Fri. May 24th, 2019

Airspace Review

Aviation & Military Update

Sistem Informasi Geografis Dukung Pertahanan dan Pembangunan Nasional

2 min read
AR

ANGKASAREVIEW.COM – Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographic Information System (GIS) dapat digunakan secara optimal guna mendukung sistem pertahanan dan pembangunan nasional.

SIG mengintegrasikan informasi spasial dengan data-data pendukung yang dibutuhkan sehingga pengguna bisa mendapat informasi yang lengkap mengenai suatu ruang dan kewilayahan.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan dua pertiganya merupakan wilayah lautan, Indonesia membutuhkan suatu pemetaan yang lengkap mengenai penyebaran berbagai sumber daya alam maupun persebaran potensi-potensi kewilayahan dan keruangan.

Dengan menggunakan SIG, peta data kekayaan alam, kewilayahan, dan keruangan dapat dimaksimalkan lebih besar lagi. “Dalam bidang kemaritiman misalnya, kita bisa mendapatkan informasi yang mudah mengenai peta penyebaran kekayaan perikanan serta sumber daya alam mineral,” ujar Dosen Universitas Pertahanan Marsma TNI Dr. A. Adang Supriyadi, S.T. M.M kepada Angkasa Review minggu lalu.

Dicontohkan lebih lanjut, manfaat SIG untuk bidang yang lain, misalnya bidang pertahanan, adalah untuk penentuan lokasi penempatan radar di seluruh Indonesia.

AR

Sementara untuk bidang penerbangan di antaranya adalah untuk penentuan rute penerbangan dan penentuan tata ruang kebandarudaraan. “Sebelum membangun sebuah bandara, kita tentu harus mengetahui terlebih dahulu data mengenai tekstur lahan, kemiringan lahan, luas lokasi yang dibutuhkan, ketinggian obstacle, dan sebagainya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, SIG juga bisa digunakan untuk mendapatkan data-data mengenai daerah rawan bencana alam, sehingga pemerintah dapat mengantisipasi dampak terjadinya kerugian yang ditimbulkan karenanya.

“Dengan SIG kita bisa memantau luas wilayah bencana alam sehingga dapat melakukan upaya pencegahan dampak terjadinya bencana alam tersebut di masa mendatang,” lanjut mantan Kepala Dinas Survei dan Pemetaan Udara TNI AU tersebut usai memberikan kuliah kepada mahasiswa pascasarjana (S-2) Unhan di Sentul, Bogor.

SIG diperkenalkan pertama kali di Ottawa, Kanada pada 1963. Sistem ini kemudian masuk ke Indonesia tahun 1972 dan dikenal dengan nama bank data untuk pembangunan (data bank for development).

SIG membutuhkan tiga perangkat untuk dapat dikembangkan lebih luas. Ketiganya adalah perangkat keras (komputer), perangkat lunak (software), dan manusia (brainware) sebagai operator guna melengkapi data-data yang dibutuhkan. SIG sendiri telah menjadi lahan bisnis yang subur di dunia.

“Di Indonesia, tantangannya adalah bagaimana bisa memanfaatkan SIG ini semaksimal mungkin guna mendukung program pembangunan nasional yang dijalankan oleh pemerintah,” pungkas alumni AAU 1985 tersebut. RONI SONTANI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *