Manila Pilih Mengalah Hadapi Agresivitas Beijing di Laut China Selatan

PAF

ANGKASAREVIEW.COM – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan, dirinya tidak akan mengambil langkah-langkah yang dapat memancing China mengobarkan peperangan. Pernyataan itu disampaikan Duterte menyusul tindakan China mendaratkan pembom strategis jarak jauh H-6K di pulau yang masih dipersengketakan di Laut China Selatan.

“Kalian tahu China punya armada pesawat, tidak saja yang disiagakan di Kepulauan Spartly, tapi juga di provinsi terdekat ke kepulauan itu dan Laut China Selatan. Dengan kemampuan hipersoniknya, mereka dapat menjangkau Manila hanya 7-10 menit saja,” ujar Duterte pada pidato di Cebu hari Sabtu sebagaimana disiarkan dalam keterangan tertulis kepada media oleh staf kepresidenan.

Menghadapi kritikan dari lawan politiknya, Duterte menyatakan bahwa dirinya tidak mau Filipina hancur gara-gara perang pecah.

“Senjata apa yang akan kita gunakan kalau perang meletus? Saya bahkan tidak bisa membeli senapan. Itu pun diberikan kepada saya. Jadi, bagaimana kita mau berperang melawan China? ujarnya seperti dikutip SCMP.

Duterte menegaskan, tidak ada jaminan juga bahwa Amerika Serikat akan berdiri di belakang negara-negara Asia Tenggara jika perang pecah dengan China. Maka dari itu, ujarnya, Manila lebih memilih pendekatan untuk melakukan kerja sama eksplorasi potensi laut dengan China.

Sebelumnya di hari yang sama, Senator Filipina Panfilo Lacson menyerukan agar Pemerintah Filipina mengambil langkah-langkah atas tindakan militerisasi China di kawasasn perairan yang dipersengketakan.

Manila, ujar Lacson, dapat meminta dukungan pihak Sekutu untuk menekan Beijing agar menyudahi perkuatan militer di kawasan itu. Dasar yang dapat digunakan Filipina, tambahnya, adalah putusan Marhkamah Arbitrase PBB yang dimenangi Manila pada Juli 2016.

Dengan radius tempur 3.520 km, pembom strategis H-6K milik China bila ditempatkan di Pangkalan Woody Island, Kepulauan Paracel mampu menjangkau seluruh wilayah di kawasanAsia Tenggara.

Sementara Filipina, dari sisi kekuatan militer masih terbilang sangat minim. Untuk armada tempur udara, misalnya, negeri itu praktis hanya bisa mengandalkan 12 unit penempur/serang ringan FA-20PH yang baru dibeli dari Korea Selatan.

RONI SONTANI

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *