Thu. May 23rd, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Update

F-5E/F Tiger II TNI AU, Macan Besi Penjaga NKRI (Bagian 2)

5 min read
Rangga Baswara Sawiyya

ANGKASAREVIEW.COM – Sobat Angkasa Review, seperti telah disebutkan di tulisan bagian pertama, Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi terpilih menjadi skadron tempur TNI AU yang menaungi pesawat buru sergap modern F-5E/F Tiger II buatan Nortrhop Co., Amerika Serikat.

Hal itu tentu saja tak lepas dari pertimbangan bahwa pesawat yang digunakan Skadron Udara 14 yaitu MiG-21F (1962-1970) yang dilanjutkan dengan F-86 Avon Sabre (1974-1980) butuh pengganti dari jenis pesawat tempur buru sergap supersonik. Sesuai tugas dan fungsinya, Skadron Udara 14 yang berada di bawah naungan Wing 300 Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) harus memiliki jet tempur yang mampu berlari cepat di udara guna mengejar sasaran-sasarannya.

Sedikit mengulas soal MiG-21F, jet tempur Uni Soviet paling superior tahun 1960-an itu telah melahirkan sejumlah penerbang tangguh TNI AU. Kelompok pertama penerbang yang mengawaki jet berkecepatan maksimal di atas 2 Mach itu adalah Kapten Udara Sukardi, Letnan Udara I Jahman, Letnan Udara I Sobirin Misbach, dan Letnan Udara I Saputro. Indonesia membeli 24 F-21F dari Uni Soviet yang diberi penomoran ekor F-2151 hingga F-2174.

Mampu mengawaki MiG-21F menjadikan bukti keunggulan kemampuan para penerbang TNI AU. MiG-21F merupakan jet tempur versi tempur kursi tunggal, sedangkan versi latih (tandem) adalah MiG-21U. Namun entah karena pertimbangan apa, banyak negara pemakai MiG-21F tidak mau membeli jenis MiG-21U, termasuk Indonesia. Alhasil, para penerbang MiG-21F TNI AU pun tidak pernah ditemani instruktur sejak pertama kali mereka terbang menggunakan pesawat itu. (The Golden Moment of Tiger 25 Tahun Mengawal Bangsa, Djoko Suyanto – 2005)

Tidak hanya memiliki jet tempur berkecepatan di atas 2 Mach secara teori, penerbang TNI AU pun membuktikan langsung penerbangan MiG-21 dalam kecepatan dua kali kecepatan suara tersebut. Ia adalah Mayor Udara Roesman yang membuktikannya pada 29 Agustus 1962. Roesman terbang dalam kecepatan 2.500 km/jam pada ketinggian 70 ribu kaki menggunakan MiG-21F nomor ekor F-2154 di atas wilayah udara Madiun.

Dok TNI AU

Mampu terbang hingg ketinggian 70.000 kaki (21.336 meter) tentu saja penerbang harus mengenakan pakaian khusus. Maka dari itu para penerbang MiG-21F dilengkapi baju terbang yang disebut ‘pressure suit’ dan bentuknya menyerupai baju selam.

Sayang, era emas MiG-21F sebagai kekuatan TNI AU tidak berlangsung lama, yaitu hanya berjalan kurang lebih satu dekade. Hal itu karena ketiadaan suku cadang pesawat akibat mendapat embargo dari Uni Soviet. Tahun 1970, pesawat penempur tangguh ini pun terkulai lemas tak berdaya di Skdaron Teknik 042 dan tak pernah bisa kembali lagi ke Skadron Udara 14 untuk mengudara.

Dok TNI AU

Menghindari embargo dari Uni Soviet, Indonesia segera mencari pesawat pengganti dari Blok Barat. Namun, memasuki tahun 1971 itu kondisi keuangan negara juga belum memungkinkan Indonesia membeli pesawat baru. Beruntung, melalui pembicaraan intensif antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia tentang kerja sama militer yang sebelumnya membeku, Negeri Kanguru pun bersedia memberikan sumbangan satu skadron pesawat F-86 Avon Sabre.

Hibah tersebut menjadi angin segar bagi TNI AU agar para penerbang tempurnya tetap bisa terbang dan mengasah kemampuan. Tidak hanya memberikan sumbangan, Pemerintah Australia juga menanggung semua biaya proyek, termasuk biaya pendidikan personel pesawat F-86 ini. Untuk menyiapkan proses penerimaan pesawat tersebut, Markas Besar TNI AU pun menetapkan kegiatan persiapan bersandi Operasi Garuda Bangkit untuk penerimaan pesawat tempur F-86 Avon Sabre dari Australia.

Tahun 1973 datanglah 25 pesawat F-86 Avon Sabre bekas pakai Angkatan Udara Australia (RAAF). Dua pesawat mengalami kerusakan di Denpasar, Bali saat pengiriman dari Australia. Satu pesawat bahkan jatuh di landasan. Satu pesawat lagi selanjutnya digunakan untuk mendukung pelajaran kelas. Sementara kedua puluh tiga pesawat F-86 Avon Sabre TNI AU lainnya dioperasikan dan mendapat penomoran ekor F-8601 hingga F-8623.

Sobat Angkasa Review, F-86 Avon Sabre yang digunakan oleh TNI AU bukanlah pesawat produksi Amerika Serikat sebagaimana F-86 Sabre aslinya dibuat oleh pabrikan North American. Melainkan, dibuat oleh Commenwealth Aircraft Corporation (CAC), Australia secara lisensi pada awal 1950-an. Bukan hanya rangka pesawat saja, namun juga dengan mesinnya yang dibuat secara lisensi oleh CAC. Yaitu dari mesin asli General Electric J47-GE-27 diganti dengan Rolls-Royce Avon R.A.7. Oleh karena itu pula F-86 buatan CAC ini sering dijuluki Avon Sabre.

Sama halnya dengan MiG-21F, F-86 hanya berkursi tunggal. Sehingga, para penerbang Avon Sabre TNI AU melaksanakan penerbangan pertama dengan Avon Sabre sekaligus solo flight atau tanpa tidak didampingi instruktur dalam satu pesawat. Instruktur terbang mendampingi siswa menggunakan pesawat lain sebagai chaser.

Sebelum terbang, para penerbang F-86 Avon Sabre TNI AU telah diberikan pelajaran serta disiplin ketat bagaimana mengoperasikan pesawat dan mengatasi keadaan darurat untuk penyelamatan diri. Sebelum itu, mereka juga wajib mengikuti konversi pada pesawat T-33A Bird (T-Bird) sebelum terbang di F-86 Avon Sabre. Sehingga, para penerbang telah punya jam terbang yang cukup di jet latih T-33A.

Dengan pesawat F-86 Avon Sabre, para penerbang TNI AU mampu menunjukkan kepiawaiannya. Hal ini terbukti saat Skadron Udara 14 membentuk tim aerobatik ‘Spirit 78’ yang melegenda dan tampil perdana di hadapan publik pada peringatan HUT ABRI 5 Oktober 1978 di Jakarta. Tim aerobatik Spirit 78 ini terdiri dari Mayor Pnb F.X Suyitno (leader), Mayor Pnb Budihardjo Surono, Kapten Pnb Zeky Ambadar, Kapten Teuku Syahril, Kapten Pnb Suprihadi, dan Lettu Pnb F. Djoko Poerwoko.

Dok TNI AU

Hadirnya armada F-86 Avon Sabre dari Australia yang telah berusia lanjut (buatan 1950-an yang di AU Australia sendiri sudah dicoret penggunaannya dan kemudian digantikan oleh jet Mirage-IIIO), tidak memungkinkan TNI AU untuk mempertahankan F-86 lebih lama lagi. Maka Sobat AR, pada 1978 melalui proyek bersandi Operasi Komodo, TNI AU mulai mencari pesawat pengganti dengan yang lebih modern dan pilihan tersebut jatuh kepada F-5E/F Tiger II buatan Northrop Co., Amerika Serikat.

Operasi Komodo dilaksanakan tidak hanya mencakup perencanaan pembelian pesawat F-5E/F Tiger II, namun termasuk fasiltias pendukung yang dibutuhkan. Sehingga, Lanud Iswahjudi pun mendapatkan fasilitas tambahan dan program renovasi agar layak dipakai oleh pesawat F-5 nantinya.

Peningkatan sarana dan prasarana di antaranya meliputi perpanjangan landasan pesawat 500 meter sehingga menjadi 3.050 meter x 60 meter, pembangunan selter (shelter), pagar elektronik, serta rehabilitasi hanggar dan bangunan.

Selain itu, juga dilaksanakan pembangunan perumahan personel TNI AU (perwira dan bintara), perbaikan tower, pembanungan engine test cell, power check area, swing compass area, arming/dearming area, serta peningkatan kelengkapan-kelengkapan alat bantu navigasi termasuk pemasangan alat navigasi tactical air navigation (Tacan).

Yang paling jelas terlihat, ketika kawanan F-5E/F Tiger II itu datang, sudah tersedia selter pesawat untuk menaungi Sang Macan usai dan sebelum terbang. Tidak seperti zaman MiG-21F di mana pesawat-pesawat yang siap terbang maupun usai terbang dibiarkan menggigil di alam bebas setiap hari, siang dan malam. F-5E/F Tiger II menjadi pesawat pertama di TNI AU yang terlindungi atap shelter di markasnya. (Kepak Sayap Skadron Udara 14 1962-2002 Tentara Langit Pahlawan Hati, Yuyu Sutisna, 2002)

RONI SONTANI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *