikan pelatuk pertama kali (first trigger pull) lebih berat (beban tarikannya) karena tarikan tersebut sekaligus untuk proses mengokang (sebelum menembak). Tarikan pelatuk inilah yang disebut “double action”, karena dalam proses satu tarikan ini ada dua mekanisme sekaligus yaitu kokangan dan tembakan.

Tarikan pelatuk pada tembakan berikutnya (subsequent trigger pull) lebih ringan karena proses kokangan diambil alih oleh slide selama proses tolak balik (slide cocks the hammer during recoil). Tarikan pelatuk berikut itulah yang disebut sebagai “single action”.

Pada beberapa jenis pistol misalnya Beretta M9, terdapat perangkat hammer-drop safety yang dapat dipakai untuk mengembalikan hammer ke posisi semula, menjadikan pistol kembali lagi ke posisi sebelum tembakan pertama atau bersiap untuk “kembali double action”.

Istimewa

Tentu saja bukan berarti pistol dengan trigger action DA/SA tak dapat dikokang terpisah. Pistol bermekanisme DA/SA dapat dikokang tersendiri (secara manual), atau istilahnya “option to cock the hammer manually before the first round is fired”. Jika kokangan manual (sebelum tembakan pertama) ini dilakukan, maka tarikan pelatuk pertama (first trigger pull) lantas menjadi “single action”.

Banyak pistol semi otomatis yang kini menyediakan fitur “de-cocker”, yaitu untuk mengembalikan pistol yang sudah terkokang ke posisi semula atau untuk balik lagi “double action”.

Sobat AR, kalau ditanya mana yang lebih baik, pistol semi otomatis dengan trigger action SA atau DA/SA, maka jawaban dari para pakar sekalipun akan beragam. Jawaban pertanyaan itu tentu berpulang pada unsur subyektivitas si petembak itu sendiri. Ada petembak yang lebih suka tarikan pelatuk selalu sama, antara tembakan pertama dan seterusnya. Ada pula petembak yang ogah repot harus mengokang dulu pistolnya setiap kali sebelum tembakan pertama, serta tak keberatan dengan tarikan pelatuk pertama yang jadi lebih berat.

Pertanyaan berikut, apakah pengaruh perbedaan beban tarikan pelatuk (seperti pada DA/SA) itu signifikan? Jelas. Salah seorang anggota Perbakin pernah mengungkapkan pada penulis bahwa perbedaan beban “trigger pull” bagi petembak yang belum terbiasa atau jarang berlatih akan sangat berpengaruh pada akurasi tembakan yang dilakukannya.

Antonius Karyanto K

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!