Lari 7 Km, Resep Stamina Ketua STPI Jungkir Balik di Udara

Dok

Melakuan kegiatan jungkir balik di udara menggunakan pesawat alias terbang aerobatik membutuhkan stamina yang prima. Di dalam kokpit, selain harus mampu mengatur gerakan pesawat pada kecepatan yang tidak konstan dan posisi pesawat yang tidak lazim, pilot akan mengalami perubahan tarikan gravitasi Bumi (G) yang akan menimbulkan gangguan pada tubuh apabila tidak bisa mengatasinya.

Ketua Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Capt. Novyanto Widadi, punya resep tersendiri agar senantiasa fit dalam melakukan aerobatik udara. Ia memilih olah raga lari untuk menunjang hal tersebut.

“Saya membiasakan diri lari, minimal tujuh kilometer. Syukur bisa lebih kalau waktunya cukup,” ujarnya kepada Angkasa Review beberapa waktu lalu. Resep lainnya, adalah mengatur pola makan demi menjaga tekanan darah serta istirahat yang cukup apabila besok akan terbang.

Berbeda dengan pilot pesawat komersial yang bertugas menerbangkan penumpang dengan nyaman dari satu bandara ke bandara lainnya, pilot aerobatik bergelut dengan manuver-manuver ekstrem di udara. Pilot dihadapkan pada perubahan gaya gravitasi dan efek yang ditimbulkannya.

Capt. Teddy H

Untuk diketahui, ketika mengalami gaya G seiring terjadinya peningkatan kecepatan terbang pesawat (akselerasi) atau disebut gravitasi positif (+G), pilot akan mengalami peningkatan beban tubuh beberapa kali lipat sesuai besaran gravitasi yang dialami. Misal pilot mengalami tarikan 5G, maka beban tubuh yang dirasakan adalah lima kali berat tubuh aslinya. Dari 60 kg menjadi 300 kg.

Pada saat mengalami +G, pilot juga akan mengalami sirkulasi darah yang dipaksa mengalir ke bagian bawah tubuh termasuk abdomen (perut). Akibatnya, pasokan darah ke otak dan mata berkurang sehingga pada kondisi yang tidak terkendali bisa menyebabkan hipoksia (kekurangan pasokan oksigen), grey-out (penglihatan menjadi kabur keabu-abuan), black-out (penglihatan menjadi kabur kehitaman), dan bahkan bisa mengalami kehilangan kesadaran atau G-LOC (Gravity induced Loss of Consciousness).

Sementara ketika pilot mengalami gravitasi negatif (-G) seiring terjadinya pengurangan kecepatan terbang (deselerasi), maka yang dirasakan pilot adalah timbulnya sirkulasi darah yang tiba-tiba dipaksa mengalir ke tubuh bagian atas termasuk kepala. Hal ini akan menimbulkan hiperemia atau berkumpulnya darah di bagian tertentu. Bila di kepala maka kepala pun akan terasa berat dan sakit.

Hiperemia di kepala juga akan menyebabkan mata menjadi merah dan penglihatan menjadi kabur kemerahan (red-out). Pada kondisi yang terlalu lama mengalami hal itu, pilot bisa mengalami kehilangan kesadaran.

Untuk itulah, para penerbang tempur maupun para pilot tim aerobatik, dilengkapi dengan pakaian antigravitasi (G-Suit) guna mencegah efek G. Terlebih karena mereka melakukan kegiatannya secara kontinyu dan berulang-ulang.

STPI

Dalam penyelenggaraan Bandung Air Show 2017 di Lanud Husein Sastranegara, Ketua STPI Curug berkesempatan menampilkan penerbangan aerobatik dengan 11 manuver menggunakan pesawat Super Decathlon. Pesawat buatan pabrik American Champion Aircraft, Amerika Serikat ini mampu terbang dengan limit +6G/-5G.

Ketua STPI tampil dua kali di hari pembukaan dan hari kedua pada 9-10 November 2017. Sementara pada dua hari berikutnnya ia berhalangan karena harus pergi ke Tasikmalaya untuk menyeleksi calon taruna penerbang STPI dari lingkungan pesantren.

Ada satu hal yang menggugah Novyanto melakukan terbang aerobatik. Selain karena hobi, ia juga ingin menginspirasi generasi muda untuk menekuni profesi ini. “Indonesia ini besar, pilot juga banyak. Tapi menjadi pilot aerobatik sepertinya belum menjadi pilihan bagi kebanyakan orang di negeri ini,” ujarnya. RONI SONTANI | ANGKASAREVIEW.COM | LANGIT BIRU 

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!