Direktur Flybest Flight Academy Keluhkan Regulator Soal Ab Initio

Flybest

ANGKASAREVIEW.COM – Direktur Flybest Flight Academy, Karin Item, mengeluhkan Kementerian Perhubungan selaku regulator sekolah penerbangan karena terlalu mencampuri persoalan penyerapan lapangan kerja pilot ab initio. Menurutnya, kekhawatiran regulator terkait kondisi surplus pilot di dalam negeri memberikan dampak yang memberatkan nafas industri sekolah penerbangan di Indonesia, khususnya swasta.

Sekolah penerbangan dituntut memberikan program pendidikan yang berkualitas, namun dituturkan Karin bahwasannya kalangan sekolah penerbangan telah mengikuti silabus pendidikan yang sesuai standar organisasi penerbangan sipil internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO).

Ketua Umum Perkumpulan Institusi Pendidikan Penerbangan Indonesia (PIP21) ini juga mengatakan bahwa pihaknya keberatan dengan aturan yang mengharuskan pihak sekolah penerbangan memiliki minimal lima pesawat. Padahal menurut Karin tiga pesawat saja sudah cukup, selama perawatan dan pengaturan terbangnya diatur berdasarkan jadwal yang ketat.

“Ini yang memberatkan kami. Sebab, tidak ada hubungan juga antara jumlah pesawat dengan kualitas pilot yang kami hasilkan,” kata Karin di Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Belum cukup sampai di situ, Karin menilai masalah tersebut belum ditambah dengan terbatasnya lapangan udara sebagai tempat latihan untuk sekolah penerbangan. Menurutnya pemerintah belum berpihak kepada sekolah penerbangan yang menghasilkan pilot-pilot lokal.

“Makanya, kami mau meminta untuk bertemu dengan Pak Menteri Perhubungan, sebab kalau seperti ini, mengancam pilot lokal yang pada akhirnya bisa mengimpor lebih banyak pilot asing bekerja di dalam negeri,” ujarnya.

Terkait dengan kondisi surplus pilot ab initio, Karin menyarankan pemerintah harus menyerahkan penyerapan profesi pilot kepada mekanisme pasar. Menurutnya, jumlah pilot yang menganggur saat ini bukan terletak pada kualitas pilot yang dihasilkan sekolah penerbangan, melainkan kerena masih minimnya daya serap maskapai di dalam negeri terhadap pilot baru.

Masalah lain yang disoroti Karin adalah type rating dan jam terbang ab initio. Ia mengatakan, untuk menjadi seorang pilot pesawat Boeing maupun Airbus dibutuhkan tambahan training di mana pihak maskapai memberikan penanggungan. Namun kini pihak maskapai tidak berani mengeluarkan dana lebih.

Dengan kondisi seperti itu, sebagai solusi Karin menyarankan agar general aviation dikembangkan untuk membantu penyerapan pilot ab initio. FERY SETIAWAN

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *