Rusia Perlihatkan Torpedo Udara Antikapal Selam Terbaru

APR-3ME | Navy Recognition

ANGKASAREVIEW.COM – Rusia memperlihatkan produk terbaru torpedo udara antikapal selam, APR-3ME Grif. Torpedo yang dibuat oleh JSC Region State Research and Production Enterprise, anak perusahaan Tactical Missiles Corporation (TMC) ini merupakan versi modern dari APR-3E.

Kantor berita TASS menulis, APR-3ME yang dipajang di stan pameran kedirgantaraan MAKS 2017 itu didesain dapat menghancurkan kapal selam dari udara hingga kedalaman 800 meter di bawah permukaan laut. Senjata udara ini dapat menyasar kapal selam yang melaju pada kecepatan maksimal hingga 80 km/jam.

Dibanding pendahulunya, APR-3ME memiliki diameter badan yang sama, yakni 350mm (35 cm). Tetapi bobotnya lebih ringan, yakni 470 kg (dari 525 kg) dan panjang 3.250 mm (dari 3.685 mm). Kedua torpedo udara ini masuk katagori airborne light ASW atau torpedo udara ringan antikapal selam.

APR-3ME dapat diluncurkan dari udara menggunakan pesawat maupun helikopter antikapal selam. Di Rusia di antaranya untuk melengkapi Tu-142, Il-38, dan Ka-28.

Sesaat setelah diluncurkan ketika torpedo masuk ke dalam laut, bilah kemudi APR-3ME memungkinkan torpedo tersebut melakukan laju putar (spiral path) dengan senyap tanpa menghidupkan mesin dan hanya mengandalkan gravitasi bumi.

Sistem pencari suara (acoustic seeker) dari torpedo selanjutkan akan mencari sasaran yang dituju. Pada APR-3E misalnya, radius lokasi sasaran yang dapat dipincai mencapai 1-1,5 km.

Setelah sasaran berhasil ditemukan, torpedo secara otomatis akan menghidupkan mesin turbo-waterjet berbahan bakar propelan padatnya. Tidak berapa lama sasaran pun hancur digasak.

Torpedo udara dari Sopwith Cuckoo | Wikipedia

Aerial torpedo, airborne torpedo, atau air-dropped torpedo, merupakan senjata udara yang dikembangkan untuk menghancurkan sasaran-sasaran di bawah permukaan laut. Jenis senjata ini pertama kali digunakan dalam Perang Dunia I dan sangat masif digunakan pada era Perang Dunia II. Torpedo udara memiliki dimensi lebih kecil dan lebih ringan bila dibandingkan dengan torpedo lain yang diluncurkan dari kapal selam maupun kapal permukaan.

Awalnya, torpedo udara berupa bom yang dijatuhkan lepas bebas (flying bomb). Ide pertama menciptakan torpedo udara muncul dari perwira Angkatan Laut Amerika Serikat Bradley Allen Fiske (1854-1942) tahun 2010. Fiske merupakan perwira teknik yang cemerlang lulusan dari Akademi AL AS. Ia pensiun dengan pangkat real admiral (laksamana muda).

Seiring perkembangan zaman dengan munculnya rudal-rudal modern, pamor torpedo udara sedikit tergerus. Tidak dapat dipungkiri, rudal-rudal modern dapat diluncurkan dari jarak jauh maupun ketinggian yang jauh pula. Kecepatan lesat rudal pun sangat tinggi, bahkan kini telah masuk pada tataran hipersonik.

Meski begitu, setiap senjata tentu ada kekurangan dan kelebihannya. Makin canggih senjata, makin mahal pula harganya.

Penggunaan senjata tidak terlepas dari biaya operasional, platform wahana peluncur, dan efektivitas serta efisiensi penggunaanya. Torpedo udara tetap punya tempat tersendiri, dan umumnya digunakan untuk melengkapi pesawat-pesawat patroli maritim.

RONI SONTANI

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!