Thu. May 23rd, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Update

Hebat, Iran Produksi Rudal Udara ke Udara Jarak Jauh (BVRAAM) Secara Mandiri

3 min read
Tasnim

ANGKASAREVIEW.COM – Tanggal 23 Juli 2018, Menteri Pertahanan Iran Brigjen Amir Hatami meresmikan produksi massal rudal udara ke udara jarak jauh buatan dalam negeri Iran yang bisa dipasang pada semua pesawat tempur garis depan milik Angkatan Udara Iran (IRIAF).

Proyek pengembangan misil bernama Fakour (dikenal juga sebagai Fakour-90) ini mulai diperkenalkan pada Oktober 2011. Perancangannya menggunakan metode rekayasa terbalik (reverse engineering) berdasar misil AIM-54 Phoenix buatan Hughes Aircraft Co. (kini Raytheon Corp.) dari AS.

Iran memang sangat beralasan untuk mengembangkan rudal ini karena IRIAF adalah satu-satunya operator militer yang masih menerbangkan jet tempur Grumman F-14 Tomcat hingga saat ini. Dan, Tomcat pula satu-satunya pesawat tempur yang dapat mengoperasikan rudal AIM-54 Phoenix.

Semasa Shah Iran (Moḥammad Reza Pahlavi) berkuasa, di kawasan Timur Tengah Iran adalah sekutu terdekat AS selain Israel. Iran bisa mendapatkan beragam alutsista canggih milik Paman Sam kala itu, termasuk 79 unit F-14 Tomcat yang mulai berdatangan pada pertenghan hingga akhir tahun 1970-an.

Di tangan Angkatan Laut AS, rudal AIM-54 mulai dipensiunkan pada 30 September 2004 disusul sang pesawat pengusung F-14 pada 22 September 2006. Selanjutnya Angkatan Laut AS mulai menggunakan jet tempur multiperan Boeing F/A-18 Hornet sebagai pengganti beserta misil AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile) yang juga dibuat oleh Raytheon Corp.

Kembali ke Fakour, misil ini diklaim lebih baik dari pendahulunya AIM-54. Menggunakan sistem pemandu lebih canggih dan berukuran lebih kecil 30% yang artinya bobot rudal akan berkurang dan tersedia ruang lebih untuk propelan tambahan sehingga menambah jangkauan 15% lebih jauh dibanding AIM-54, meningkat dari 190 km menjadi 220 km.

Sepertin halnya AIM-54 Phoenix, Fakour adalah misil yang dipandu radar. Khusus untuk Tomcat, jet tempur bersayap sayung ini bisa membawa sebanyak enam unit. Kombinasi rudal Phoenix dan radar pemandu Tomcat AN/AWG-9 sendiri adalah sistem senjata udara pertama yang secara bersamaan bisa melacak multitarget (24) sekaligus meluncurkan enam misil secara beruntun.

Tasnim

IRIAF sendiri mendapatkan 285 rudal AIM-54 bersamaan ketika mengakuisisi F-14 Tomcat. Sebagai pengguna IRIAF sangatlah puas dengan misil ini, yang mengklaim mendapatkan sukses besar dalam pertempuran udara melawan tetangganya semasa Perang Iran-Iraq tahun 1980 s/d 1988.

IRIAF menyatakan berhasil merontokkan setidaknya 78 pesawat tempur AU Iraq menggunakan misil AIM-54 tersebut. Jet tempur yang dihancurkannya antara lain MiG-21, MiG-23, MiG-25, Mirage F-1 dan Superetandard. Namun demikian klaim Iran ini disangsikan oleh pihak Barat dan disangkal pula oleh AU Iraq.

Berdasar informasi yang dilansir media Barat, hingga tahun 1987 IRIAF masih memiliki stok AIM-54 sebanyak 50 unit yang dinyatakan masih layak guna. Namun memerlukan baterai termal baru untuk mempertahankan usia pakainya. Komponen ini hanya bisa didapatkan dari AS, namun ini tak mungkin karena hubungan mesra kedua negara sudah putus.

Ditengarai Iran mendapatkan baterai tersebut dari pasar gelap yang dibandrol perunit kisaran 10.000 dolar AS. Selain itu Iran juga mendapatkan suku cadang untuk F-14 juga dari AS (bantuan tak resmi) yang sempat terbongkar oleh media Barat, dalam kasus yang dikenal sebagai Skandal Iran Contra. Padahal, masa itu AS dan Sekutu Barat-nya sedang memberlakukan Embargo senjata untuk Iran.

IRIAF

Bisa dibilang AIM-54 adalah misil yang spesial karena diperuntukan hanya untuk satu jenis jet tempur saja. Kemampuannya luar biasa, selain jangkauannya yang jauh, misil ini mampu melejit hingga kecepatan 4.680 km/jam (hampir 4 Mach). Panjangnya 4 m, diameter 38 cm, dan berhulu ledak 61 kg yang dilengkapi sistem kendali semi aktif dan radar homing aktif.

Di eranya, sebagai padanan AIM-54 Phoenix adalah misil R-33 (NATO menjuluki AA-9 Amos) yang sanggup menandinginya. Uni Soviet (kini Rusia) merancangnya untuk digunakan oleh jet buru sergap MiG-25 sebagai senjata untuk merontokkan pesawat intai SR-71 dan pembom supersonik B-1 milik AS.

Sobat setia AR, dengan keberhasilan memproduksi misil Fakour ini, menjadikan Iran masuk dalam jajaran negara pembuat misil udara ke udara jarak jauh yang tergolong dalam misil di luar jangkauan visual misil (BVRAAM/beyond visual range air-to-air missile) secara mandiri di luar AS, Rusia, Uni Eropa dan Cina.

Rangga Baswara Sawiyya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *