Ramai-ramai Dipensiunkan, Jumbojet 747 Bekas Kini Malah Dicari

iStock

ANGKASAREVIEW.COM – Sejumlah maskapai dunia beberapa waktu lalu telah banyak yang memensiunkan B747 dan mengucapkan selamat tinggal kepada sang jumbojet. Seakan telah sampai pada waktunya, sang “Ratu Angkasa” pun terdepak dari percaturan penerbangan komersial dan sebagian lenyap setelah dibesituakan (scrapped).

Akan tetapi, fenomena baru ternyata muncul belakangan. Sejumlah operator kargo kini malah berlomba-lomba mencari 747 bekas pakai, khususnya yang seri -400 atau B747-400. Pesawat yang sudah mangkrak di parkiran pun ditarik ke hanggar perawatan untuk bisa diterbangkan lagi.

“Permintaan terhadap superjumbo kini meningkat,” kata William Flynn, CEO Atlas Air, operator terbesar 747 freighter dikutip Airliner Watch pada 17 Mei.

Dijelaskan, para operator kargo akan membeli 747-400 freighter yang diproduksi pada kurun 1993-2009. Tetapi, jumlah pesawat ini tidak banyak di pasaran. Sehingga, pilihan lainnya adalah membeli 747-400 bekas pakai dan kemudian dikonversi menjadi freighter.

Air Atlas, perusahaan pengiriman kargo udara, jasa sewa pesawat wet-lease, dan carter pesawat yang ia pimpin pun kini akan menambah lagi sedikitnya enam unit 747-400.

Membeli jumbojet bekas, lanjut Flynn, jadi pilihan yang menguntungkan ketika perusahaan berniat menambah armada pengangkut kargo. Menghidupkan ulang pesawat ini lebih murah ketimbang membeli pesawat baru 747-8 freighter yang dibanderol 403 juta dolar AS per unit.

Contoh perbandingan, tahun 2017 maskapai kargo China, SF Airlines membeli dua 747-400 melalui lelang di internet seharga hanya 50 juta dolar AS per pesawat. Harga ini sangat jauh dibandingkan harga pesawat baru 747-8.

Pesawat kemudian dimasukkan ke hanggar MRO untuk menjalani perawatan berat atau “D-Check”. Biaya yang harus dikeluarkan operator hanya 3 juta dolar AS saja.

Kemudian, utuk mengonversi pesawat komersial 747-400 menjadi pesawat kargo membutuhkan biaya kurang lebih 30 juta dolar AS. Artinya, untuk memiliki sebuah pesawat kargo antarbenua berukuran jumbo, operator hanya perlu mengeluarkan 83 juta dolar AS saja.

Angka tersebut dinilai sangat menguntungkan. Pesawat pun bisa langsung digunakan mengangkut muatan untuk menambah pundi-pundi perusahaan.

RONI SONTANI

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *