Menilik Kemampuan Skadron Heron 1 Negeri Singa

Roni Sontani

ANGKASAREVIEW.COM – Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) merupakan salah satu angkatan udara terkuat dan tercanggih di kawasan Asia Tenggara bahkan juga di Asia. Walau Singapura merupakan negara berwilayah kecil, modernisasi sistem persenjataan yang dilakukan Negeri Singa tak berpatokan pada luasnya wilayah. Melainkan, lebih bertumpu kepada kepentingan negaranya yang lebih besar.

Selain melengkapi diri dengan pesawat-pesawat militer berawak, AU Singapura yang didirikan tahun 1968 (SADC) dan resmi menyandang nama RSAF sejak 1975 itu juga melengkapi diri dengan sejumlah pesawat tanpa awak (UAV). Heron 1 (IAI) yang dibeli dari Israel adalah salah satu yang termutakhir dimiliki.

Sebelumnya, sejak dekade 1990-an RSAF telah melengkapi diri dengan pesawat tanpa awak. Heron 1 dibeli guna menggantikan peran Searcher (IAI Malat), juga dari Israel, yang mulai dioperasikan RSAF tahun 1994.

Heron 1 dioperasikan oleh Skadron 119 dan Skadron 128 yang berbasis di Murai Camp, Tengah Air Base. Kedua skadron ini bernaung di bawah kendali Komando UAV RSAF yang dibentuk tahun 2007.

Tanggal 15 Maret 2017, merupakan momen di mana Heron 1 RSAF dinyatakan telah mencapai kemampuan operasional penuhnya. Dibutuhkan waktu lima tahun bagi RSAF, sejak Heron 1 diterima pada 2012. Heron 1 kini telah terintegrasi dengan seluruh sistem persenjataan yang dimiliki Angkatan Bersenjata Singapura.

Tidak hanya secara teori, RSAF telah membuktikan kemampuan operasional penuh Heron 1 dalam latihan bertajuk Exercise Forging Sabre 2017 di Phoenix, Arizona. Drone ini membuktikan diri sebagai mata yang tajam bagi sistem persenjataan lain dalam upaya menghancurkan target-target sasaran dengan baik.

Heron 1 menjadi pemberi informasi yang sangat akurat bagi sistem persenjataan udara RSAF seperti jet tempur F-15SG, F-16C/D, maupun heli serang AH-64D dalam skenario peperangan.

Demikian juga, UAV ini sudah terintegrasi dengan high-mobility artillery rocket systems (HIMARS) guna memberi data-data akurat dari target-targaet santapan sistem senjata artileri roket itu.

Heron 1 mampu terbang selama 45-52 jam atau dua hari nonstop dengan ketinggian maksimum mencapai 30.000 kaki (9.100 meter). Robot udara ini juga dilengkapi kemampuan lepas landas dan mendarat secara otomatis.

Resolusi gambar yang dihasilkan Heron 1 sangat tajam dan berwarna serta beresolusi tinggi. Hal ini jelas memberikan keuntungan yang sangat besar bagi personel analis medan pertempuran karena mampu melihat gambar secara tajam termasuk misalnya tank dan sistem senjata lain yang dikerahkan lawan.

MINDEF

Dalam Exercise Forging Sabre tahun lalu, kemampuan Heron 1 diakui langsung oleh pilot f-15SG Kapten Sivaraj Arumugam. Dikatakan olehnya, Heron 1 telah memberikan keuntungan yang besar bagi armada F-15SG dalam melaksanakan misi penyerangan.

“Dengan bantuan Heron 1 kami mampu melaksanakan misi pengeboman sasaran menggunakan banyak bom secara simultan dan akurat serta memangkas waktu operasi lebih singkat,” kata Arumugam.

Di dalam negeri, Heron 1 jadi pengawas negara dari udara untuk hal-hal yang dibutuhkan termasuk misi kontrateroris. Misi operasinya yang senyap telah menjadikan pesawat nirawak ini sebagai intelijen udara yang diandalkan bersama dengan sistem-sistem lainnya.

Bicara mengenai UAV yang dimiliki RSAF, tidak saja Searcher atau Heron 1 yang dimiliki. Skadron 116 misalnya, juga mengoperasikan Hermes 450 (Elbit Sistems) yang berukuran lebih kecil dari Heron 1 dengan kemampuan terbang 14 jam. UAV ini mencapai kemampuan operasi penuhnya pada 2015, delapan tahun setelah diterima RSAF.

UAV lainnya yang juga dimiliki Singapura, adalah Skylark (Elbit Systems) dan Bird-Eye (IAI Malat) yang masuk kategori mini UAV. Ada juga ScanEagle (Boeing Insitu) yang dioperasikan oleh AL Singapura (RSN).

Khusus Searcher, RSAF pernah mengirimkan drone ini ke medan perang Afghanistan sehingga operator pesawat nirawak RSAF memiliki kemampuan riil di medan perang sesungguhnya. Singapura juga mengirimkan tim analis UAV ke Kuwait untuk menambah ilmu pengoperasian pesawat tanpa awaknya.

Kembali ke Heron 1, walau jumlahnya tak dipublikasikan secara pasti, pengoperasian ‘bangau udara’ ini telah membawa RSAF kepada kemampuan intelijen militer serta kemampuan pengawasan udara ke level yang lebih tinggi.

(RON)

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *