Mon. May 27th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Mountain Home AFB, Kampung Para Koboi Sang Elang Penyerang

4 min read
Flickr

ANGKASAREVIEW.COM – Berlokasi di Idaho, Amerika Serikat, Mountain Home AFB adalah satu dari tiga kampung para koboi sang elang penyerang F-15E AU AS (USAF). “Gunfighter Country” demikian julukan bagi Wing Tempur ke-366 (366th Fighter Wing) yang menghuni pangkalan udara ini. Di tempat ini pula, para pilot tempur AU Singapura bermukim dan berlatih menggunakan F-15SG mereka.

Terletak di sebuah gurun dataran tinggi dengan elevasi 2.996 kaki (913 meter) di atas permukaan laut di balik pegunungan di Negara Bagian Idaho, pangkalan udara ini berjarak 20 km dari Mountain Home City atau 65 km dari Boise, ibu kota Idaho. Dua pangkalan lain yang membawahi wing tempur operasional F-15E USAF adalah Seymour Johnson AFB di North Carolina dan RAF Lakenheath di Suffolk, Inggris.

Wing Tempur ke-366 yang menginduk kepada Komando Tempur Udara (Air Combat Command – ACC), merupakan satu dari sepuluh Komando Utama (Major Command – MAJCOM) yang dimiliki AU AS.

Misi dari Wing ke-366 “Gunfighter Country” adalah menyiapkan para penerbang tempur F-15E berikut keluarga mereka dalam melaksanakan misi operasi ke luar negara AS..

Wing Tempur ke-366 membawahi empat grup/kesatuan, yaitu Grup Operasi (366th Operations Group), Grup Pemeliharaan (366th Maintenance Group), Grup Dukungan Misi (366th Mission Support Group), dan Grup Medik (366th Medical Group).

Group Operasi dengan kode MO (kode ini biasa terlihat di ekor pesawat, MO berarti Mountain Home AFB, Idaho) membawahi tiga skadron tempur. Mereka adalah Skadron Tempur 389 (389th Fighter Squadron “Thunderbolts”), Skadron Tempur 391 (391st Fighter Squadron “Bold Tigers”), dan Skadron Tempur 428 (428th Fighter Squadron “Buccaneers”) milik AU Singapura (RSAF) dengan armada F-15SG. Dua skadron pertama kemudian bergabung dan mendapat julukan “T-Bolds”.

Dibangun pada 1940

USAF
USAF

Mountain Home AFB mulai dibangun AS awal tahun 1940-an dan diresmikan penggunaannya sebagai pangkalan udara pesawat pengebom AS pada 7 Agustus 1943. Pesawat pengebom B-24 Liberator adalah yang pertama ditempatkan di pangkalan ini di bawah naungan Grup Pengebom ke-470 (470th Bombardment Group).

Sebenarnya, Mountain Home pada awalnya disiapkan sebagai pangkalan udara untuk diklat para awak pesawat pengebom B-17 Flying Fortress di bawah naungan Grup Pengebom ke396. Namun, sebelum B-17 dikirimkan ke pangkalan udara ini, terjadi perubahan perencanaan di mana Grup Pengebom ke-396 berpindah tempat ke Moses Lake AAF, Washington. Saat itu, AU AS belum terbentuk dan masih berupa kecabangan Penerbangan Angkatan Darat AS.

Dari sisi fasilitas latihan, Mountain Home AFB termasuk memiliki sarana dan prasarana lengkap. Pangkalan udara ini memiliki tempat latihan Mountain Home Range Complex (MHRC) yang meliputi Creek Bombing Range (CBR) dan Juniper Bute Bombing Range (JBBR).

Daerah latihan udara ini tidak memiliki gangguan baik secara vertical maupun horizontal sehingga aman digunakan kapan pun. Tidak salah bila di MH AFB tiap tahun dilaksanakan “Gunfighter Flag”, latihan tempur beragam jenis pesawat dengan skala satu tingkat di bawah Red Flag sekaligus sebagai persiapan menuju ajang pertarungan Red Flag.

Dengan fasilitas yang lengkap tersebut, Mountain Home AFB juga sering kedatangan pesawat lain. Baik untuk melaksanakan latihan maupun pengujian. Tahun 2016, tujuh pesawat F-35A dari Skadron Tempur 61 (61st Fighter Squadron), Luke Air Force Base, Arizona  ditempatkan secara khusus di Mountain Home AFB, Idaho untuk menjalankan beragam uji.

Istimewa
Istimewa

Komandan Mountain Home AFB Kolonel Brian McCarthy sebagaimana diwawancarai majalah Combat Aircraft menyatakan, kedatangan F-35 ke Mountain Home AFB adalah yang ketiga kalinya.

“F-35 datang ke MH AFB tidak hanya untuk memvaliditas pesawat tersebut. Melainkan juga untuk berlatih tempur udara dengan kami. Sehingga, para penerbang muda F-15E kami bisa belajar bagaimana mengintegrasikan kemampuan pesawat tempur generasi kelima dengan penempur generasi keempat,” ujar McCarthy.

Dari situ, lanjutnya, para penerbang AU AS dapat mengembangkan taktik, teknik, dan prosedur (TTP) tempur udara. “Sangat mengagumkan melihat operasional F-35 oleh pilot-pilot USAF yang sebagian besar telah menerbangkan F-15E, F-16, dan A-10,” tambah McCarthy yang mantan Komandan Skadron “Bold Tigers”.

Dijelaskan, F-35 memiliki kelebihan dari sisi elektronik dan kemampuannya melumpuhkan musuh lebih dulu. Sementara F-15E memiliki kelebihan dalam hal kapasitas membawa persenjataan. Dengan mengetahui kelebihan masing-masing, kata McCarthy, AU AS kemudian melakukan integrasi keduanya.

Sebelumnya, kawanan F-35A juga datang dari 31st TES (Test and Evaluation Squadron) Edwards AFB, California. Mereka datang ke MH AFB untuk melaksanakan uji lingkungan operasi di mana F-35 akan melaksanakan serangkaian tes operasi.

Flickr
Flickr

“MH AFB kami pilih karena tempat ini memiliki tempat latihan yang sangat luas dan tidak terganggu. Di sini kami bisa melaksanakan pengeboman juga,” kata Mayor Colin Marshall, Kepala Standardisasi dan Evaluasi Skadron ke-31 TES.

Pengujian dalam rangka mencapai status IOC (Initial Operating Capability) F-35A tersebut, mensyaratkan F-35A harus mampu melaksanakan tiga kunci misi. Yakni: menekan dan menghancurkan kekuatan pertahanan musuh (SEAD), pencegatan udara (air interdiction), dan close air support (CAS).

Suhu ekstrem

Istimewa

Mountain Home AFB memiliki suhu yang ekstrem. Di musim dingin suhu terendah bisa mencapai -28 derajat Celsius, namun di musim panas suhu tertinggi bisa mencapai 48 derajat Celsius. Di komplek militer milik AU AS ini sedikitnya terdapat 1.500 unit rumah bagi para awak pesawat dan keluarganya. Bila satu rumah dihuni tiga orang, maka di Mountain Home AFB terdapat sedikitnya 4.500 orang.

Gunfighter Country, sesuai namanya, mencerminkan sebuah perkampungan para jagoan menggunakan senjata. Wing Tempur Gunfighter Country menjadi andalan AU AS dalam mempersiapkan dan melaksanakan pertempuran di luar negara. Di tempat ini mereka berlatih mengasah kemampuan demi mencapai profesionalisme yang tinggi.

RONI SONTANI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *