Wed. May 22nd, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Update

Mengenal Panser Rel TNI AD (Bagian 1)

3 min read
Rangga Baswara

ANGKASAREVIEW.COM – Orang Belanda menyebutnya Overvalwagen. Dalam bahasa Indonesia berarti kendaraan tempur (ranpur). Mulai dibangun KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) pada pertengahan tahun 1940. Ranpur ini dirancang oleh insinyur Luyke Roskott yang berpangkat kapten. Kendaraan ini kemudian diberi nama Overvalwagen Tipe B atau lebih populer disebut ‘Braat’.

Julukan Braat diambil dari nama workshop pembuatnya yakni NV. Braat Machinefabriek yang bergerak dalam bidang jasa pemugaran pabrik, manufaktur jembatan, dan konstruksi baja lainnya (sebagai catatan, pada tahun 1971 perusahaan ini berubah nama menjadi PT. Barata Indonesia).

Akhir 1940, sebanyak 12 varian Braat APC menggelinding dari pabrik NV. Braat dengan dilengkapi senapan mesin sedang Vickers kaliber 7,7 mm. Gelombang pertama Braat tersebut dibangun di atas sasis truk ringan Chevrolet COE-HD (Cab Over Engine-Heavy Duty) berkemudi kanan buatan pabrik mobil General Motors, Amerika Serikat. Pada masa itu pabrik ini telah memiliki fasilitas perakitan di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Braat berbasis truk Chevrolet lebih dikenal sebagai Braat seri 1. Setelah itu lahir Braat seri 2 yang dibangun berdasar sasis truk buatan Ford. Sepintas keduanya memiliki kesamaan tampilan. Yang membedakan adalah penggunaan grill dan potongan ‘pipi’ samping yang lebih lebar pada Braat seri 2.

Rangga Baswara

Baik seri 1 dan seri 2 memiliki ketebalan lapis baja 20 mm pada bagian depan. Sementara sisi samping dan belakang dua lapis 6 mm (double plat) termasuk bagian bawah perut. Berat tempur kendaraan tergantung pada persenjataan dan jumlah awak yang diusung, maksimal 6 metrik ton. Kecepatan maksimumnya 90 km/jam. Sistem penggerak 4×2 dengan kemampuan off-road sangat terbatas terutama pada musim hujan.

Untuk sobat Angkasa Review ketahui, kedua jenis panser Braat tersebut memiliki bak belakang terbuka guna membawa 12 prajurit bersenjata, walau tentunya rentan terhadap lemparan granat atau tembakan dari sudut tinggi. Atap kompartemen komandan juga terbuka. Hanya sopir dan penembak yang duduk di kompartemen semi tertutup dan relatif aman terhadap tembakan senjata kaliber kecil.

Panser Rel

Overwalvagen

Setelah RI memroklamasikan kemerdekaannya, Belanda berusaha bercokol kembali dengan melakukan agresi militer tahun 1947-1948. Pasukan pribumi kembali melakukan perlawanan. Salah satunya memperdaya kereta api milik Dutch East Indies Railroads (DEIR) dengan menanam ranjau di jalur kereta di wilayah Jawa Barat. Menjadi korban di antaranya adalah lokomotif uap bernomor C 2853 dan D 1418 hingga terguling keluar dari lintasan relnya.

Sabotase ini memaksa Belanda memutar otak. Sebagai solusi singkat yang efektif mereka memodifikasi panser Braat milik KNIL agar bisa dioperasikan dari atas rel kereta. Pengerjaan dilakukan oleh workshop DEIR di daerah Manggarai, Batavia (Jakarta).

Untuk meluncur di atas rel diadakan penyesuaian terhadap kaki-kaki dan sistem suspensi Braat. Roda ban pun diganti dengan roda besi kereta. Belanda mejuluki Armoured Railcar ini sebagai Schietwagen (Shooting Wagon). Sementara warga pribumi menyebutnya Panser Rel.

Overwalvagen

Dalam pengoperasiannya, Panser Rel tanpa mesin ini diletakkan di antara bantalan kereta tanpa gerbong (flat car) dan lokomotif uap. Flat car berfungsi sebagai penyerap energi ledakan ranjau yang tergilas roda besi. Diharapkan, lokomotif dan rangkaian gerbong kereta yang ditariknya tetap aman di jalurnya alias tak terpelanting keluar lintasan.

Di atas Panser Rel dimuati tentara bersenjata yang selalu awas terhadap jalur depan rel dari kemungkinan adanya ranjau terpasang. Sementara sebagian lainnya mengawasi keadaan sekeliling di sisi samping kiri dan kanan untuk mengantisipasi adanya serangan dadakan dari para pejuang pribumi.

Panser Rel ini dilengkapi dengan penutup kanvas untuk melindungi awak dari sengatan matahari dan lemparan granat tangan.

RANGGA BASWARA SAWIYYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *