Tujuh Generasi Jet Latih TNI AU (Bagian 3 – Era Reformasi)

Rangga Baswara Sawiyya

ANGKASAREVIEW.COM – Sobat Setia AR, sebelumnya telah dikisahkan tiga jet latih TNI AU yang didatangkan pada era kepemimpinan Presiden Sukarno (Orla) dan tiga pesawat jet latihnya yang di akuisisi semasa Presiden Soeharto (Orba). Berikut kisah penutup dari cerita ‘Tujuh Generasi Jet Latih TNI AU’, pesawat yang dibeli semasa era Reformasi pada saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

  1. KAI T-50i Golden Eagle

Jet latih terakhir dan tercanggih yang dimiliki TNI AU saat ini adalah KAI T-50i. Seperti halnya Hawk 109, pesawat berjuluk Golden Eagle ini juga tergolong sebagai pesawat LIFT (Lead-In Fighter Trainer). Jet latih buatan Negeri Ginseng ini didatangkan untuk menggantikan posisi BAE Hawk Mk.53 yang sudah tak lagi terbang sejak 2011.

Kontrak pembelian antara Kemhan RI dengan KAI ditandatangani pada Mei 2011 senilai 400 juta dolar AS untuk 16 pesawat. Sebelumnya, KAI T-50i sendiri berhasil menyingkirkan para pesaing lain yakni Yakovlev Yak-130 Mitten buatan Rusia, Guizhou FTC 2000 dari China, dan Aero L-159 buatan Ceko.

Gelombang pertama KAI T-50i mulai berdatangan ke Tanah Air pada September 2013 dan lengkap satu skadron hingga diserah-terimakan pada 13 Februari 2014 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Acara seremoni penyerahan pesawat dari KAI kepada Kemhan RI, lalu ke Mabes TNI dan ke TNI AU ini dihadiri langsung oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudoyono.

Sebanyak delapan T-50i dilabur dengan warna loreng hijau ala F-16. Sementara delapan lainnya mengenakan seragam biru kuning yang mengingatkan pada tampilan tim aerobatik Elang Biru TNI AU yang menggunakan jet tempur F-16. Untuk Sobat AR perlu ketahui, ke-16 jet latih T-50i ini mendapat kode registrasi sebagai jet tempur taktis (TT) bukan sebagai tempur latih (TL) seperti halnya BAE Hawk 109.

Berjalannya waktu, pada Maret 2017 saat Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menjabat sebagai KSAU (kini Panglima TNI), ia menyatakan T-50i TNI AU akan dikembalikan marwahnya sebagai pesawat tempur sesuai registrasi yang melekat di tubuhnya TT (tempur taktis). Menindaklanjuti hal itu, Kemhan telah mengorder radar multi mode yang ditengarai pilihannya jatuh pada radar AN/APG-67 buatan General Electric dari AS.

Radar AN/APG-67 merupakan jenis radar multi mode X band yang sudah menganut sistem digital koheren dengan pulsa doppler. Radar ini sanggup mendeteksi target lawan yang berada pada posisi sejauh 148 km. Dengan kelengkapan ini, T-50i akan dapat dipersenjatai dengan rudal antipesawat AIM-9 Sidewinder dan rudal udara ke permukaan AGM-65 Maverick plus kanon internal 20 mm bawaannya dengan peluru 205 putaran.

Antara

Saat ini selain sebagai pesawat latih, T-50i juga digunakan sebagai pesawat tempur patroli udara (CAP).  Seperti yang pernah ditugaskan pada tiga jet T-50i yang bermarkas dari Lanud Iswahyudi, Magetan untuk selanjutnya digeser menuju Lanud El Tari, Kupang. Ketiganya digunakan untuk beroperasi mengamankan wilayah perbatasan Indonesia di NTT dalam operasi Kilat Badik 17 dan Operasi Lintas Cenderawasih pada Agustus 2017 silam.

Penempatan sang ‘Elang Emas’ di Lanud El Tari, Kupang dilakukan sementara waktu disesuaikan dengan kebutuhan, dikarenakan lanud yang berada di wilayah Indonesia bagian Timur ini belum memiliki skadron tempur sendiri.

Namun demikian, Mabes TNI AU telah menargetkan pada tahun 2022, satu skadron pesawat tempur tetap sudah bisa ditempatkan di Lanud El Tari untuk menjaga langit Indonesia yang berbatasan langsung dengan wilayah udara Australia.

Sobat setia AR, dalam perjalan kariernya berinas di TNI AU, sebuah T-50i yang terbilang masih anyar telah mengalami musibah pada 20 Desember 2015. Musibah terjadi saat berlangsungnya Jogja Air Show di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.

Jet bernomor registrasi TT-5007 jatuh menghujam bumi saat melakukan atraksi udara solo. Pesawat kehilangan kendali saat bermanuver pada ketinggian rendah. TNI AU dan bangsa ini berduka, harus rela kehilangan dua putra terbaiknya.

RANGGA BASWARA SAWIYYA

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!