Thu. Jun 20th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Updates

Rusia Gelar Latihan Militer Besar-Besaran di Kutub Utara

2 min read
The Independent Barents Observer

Anggota militer Rusia yang bertugas di kawasan Kutub Utara

ANGKASAREVIEW.COM – Rusia berencana menggelar latihan militer di sepanjang wilayah Kutub Utara minggu ini. Jika berhasil, maka inilah latihan pertama di Kutub Utara yang digelar Rusia sejak keruntuhan Uni Soviet.

Menteri pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, berbicara kepada pejabat militer senior di Moskow bahwa dalam latihan itu pihaknya akan mengikutsertakan pesawat anti-kapal selam sebagai pemeran utamanya. Namun ia tidak mengkonfirmasi secara detil kapan latihan akan dilaksanakan.

“Untuk pertama kalinya sejak masa Uni Soviet, latihan militer ini melibatkan pesawat anti-kapal selam yang akan terbang melalui Kutub Utara menuju benua Amerika Utara,” katanya.

Baca juga:

Liburan Luar Biasa di Rusia, Cocok Buat Penggila Militer

Cocok Buat Indonesia, Sistem Pertahanan Pesisir Maut 3K60 Bal Buatan Rusia

“Pembangunan kamp militer yang unik sedang diselesaikan. Wilayah ini dibangun dengan teknologi terbaru di pulau Franz Josef Land dan Kepulauan Novosibirsk.”

Selain Rusia, angkatan laut AS dan Inggris juga direncanakan menggelar latihan besar-besaran di wilayah Lingkaran Arktik. Menurut Inggris, latihan ini memberi kesempatan kepada para awak kapal selam untuk belajar dan mengembangkan keterampilan untuk beroperasi di bawah lapisan es Arktik.

Latihan yang dipimpin Amerika Serikat, yang disebut Latihan 18 (ICEX) itu berkoordinasi dengan Laboratorium Kapal Selam Angkatan Laut AS dan melibatkan HMS Trenchant Inggris serta dua kapal selam Amerika Utara USS Connecticut dan USS Hartford.

Kedua latihan ini menimbulkan kekhawatiran internasional. Pasalnya, latihan dalam skala besar tersebut digelar pada saat ketegangan blok barat-timur meningkat setelah khasus keracunan mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal dan putrinya Yulia Skripal di Inggris.

Rusia sendiri memang telah menggenjot kehadiran militernya secara besar-besaran di wilayah Kutub Utara sejak jatuhnya Soviet pada 1991. Tidak hanya soal jumlah personel, tapi juga soal kemampuan militernya. (IAN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *