Mengenal Panser Rel TNI AD (Bagian 2)

Rangga Baswara

ANGKASAREVIEW.COM – Pada tulisan sebelumnya, Sobat AR sudah mengetahui kalau Belanda memodifikasi panser Braat milik KNIL agar bisa beroperasi di atas rel kereta api menjadi Panser Rel. Panser Rel kemudian digunakan oleh tentara KNIL untuk berpatroli di atas jalur kereta api lintasan Jawa Barat. Beroperasi dari wilayah Cibatu, Sukabumi hingga Garut pulang pergi.

Penggunaan Panser Rel oleh KNIL tak begitu lama, kurang lebih dua tahun hingga tahun 1950 dan kelak diambil-alih oleh TNI.

Pasca-perjuangan melawan agresi militer Belanda, negara Indonesia yang baru terbebas dari penjajahan harus mengalami peperangan lain. Kali ini melawan sesama anak bangsa dengan maraknya pemberontakan di sekujur wilayah tanah air. Salah satunya adalah perlawanan yang dilakukan oleh DII/TII pimpinan Kartosuwiryo yang ingin mewujudkan Negara Islam Indonesia  (NII) yang beroperasi di wilayah Garut, Jawa Barat.

Salah satu upaya makar yang dilakukan oleh gerombolan DI/TII adalah dengan memasang ranjau di lintasan jalur kereta api Jawa Barat antara tahun 1950 -1960-an. Sabotase terhadap perjalanan kereta api penumpang yang pernah dilakukan gerombolan DI/TII terjadi di Gadobangkong wilayah Padalarang pada tahun 1953 yang menyebabkan lokomotif D 2080 dan rangkaiannya terlempar keluar jalur.

Overvalwagen

Untuk mengatasi sabotase tersebut, TNI AD kembali menggunakan Panser Rel tanpa mesin peninggalan Belanda  untuk pengawalan perjalanan kereta api penumpang jurusan Bandung menuju Banjar, Ciamis dari serangan GPK DII/TII. Panser Rel tanpa mesin ini cukup lama dioperasikan, mulai tahun 1955 hingga tahun 1962.

TNI AD juga memanfaatkan ranpur Braat seri 2 peninggalan KNIL lainnya dengan dimodifikasi terlebih dahulu oleh Bengkel Induk Angkatan Darat di Bandung. Dua unit panser Braat berbasis Ford digabung bagian tengah hingga kepala menjadikannya memiliki dua wajah (dua muka).

Berbeda dengan Panser Rel berbasis Braat seri 1 yang tak bermesin, Panser Rel dua muka ini bisa beroperasi sendiri (mandiri) karena dilengkapi sepasang mesin di depan dan belakang. Pemasangan dua mesin ini  beralasan karena Panser Rel tak bisa berjalan mundur layaknya lokomotif kereta api. Kecepatan laju maksimumnya hingga 80 km/jam.

Panser Rel dua muka diawaki oleh tujuh prajurit bersenjata. Digunakan sebagai wahana patroli atau pengawalan kereta api penumpang jurusan Ciawi, Tasikmalaya menuju Cicalengka, Bandung pulang pergi. Seperti halnya Panser Rel tanpa mesin, Panser Rel dua muka dioperasikan oleh Yonkav 4 Kodam III Siliwangi (kini Yonkav 4/Tank) yang bermarkas di Bandung dan beroperasi dari tahun 1955 hingga tahun 1959.

Rangga Baswara

Sobat AR, patroli dan kawalan kedua jenis Panser Rel ini cukup mumpuni mencegah sabotase lanjutan dari gerombolan GPK DII/TII hingga berakhirnya petualangan Kartosuwiryo yang tertangkap pada Juni 1962 di Gunung Geber Majalaya. Bersamaan dengan ini, tunai pula tugas yang diemban kedua Panser Rel hingga akhirnya dipurnabaktikan.

Selanjutnya, untuk mengenang jasanya, kedua Panser Rel veteran ini diabadikan sebagai penghuni museum perjuangan. Panser Rel tak bermesin dipajang di halaman luar Museum Satria Mandala jalan Gatot Subroto, Jakarta. Sedangkan Panser Rel dua muka dipajang di Museum Mandala Wangsit Siliwangi jalan Lembong, Bandung, Jawa Barat.

RANGGA BASWARA SAWIYYA

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *