100 A320neo Telat Dapat Pasokan Mesin, Airbus Kena Imbasnya

Don-vip

ANGKASAREVIEW.COM – Sebanyak 100 pesawat A320neo yang diproduksi Airbus hingga akhir Juni tahun ini dipastikan telat mendapatkan pasokan mesin. Airbus pun kena imbasnya dan akan telat mengirimkan pesawat-pesawat lorong tunggal bermesin baru itu kepada para pelanggannya.

Presiden Pesawat Komersial Airbus, Guillaume Faury, dalam forum IATA AGM di Sydney, Australia awal pekan ini menyatakan, keterlambatan pengiriman mesin untuk A320neo menyebabkan krisis industri dan kondisi yang tidak bagus. Airbus pun akan mengomunikasikan hal ini dengan para pelanggannya.

“Kami akan coba komunikasikan dengan para pelanggan kami sebaik mungkin,” ujar Faury seperti dikutip AviationWeek.

Meski demikian, Airbus tidak akan mengurangi jumlah produksi A320neo sehubungan dengan adanya keterlambatan pasokan mesin. Ke seratus pesawat tetap akan dikejar penyerahannya pada semester kedua tahun ini. Sehingga, target penyerahan 800 pesawat Airbus tahun 2018 bisa tercapai.

Dari 800 pesawat tersebut, sebanyak 600 di antaranya adalah keluarga A320 (400ceo dan 200neo). Keluarga pesawat A320 memang menjadi mesin uang bagi Airbus seiring pertumbuhan kebutuhan yang besar untuk pesawat kelas ini. Tak heran apabila Airbus menyatakan, bahwa hingga tahun 2023 kapasitas produksi A320 sebenarnya sudah sold out.

A320neo ditenagai dua mesin baru yang lebih efisien. Pilihannya adalah Pratt & Whitney PW1100G dan CFM International LEAP-1A.

Sejak diluncurkan pada 1 Desember 2010, program A320neo mendapat sambutan yang sangat baik. Pesawat yang terbang perdana 25 September 2014 ini telah mendapatkan 6.031 unit pesanan per Maret 2018.

Airbus sendiri baru mengirimkan 318 unit keluarga A320neo kepada para pelanggannya per Mei 2018. Maskapai Lufthansa menjadi launch customer pesawat ini dengan menerima unit pertama A320neo pada 25 Januari 2016.

Airbus menargetkan produksi 70-75 A320neo setiap bulannya. Namun, target ini tampaknya akan sulit tercapai mengingat kapasitas produksi mesin di pabrik pemasok jauh lebih sedikit.

RONI SONTANI

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *